Rabu, 02 Juni 2010

Halloween, Tradisi Jahiliyah

Menjelang tanggal 31 Oktober, perayaan Halloween hadir dengan simbol buah labu diukir yang diberi lampu. Orang-orang merayakannya dengan memakai kostum beraneka warna. Ada yang memakai baju bajak laut, baju nenek sihir, baju zombie, dll. Intinya semua berusaha tampil beda dengan kostum dari negeri antah berantah. Anak-anak pun pergi ke rumah-rumah tetangga untuk minta permen. Kalau gak diberi maka jendela atau rumahnya bakal diusili dengan dicoret-coret pakai sabun. Wah….benar-benar tindakan yang tidak sopan.

Memang sih, perayaan Halloween di Indonesia tidak seheboh hari Valentine. Tapi tetap saja, tradisi barat yang sangat tidak sesuai dengan Islam itu kini ternyata mulai diadopsi oleh banyak remaja muslim. Biasanya yang berusaha mengadopsinya ini adalah para mahasiswa/i jurusan bahasa asing, siswa-siswi yang kursus bahasa di lembaga yang banyak ‘bule’nya, atau bisa juga bukan mahasiswa bahasa dan juga bukan siswa kursus bahasa asing, tapi cuma ikut-ikutan aja.

Ini nih yang bahaya. Latah sekedar ikut-ikutan tanpa tahu makna dari perbuatan tersebut. Dulu ada teman yang ngotot mau menyelenggarakan perayaan Halloween di kampus. Alasannya biar semakin tahu dan meresapi budaya barat karena bahasanya pun bahasa barat alias Inggris. Wah….saya menentang habis-habisan tuh. Yang namanya belajar bahasa Inggris memang belajar budayanya juga. Tapi belajar budaya Inggris tidak sama dengan ikut-ikutan bin latah terhadap budayanya. Ini jelas-jelas dua hal yang berbeda.

ada teman yang ngotot mau menyelenggarakan perayaan Halloween di kampus. Alasannya biar semakin tahu dan meresapi budaya barat karena bahasanya pun bahasa barat

Sebagai umat Islam, seharusnya kita menyandarkan semuanya pada Islam. Ketika belajar bahasa Inggris, niatkan tujuan itu adalah untuk kejayaan Islam, bukan sebaliknya. Gak asyik banget kalo belajar bahasa Inggris, eh malah latah ikut perayaan semacam Halloween, Christmas/natal, atau bahkan Valentine. Ih…enggak banget gitu loh.

Supaya kamu tak mudah diperdaya oleh mereka yang tergila-gila dengan budaya barat yang jahiliyah, kamu perlu tahu sejarah perayaan Halloween ini. Halloween ini berasal dari kebudayaan paganisme yaitu suatu kepercayaan kuno penyembah berhala. Tradisi ini kemudian diturunkan pada agama Kristen yang sudah tidak murni lagi sebagaimana dibawa oleh Nabi Isa as.

Halloween adalah tradisi orang Kelt (Irlandia) zaman kuno. Tanggal 31 Oktober ini bertepatan dengan berakhirnya musim panen. Tanggal ini juga diyakini bahwa pembatas antara orang mati dan hidup menjadi terbuka. Orang mati dianggap membawa penyakit dan merusak hasil panen. Jadilah orang-orang itu memakai baju menyerupai arwah-arwah untuk berdamai agar tidak diganggu lagi.

Ternyata, budaya barat yang selama ini dipuja oleh orang yang berpikiran sempit itu penuh dengan klenik dan khurafat yang gak masuk akal ya? Nah, masa iya yang kayak gini kamu mau ikut-ikutan? Kebangetan betul kalo iya. Ingat, semua perbuatan sekecil apa pun itu ada pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Jadi hati-hati kamu terpedaya oleh budaya jahiliyah semacam Halloween ini. Udah, bangga aja deh jadi remaja muslim dengan segala aturan Islam di dalamnya. Dijamin selamat dunia akhirat, insya Allah ^_^

CBSA: Cinta Bersemi Sesama Aktivis

Seorang akhwat tertunduk malu. Ia merenungi dirinya yang kini sedang merasakan hal yang tidak biasa di hatinya. Terutama bila ia mendengar namanya, atau teringat wajahnya, atau hanya sekadar terlintas tentang dirinya. Ia sebenarnya menduga-duga, apakah ini sebuah rasa yang selama ini ditolaknya? Selama ini memang ia dikenal makhluk tanpa cinta. Sikapnya keras, tegas dan tanpa ampun bila berhadapan dengan sosok bernama pria. Ia bahkan relatif 'bengis' bila harus membicarakan sosok berjenggot dan berkopiah itu. Baginya, pria hanya perlu dibicarakan bila nanti sudah akan menikah. Karena kini ia masih sendiri, maka tak perlu membahasnya terlalu dini.

Namun, tidak diduga, tidak pula dinyana. Perasaan itu menyerang tiba-tiba. Ia tidak mengundangnya, tapi seolah hatinya tidak bisa menolaknya. Semakin ia tolak, semakin gencar perasaan itu menyerang. Awalnya padahal hanya soal-soal sederhana. Soal dia yang selalu menghubungi dengan kata manis dan nasihat agamis. Soal dia yang selama ini selalu memberi komentar dalam setiap status facebooknya. Soal dia yang selalu bertanya kabar kepada temannya, saat si akhwat tidak hadir di rapat kerja. Pfffhh…awal-awal yang sederhana itu secara kompak dan meyakinkan telah membuat hatinya gundah gulana.

