Jumat, 02 Juli 2010

Pentingnya menjaga waktu

Inilah nasehat berharga dari para ulama kita. Sungguh di zaman ini, kita akan melihat banyak orang yang menyia-nyiakan waktu dan umurnya dengan sia-sia. Kebanyakan kita saat ini hanya mengisi waktu dengan maksiat, lalai dari ketaatan dan ibadah, dan gemar melakukan hal yang sia-sia yang membuat lalai dari mengingat Allah. Padahal kehidupan di dunia ini adalah kehidupan yang sangat singkat, tetapi kebanyakan kita lalai memanfaatkan waktu yang telah Allah berikan. Pada tulisan kali ini, kami akan menyajikan perkataan-perkataan ulama terdahulu mengenai pentingnya menjaga waktu. Semoga dengan merenungkan nasehat para ulama berikut, kita dapat menjadi lebih baik dan tidak menjadi orang yang menyia-nyiakan waktu.
Ketahuilah bahwa Engkau Seperti Hari-harimu

Hasan Al Bashri mengatakan,

ابن آدم إنما أنت أيام كلما ذهب يوم ذهب بعضك

“Wahai manusia, sesungguhnya kalian hanyalah kumpulan hari. Tatkala satu hari itu hilang, maka akan hilang pula sebagian dirimu.”[1]

Waktu Pasti akan Berlalu, Beramallah

Ja’far bin Sulaiman berkata bahwa dia mendengar Robi’ah menasehati Sufyan Ats Tsauri,

إنما أنت أيام معدودة، فإذا ذهب يوم ذهب بعضك، ويوشك إذا ذهب البعض أن يذهب الكل وأنت تعلم، فاعمل.

“Sesungguhnya engkau adalah kumpulan hari. Jika satu hari berlalu, maka sebagian dirimu juga akan hilang. Bahkan hampir-hampir sebagian harimu berlalu, lalu hilanglah seluruh dirimu (baca: mati) sedangkan engkau mengetahuinya. Oleh karena itu, beramallah.”[2]

Waktu Bagaikan Pedang

Imam Asy Syafi’i rahimahullah pernah mengatakan,

صحبت الصوفية فلم أستفد منهم سوى حرفين أحدهما قولهم الوقت سيف فإن لم تقطعه قطعك

“Aku pernah bersama dengan orang-orang sufi. Aku tidaklah mendapatkan pelajaran darinya selain dua hal. Pertama, dia mengatakan bahwa waktu bagaikan pedang. Jika kamu tidak memotongnya (memanfaatkannya), maka dia akan memotongmu.”

Jika Tidak Tersibukkan dengan Kebaikan, Pasti akan Terjatuh pada Perkara yang Sia-sia

Lanjutan dari perkataan Imam Asy Syafi’i di atas, “Kemudian orang sufi tersebut menyebutkan perkataan lain:

ونفسك إن أشغلتها بالحق وإلا اشتغلتك بالباطل

Jika dirimu tidak tersibukkan dengan hal-hal yang baik (haq), pasti akan tersibukkan dengan hal-hal yang sia-sia (batil).”[3]

Waktu Berlalu Begitu Cepatnya

Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, “Waktu manusia adalah umurnya yang sebenarnya. Waktu tersebut adalah waktu yang dimanfaatkan untuk mendapatkan kehidupan yang abadi, penuh kenikmatan dan terbebas dari kesempitan dan adzab yang pedih. Ketahuilah bahwa berlalunya waktu lebih cepat dari berjalannya awan (mendung).

Barangsiapa yang waktunya hanya untuk ketaatan dan beribadah pada Allah, maka itulah waktu dan umurnya yang sebenarnya. Selain itu tidak dinilai sebagai kehidupannya, namun hanya teranggap seperti kehidupan binatang ternak.”

Kematian Lebih Layak Bagi Orang yang Menyia-nyiakan Waktu

Lalu Ibnul Qoyyim mengatakan perkataan selanjutnya yang sangat menyentuh qolbu, “Jika waktu hanya dihabiskan untuk hal-hal yang membuat lalai, untuk sekedar menghamburkan syahwat (hawa nafsu), berangan-angan yang batil, hanya dihabiskan dengan banyak tidur dan digunakan dalam kebatilan (baca: kesia-siaan), maka sungguh kematian lebih layak bagi dirinya.”[4]

Janganlah Sia-siakan Waktumu Selain untuk Mengingat Allah

Dari Abdullah bin Abdil Malik, beliau berkata, “Kami suatu saat berjalan bersama ayah kami di atas tandunya. Lalu dia berkata pada kami, ‘Bertasbihlah sampai di pohon itu.’ Lalu kami pun bertasbih sampai di pohon yang dia tunjuk. Kemudian nampak lagi pohon lain, lalu dia berkata pada kami, ‘Bertakbirlah sampai di pohon itu.’ Lalu kami pun bertakbir. Inilah yang biasa diajarkan oleh ayah kami.”[5]

Ya Allah, mudahkanlah kami selaku hamba-Mu untuk memanfaatkan waktu ini dalam ketaatan dan dijauhkan dari kelalaian. Amin Yaa Mujibas Saailin.

