Tampilkan postingan dengan label neraka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label neraka. Tampilkan semua postingan

Selasa, 28 Februari 2012

Hikmah penciptaan neraka

Terkadang ada saudara kita yang bertanya, jika ALLAH itu Maha Baik, mengapa menciptakan neraka? Mengapa tidak masuk surga saja semua ummatnya? Mengapa harus ada neraka? Insya Allah mudah-mudahan artikel ini sedikit banyak dapat menjawab Ini kisah nyata..kisah seorang gadis Melayu, beragama Islam Ceritanya begini, di sebuah negeri yang melaksanakan dasar 'Membangun Bersama Islam', kerap kali pihak berkuasa setempat menjalankan pemeriksaan mendadak di tempat perniagaan dan kompleks jual beli-belah, untuk memastikan para pekerja di setempat menutup aurat. Aku tak tahu pasti berapa jumlah denda yang dikenakan sekiranya didapati melakukan kesalahan, tapi mereka akan diberi teguran bagi kesalahan pertama, dan didenda jika didapati masih enggan mematuhi garis panduan/aturan yang ditetapkan. Lazimnya dalam setiap operasi,seorang ustaz ditugaskan bersama dengan para pegawai pihak berkuasa setempat. Tugasnya adalah untuk menyampaikan nasihat secara baik-baik, karena hukuman dan denda semata-mata tidak mampu memberi kesan yang mendalam. Dalam suatu insiden, ketika operasi yang dijalankan sekitar 2005,seorang gadis yang bekerja di salah satu lot premis perniagaan di Pasaraya Billion telah didapati melakukan kesalahan tidak menutup aurat. Maka dia pun kena denda .. Setelah surat diberikan oleh pegawai PBT, Ustaz ni pun berbagi nasihat, "selepas ini diharapkan saudari insaf dan dapat mematuhi peraturan. Peraturan ni bukan semata-mata peraturan majlis perbandaran, tapi menutup aurat ini termasuk perintah ALLAH Ringkasnya, kalau taat segala perintahNya, pasti Dia akan membalas dengan nikmat di syurga. Kalau durhaka tak patuhi perintahNya, takut nanti tak sempat bertaubat, bakal mendapat azab di neraka Allah. Tuhan Maha Penyayang, Dia sendiri tak mahu kita mencampakkan diri ke dalam neraka..." Gadis tersebut yang dari awal mendiamkan diri,tiba-tiba membentak "KALAU TUHAN TU BAIK, KENAPA BUAT NERAKA? Kenapa tak sediakan syurga saja? apa seperti itu yang dinamakan Tuhan Maha Penyayang?" Mungkin dari tadi dia sudah panas telinga, tak tahan dengar nasihat ustaz itu..hati sudah panas kena denda sebab dia tak pakai tudung/jilbab.. Ustaz itu terkejut. “Bahaya anak ni. Kalau dibiarkan bisa RUSAK akidah dia.” Setelah habis gadis BERKOMENTAR, ustaz tu pun jawab: "Dik, kalau Tuhan tidak buat neraka, saya tak jadi ustaz. Berapa sen/rupiah gaji saya sekarang. Lebih baik saya jadi bandar judi, atau sabung ayam. Hidup senang, setelah mati pun tak risau sebab dijamin masuk syurga. Mungkin anda ini pun bisa saya culik dan jual jadi pelacur. Kalau anda mau melarikan diri, langsung akan saya bunuh . Tak apa, sebab neraka tak ada. Nanti kita berdua berjumpa lagi di syurga..Kan Tuhan tu baik?" Gadis tu terkejut. USTADZ macam itu? Sedang dia terheran-heran dengan muka PUCAT. Ustaz tu pun jelaskan ."perkara macam tadi akan berlaku kalau Tuhan hanya sediakan syurga. Orang baik,orang jahat, semua masuk syurga. Maka apa guna jadi orang baik? Jadi orang jahat lebih senang. Manusia tak perlu lagi diuji sebab semua orang akan 'lulus' percuma/gratis. Pembunuh akan jumpa orang yang dibunuh dalam syurga. perampok akan bertemu lagi dengan mangsa/korban perampok disyurga, setelah itu boleh mencuri lagi kalau dia mau. Tak ada yang terima hukuman. Sebab Tuhan itu 'baik'. Adakah Tuhan macam ini yang kita mau? Menurut anda adil kah ?" tanya ustaz. "Ah..mana adil macam itu. Orang jahat takkan terlepas macam itu saja." gerutu si gadis. Ustaz tersenyum dan bertanya lagi: "Bila tuhan tak adil, boleh kah dianggap baik?"Gadis tu terdiam. Ustaz mengakhiri kata-katanya: "Adik, saya bagi nasihat ini karena kasih sesama umat Islam. Allah itu Maha Penyayang, Dia juga Maha Adil. Sebab tu neraka perlu DICIPTAKAN. Untuk menghukum hamba-hambaNya yang durhaka, yang menzalimi diri sendiri dan juga orang lain. Saya rasa anda sudah faham sekarang. Kita sedang diuji atas dunia ni. Jasad kita bahkan segala-galanya milik Allah, maka bukan HAK kita untuk berpakaian sesuka hati kita. Ingatlah; semuanya dipinjamkan olehNya, sebagai amanah dan ujian..semoga kita dapat bersabar dalam mentaati segala perintahNya, untuk kebaikan diri kita juga. "