Tak cukup itu, wajah si pria yang selama ini ia hindari, ternyata justru nempel di hati tak mau pergi. Terbayang senyumnya, terbayang suara tawanya, dan mungkin terbayang cara dia bicara dan sikap biasanya itu. Semua bayangan itu menteror diri setiap hari, setiap jam dan setiap detik menghampiri.

Segala vitamin, suplemen hati dan beraneka cara antisipasi sudah dilakukan. Kajian, taklim, bedah buku, konsultasi sudah dilakukan. Tapi hasilnya nihil. Semua itu tidak mempan. Hanya karena dia pernah sekali memberi kesempatan. Hanya karena dia pernah sesekali memberinya peluang dan harapan. Namun ternyata tindakan yang sesekali itu berakibat fatal. Hatinya tertawan, pikirannya terbelenggu oleh makhluk berjenis kelamin ikhwan.

Oh, kepada siapa kini mengadu. Saat hati bertalu-talu pilu. Konsentrasi buyar pecah mengambang. Pandangan kabur, tak setajam ingatan akan dia. Gundah, gelisah, dan resah dan takut. Takut kehilangan, takut ini sebuah kesalahan, tapi tak tahu harus bagaimana menyudahi segalanya.

Sebenarnya sederhana saja, obat cinta adalah menghilangkan penyebabnya. Kalau penyebabnya si pria yang berwajah tak berdosa itu, maka dia harus dihilangkan dari dirinya. Dijauhkan bayangannya, dihindari pertemuan dengannya, dan dikurangi intensitas interaksi dengan si dia. Apakah itu saja cukup?

Bisa iya, bisa juga tidak. Kalau memang rasa itu baru sebatas simpatik dan naksir belaka, maka boleh jadi semua itu akan kembali normal. Apalagi bila kemudian kita tahu kelemahan dan kecatatan akhlaknya. Kita akan segera sadar bahwa cinta kita telah terbelah. Cinta Allah berkurang, dan beralih kepada si pria yang bercambang.

Tapi bila cinta itu sudah cinta sejati hingga ke dasar hati. Maka penyelesaiannya bisa sangat panjang. Obatnya bisa sangat mahal. Kalau tidak segera dinikahkan, maka akan menjadi penyesalan yang sangat berat di angan. Akan dibawa hingga ke kehidupan di masa depan. Meski tidak memiliki, namun bayangan dia akan selalu menghampiri. Nah, inilah yang selama ini kita khawatirkan.

Inilah CBSA, Cinta Bersemi Sesama Aktivis. Cinta yang selama ini mungkin sebaiknya tidak terjadi sporadis. Terjadi hanya karena kedekatan yang berlebihan, komunikasi yang terlalu sering, dan godaan-godaan yang melenakan. Seharusnya aktivis lebih giat bekerja untuk islam. Tetapi ternyata ujian lawan jenis sudah terbukti ampuh mengkandaskan niat mulia mereka. Fokus mereka berubah, dari umat menjadi akhwat. Dari masyarakat menjadi sebatas mencari pendamping dunia akhirat.

Tulisan ini hanya sekadar introspeksi untuk hati. Setelah sekian lama kita tidak menggubris soal hal ini. Sudah saatnya gerakan islam bangkit dari diri yang selalu berevaluasi. Mungkin pernah sekali, atau dua kali atau bahkan tiga kali kamu merasakan jenis cinta ini. Namun setelah membaca tulisan ini, plis...jangan dilanjutkan lagi.

Jejaring Sosial Bikin Orang Jadi Kurang Cerdas

Seorang ahli dalam masalah ingatan mengatakan, sebagian jejaring sosial dapat membuat orang jadi kurang cerdas, sementara yang lain dapat meningkatkan kemampuan orang untuk mengingat banyak hal, demikian laporan pers baru-baru ini.

Dr. Tracy Alloway, psikolog di Stirling University, mengatakan, beberapa jejaring, seperti Facebook, sesungguhnya mungkin meningkatkan daya kerja ingatan karena semua jejaring tersebut mengharuskan orang menyimpan banyak informasi di dalam kepala mereka.

Namun wanita ahli ilmu jiwa itu menyatakan fenomena seperti Twitter malah mungkin mengurangi kemampuan orang untuk mengingat banyak hal.

"Twitter dapat menimbulkan bahaya karena jejaring tersebut menghasilkan arus informasi setiap detik sementara orang tak memiliki peluang untuk memproses atau memanipulasi informasi itu," kata Alloway seperti dikutip AFP.

Ia juga menyalahkan "tirani teknologi" yang telah mengurangi kebutuhan orang untuk mengingat banyak hal. Hubungan cepat pada telefon genggam berarti tak banyak perlu terikat komitmen untuk mengingat angka. Dan ia mengatakan menonton televisi juga meningkatkan resiko sindrom defisit perhatian.

Namun, ia mengatakan ada cara untuk meningkatkan kemampuan seseorang untuk mengingat informasi.

"Tak peduli apakah ibu anda meninggalkan sekolah pada usia 15 atau meraih PhD, itu adalah tingkat ladang permainan. Bukan hanya daya kerja ingatan memiliki dampak besar pada setiap aspek kehidupan pekerjaan kita tapi sekarang ada bukti yang menggairahkan bahwa kita dapat melatih dan meningkatnya," kata Dr. Alloway, yang telah menemukan permainan on-line yang dapat meningkatkan daya kerja ingatan.

Dr. Alloway menyatakan itu mungkin membantu generasi muda mengembangkan ketrampilan daya kerja ingatan serta membantu memerangi hilangnya ingatan pada diri orang yang berusia lanjut. [voa-islam/ant]