Semoga apa yang kami sajikan ini bermanfaat bagi hati yang ingin terus disirami.



Diselesaikan di Pangukan, Sleman, 6 Muharram 1430 H (di pagi hari yang penuh berkah)

***

Al Faqir Ilallah: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel http://rumaysho.com/


[1] Hilyatul Awliya’, 2/148, Darul Kutub Al ‘Arobi

[2] Shifatush Shofwah, 1/405, Asy Syamilah

[3] Al Jawabul Kafi, 109, Darul Kutub Al ‘Ilmiyah

[4] Al Jawabul Kafi, 109

[5] Az Zuhud li Ahmad bin Hambal, 3/321, Asy Syamilah

Busuknya Kebencian

Assalmamu'alaikum warohmatullahi wabarokaatuh

Seorang Ibu Guru taman kanak-kanak (TK) mengadakan”permainan”.
Ibu Guru menyuruh tiap² muridnya membawa kantong plastik transparan 1 buah dan kentang. Masing² kentang tersebut diberi nama berdasarkan nama orang yang dibenci, sehingga jumlah kentangnya tidak ditentukan berapa … tergantung jumlah orang² yang dibenci.

Pada hari yang disepakati masing² murid membawa kentang dalam kantong plastik. Ada yang berjumlah 2, ada yang 3 bahkan ada yang 5. Seperti perintah guru mereka tiap² kentang diberi nama sesuai nama orang yang dibenci. Murid² harus membawa kantong plastik berisi kentang tersebut kemana saja mereka pergi, bahkan ke toilet sekalipun, selama 1 minggu.

Hari berganti hari, kentang² pun mulai membusuk, murid² mulai mengeluh, apalagi yang membawa 5 buah kentang, selain berat baunya juga tidak sedap. Setelah 1 minggu murid² TK tersebut merasa lega karena penderitaan mereka akan segera berakhir.

Ibu Guru : “Bagaimana rasanya membawa kentang selama 1 minggu ?”

Keluarlah keluhan dari murid² TK tersebut, pada umumnya mereka tidak merasanyaman harus membawa kentang² busuk tersebut kemanapun mereka pergi. Gurupun menjelaskan apa arti dari “permainan” yang mereka lakukan.

Ibu Guru : “Seperti itulah kebencian yang selalu kita bawa² apabila kita tidak bisa memaafkan orang lain. Sungguh sangat tidak menyenangkan membawa kentang busuk kemana pun kita pergi. Itu hanya 1 minggu. Bagaimana jika kita membawa kebencian itu seumur hidup ? Alangkah tidak nyamannya …”

Sahabat, smoga kita semua termasuk orang yang sabar dan pemaaf, bukan pembenci apalagi pendendam. Kalo slama ini saya ada salah, mohon dimaafkan ya sahabat. Siapa tau saya ada salah kata yang disengaja maupun yg tidak saya sengaja. Saya juga mohon maaf jika seandainya saya pernah salah sangka atau berburuk sangka kepada sahabat, baik yang tertulis, terucap, maupun dalam hati. Mohon kerelaan dan keikhlasan sahabat semua. Yah..., walaupun sekarang belum lebaran, tapi saling memaafkan tidak harus nunggu lebaran kan sahabat? Trimakasih bagi yang sudi memaafkan...

senyum.... ^_^

salam persahabatan

Sebab-sebab masuk syurga, mau ?

Ma’asyiral muslimin rakhimakumullah!Sesungguhnya kehidupan orang mukmin di dunia ini memiliki tujuan. Tujuannya adl meraih ridha Allah Azza wa Jalla? mencapai jannah yg luasnya seluas langit-langit dan bumi dan itu adl kemenangan yg nyata. Allah SWT berfirman yg artinya “Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan jannah maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yg memperdayakan.” Ya tujuannya adl mencari ridha Allah? meggapai surga krn surga adl tempat tinggal yg pertama tempatnya yg asli. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT berfirman “Wahai Adam diamilah oleh kamu dan istrimu surga ini dan makanlah makanan-makakanannya yg banyak lagi baik di mana saja yg kamu sukai.” Jannah adl tempat tinggal ayah kita lalu ayah kita dikeluarkan darinya dgn perbuatan musuh kita Iblis yg dilaknat Allah yg menipu ayah kita dan istrinya dgn makan dari pohon yg dilarang Allah utk dimakannya. Allah Ta’ala berfirman “?nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanaya menutupinya dgn daun-daun surga. Kemudian Rabb mereka menyeru mereka ‘Bukankah Aku telah melarang kamu berdua dari pohon kayu itu dan Aku katakan kepadamu ‘Sesungguhnya setan itu adl musuh yg nyata bagi kamu berdua’.” Tujuan seorang muslim di dunia ini adl sampai ke tempat tinggal tersebut krn ia adl tempat tinggal kemuliaan dan seni’mat-ni’matnya tempat tinggal bagi orang yg bertakwa disamping ia juga merupakan tempat tinggal keselamatan. Allah Ta’ala berfirman “Bagi mereka darussalam pada sisi Rabbnya dan Dialah pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yg selalu mereka kerjakan.” Mereka sampai ke rumah itu krn tempat tinggal itu adl tempat tinggal yg dimuliakan Allah Azza wa Jalla yg di dalamnya bisa melihat wajah-Nya yg Maha Mulia. Surga juga merupakan tempat tinggal yg di dalamnya berkumpul para nabi sidik syuhada dan orang-orang saleh. Surga adl tempat tinggal yg seseorang tidak melihat dan mendengar di dalamnya kecuali kebaikan pula. Allah Azza wa Jalla berfirman “Doa mereka di dalamnya ialah ‘Subhanakallahumma’ dan salam penghormatan mereka ialah ‘Salam’. Dan penutup doa mereka ialah ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘aalamin’.” “?sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; ‘Salamun ‘alaikum bima shabartum’ maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” Namun yg menjadi pertanyaan adl amalan apakah yg bisa menghantarkan seorang mukmin ke surga yg luas tesebut yg seorang mukmin bila berjalan di bawah naungan satu pohon selama 100 tahun maka ia belum bisa melewati naungan tersebut. Di dalam surga tersebut berada dalam keni’matan dan amat senang. Mereka tidak haus dan tidak pula menjadi tua renta tidak sakit tidak mati tidak tidur dan tidak bosan awet muda dan pakaiannya tidak akan usang atau rusak. Tempat tinggal ini haruslah dicapai dgn amal. Allah Ta’ala berfirman “Itulah jannah yg diwariskan kepadamu disebabkan apa yg dahulu kamu kerjakan.” Harus beramal darlam rangka utk mendapatkan jannah. Allah Ta’ala berfirman ” itu bukanlah menurut angan-anganmu yg kosong dan tidak menurut angan-angan ahli kitab. Barangsiapa yg mengerjakan kejahatan niscaya akan diberi pembalasan dgn kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak penolong baginya selain dari Allah. Barang siapa yg mengerjakan amal-amal saleh baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yg beriman maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikit pun.” “Barang siapa yg beramal saleh baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yg baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dgn pahala yg lbh baik dari apa yg telah mereka kerjakan.” Ma’asyiral muslimin rakhimakumullah!Amalan pertama yg akan menghantarkan kita kepada surga keimanan yg benar. Keyakinan yg kuat. Iman kepada Allah SWT malaikat kitab dan rasul-Nya hari kiamat dan takdir-Nya yg baik maupun yg buruk. Iman yg tidak becampur dgn keraguan iman yg murni kepada Allah SWT dgn segala apa yg telah diberitahukannya dari persolan yg gaib dan apa yg juga diberitahukan oleh Rasulullah saw. Karena surga itu diharamkan bagi orang yg kafir musyrik haram bagi yg ragu atau menentang. “Sesungguhnya orang yg mempersekutukan Allah maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya ialah neraka tidaklah ada bagi orang-orang yg zalim itu seorang penolong pun.” “Dan penghuni neraka menyeru penghuni surga “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yg telah dirizqikan Allah kepadamu.” Mereka menjawab “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir orang yg menjadikan agama mereka sebagai main-main dan sendau gurau dan kehidupan dunia telah menipu mereka..” Itulah pahala mereka di sisi Allah harus dgn iman yg kuat. Kemudian sebab yg kedua yg biasa menghantarkan ke surga adl jujur. Jujur kepada Allah jiwa dan manusia. Dhahirnya tidak menyelisihi batinnya begitu pula sebaliknya. Rasulullah saw bersabda “Hendaklah kalian jujur krn kejujuran itu akan memberi petunjuk kepada kebaikan. Dan kebaikan akan memberi petunjuk kepada surga. Dan seseorang itu masih dalam keadaan jujur dan mencari kejujuran sehingga Allah pun menulisnya sebagai orang yg jujur. Dan hendakhlah kalian menjauhi dusta. Karena dusta itu akan memberi petunjuk kepada kemaksiatan. Dan kemaksiatan itu akan memberi petunjuk kepada neraka. Dan seseorang masih dalam keadaan dusta dan mencari kedustaan sehingga Allah pun menulis sebaga orang yg dusta.” Lalu sebab yg ketiga adl sabar atas qadha’ dan taqdir Allah Ta’ala. Seorang mukmin hidup di dunia ini dalam keadaan susah payah. Allah Ta’ala berfirman “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” Dunia adl penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir. Maka yg diminta bagi orang mukmin adl bersabar terhadap apa yg menimpa badannya dirinya keluarganya hartanya anaknya sabar terhaap qadha’ Allah dan taqdir-Nya krn Allah SWT telah memberitahukan bahwa sabar itu balasannya adl surga. Allah Azza wa Jalla berfirman “Sesungguhnya hanya orang-orang bersabarlah yg dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” Kita berdoa semoga Allah melimpahkan surga kepada kita. Dan melimpahkan perkataan dan perbuatan yg bisa mendekatkan kepada jannah tersebut. Kita juga berlindung kepada Allah dari neraka dan berlindung dari perkataan maupun perbuatan yg mendekatkan kepada neraka amin. Al-Islam - Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

sumber file al_islam.chm