Minggu, 26 Februari 2012

Tiga Calon Penghuni Neraka

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhuma bahwa Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada tiga golongan yang tidak akan masuk surga dan Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat; anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya, perempuan yang menyerupai laki-laki, dayyuts yaitu kepala rumah tangga membiarkan kemungkaran dalam rumah tangganya.” (HR. Nasa’I 5: 80-81; hakim 1: 72, 4: 146-147; Baihaqi 10: 226 dan Ahmad 2: 134) Ajaran Islam adalah ajaran yang sesuai dengan fitrah manusia. Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia kemudian memberikan kepada mereka petunjuk agar selamat di dunia dan akhirat. Petunjuk yang diberikan tersebut berupa Al-Qur’an dan Sunnah Rasullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang harus ditaati dan diamalkan. Barangsiapa yang menyimpang dari petunjuk Allah dan Rasul-Nya serta mengabaikan perintah dan larangan-Nya akan memperoleh adzab. Allah Yang Maha Adil berkuasa memasukkan menusia ke dalam Surga atau Neraka, tergantung dari amal perbuatan mereka. Bila ada yang dimasukkan-Nya ke dalam Neraka maka halitu adalah berdasarkan keadilan-Nya, Dia sekali-kali tidak berbuat zalim kepada hamba-hamba-Nya. Perintah dan larangan Allah kepada manusia pada hakikatnya adalah demi kemashlahatan menusia itu sendiri. Kendatipun demikian, masih ada saja di antara manusia yang mengabaikan peringatan dan ancaman Allah itu. Maka sudah selayaknya bila Allah menimpakan hukuman akibat perbuatan mereka. Di antara sekian banyak larangan Allah yang harus dijatuhi dan haram dikerjakan ialah: a. Durhaka kepada Kedua Orang Tua Banyak ayat al-Qur’an dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menrengkan kewajiban berbakti kepada orang tua. Hal ini menunjukkan betapa agungnya hak mereka dan haram mendurhakai mereka. Allah subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka janagnlah sekali-kali kamu mengucapkan ‘Ah’ dan janganlah kamu membentakmereka, akan tetapi ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan kasih saying, serta ucapkan: ‘wahai rabbku kasihanilah keduanya sebagaimana mereka telah mendidik aku di waktu kecil.’” (QS. al-Isra’: 23-24) Berdasarkan ayat di atas, ayah dan ibu adalah orang yang wajib ditaati sesudah Allah dan Rasul-Nya. Kebaikan mereka, khususnya ibu kepada anaknya, tidak dapat dinilai dengan materi. Ibu mengandungnya dengan susah payah, kemudian melahirkannya juga dengan susah payah dan terkadang harus berhadapan dengan maut, menyusui dalam masa berbulan-bulan, bekerja siang dan malam bahkan terkadang harus bengun di tengah malam demi menemani anaknya yang sakit pada saat manusia sedang tidur nyenyak. Kedua orang tua merasa bertanggungjawab memelhara, mendidik, dan mencari nafkah untuk anak-anak mereka. Mereka pun akan merasa gembira ketika anaknya mendapatkan kesenangan, dan menangis serta bersedih bila si anak mendapatklan musibah. Kedua orang tua selalu memikirkan kabahagiaan masa depan si anak. Kalaupun ada orang tua yang buruk akhlaknya, maka mereka tidak ingin anaknya rusak seperti keadaan mereka. Mereka pun tetap berharap agar anak-anak mereka menjadi anak yang shalih. Hal ini merupakan fitrah manusia. Oleh karena itu, Allah dan Rasul-Nya mewajibkan kepada setiap anak agar: · Berbuat baik kepada kedua orang tua · Bersyukur kepada Allah dan kepada mereka · Berlaku lemah lembut kepada mereka · Berkata perkataan yang baik dan penuh hormat · Mendo’akan keduanya Perlu diingat bahwa ketaatan kepada orang tua tidak boleh dalam hal-hal yang bertentangan dengan syari’at. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperingatkan, “Tidak boleh seseorang taat kepada siapapun (makhluk) dalam hal berbuat maksiat kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala.” (HR. Ahmad 5/66, Hakim) Jadi gambaran durhaka kepada orang tua yaitu anak tidak taat kepada mereka dalam hal yang ma’ruf (sesuai sayari’at). Menurut para ulama, tanda anak durhaka itu ialah: · Anak yang tidak mau tahu hak-hak orang tua, · Tiadk mau mendengar nasihat mereka bahkan menjelekkannya, · Anak yang tidak mau membantu orang tuanya yang miskin padahal dia mampu, · Berkata kasar, membentak, memukul, · Selalu mengeluh dan membengkit-bangkitkan pemberiannya, · Memaksa kedua orang tuanya agar memenuhi kebutuhan dirinya. (As-Suluk Al-Ijtima’i fil Islam, al-Kabair, Buyut La Tadkhuluhal Malaaikah) Anak yang durhaka tidak hanya mendapatkan siksa di akhirat, akan tetapi di dunia pun dia akan mendapatkan balasan buruk sebelum mati, berupa kehinaan, kefakiran, dan ditimpa berbagai macam penyakit. (Buyut La Tadkhuluhal Malaikah, hal. 35) Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ada dua perbuatan yang Allah segerakan siksanya di dunia yaitu melewati batas-batas Allah (zalim) dan durhaka kepada kedua orang tua.” (HR. Hakim; Lihat Shaih Jami’us Shaghir, 2810) b. Wanita yang Menyerupai Laki-Laki Pada zaman sekarang sekarang ini, media massa selalu membesar-besarkan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan, dengan istilah emansipasi. Para wanita menuntut agar haknya disamakan dengan laki-laki, padahal agama Islam telah mengatur bahwa laki-laki berbeda dengan perempuan. Firman-Nya: “Dan laki-laki itu tidak sama dengan perempuan.” (Ali Imran: 36) Wanita sekarang menuntut ingin sama dengan laki-laki dalam segala hal, baik dalam lapangan kerja, pakaian, hak waris, maupun dalam masalah lainnya. Akibatnya, terjadi pergeseran nilai dalam masyarakat. Merekamulai cenderung berorientasi pada materi. Setelah kesempatan kerja terbuka luas bagi wanita, mereka menjadi senang bertabarruj (buka aurat), menampakkan perhiasan dan auratnya serta mulai memakai pakaian yang tipis dan ketat. Mereka pun senang dan terbiasa berpakaian serupadengan laki-laki. Menurut mereka, :Ini adalah tuntutan profesi (karier)!!!???” Subhanallah. Tahukah mereka bahwa Allah dan rasul-Nya melaknat wanita yang menyerupai laki-laki dan sebaliknya? Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alalihi wasallam telah melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang mwmakai pakaian laki-laki. (HR. Abu Dawud, ahmad, Ibnu Majah, Hakim, dan Ibnu Hibban) Dari Abdullah bin Amr radhiallallhu ‘anhu, ia berkata: aku pernah mendengar Rasululah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tidak termasuk golongan kami para wanita yang menyerupai laki-laki, dan laki-laki yang menyerupai wanita.” (HR. Ahmad 2/199-200, Thabrani,abu Nu’man dan Bukhari dalam kitab Tarikhnya) c. Dayyuts Golongan ini adalah orang –orang yang membiarkan terjadinya kemungkaran di rumah tangganya. Firman-Nya: “Hai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. at-tahrim: 6) Para ulama salaf menjelaskan makna jagalah dirimu dan keluargamau dari api neraka, sebagai berikut: 1. Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata: “Beramallah dengan taat kepada Allah, takut berbuat maksiat, dan perintahkan keluargamu agar ingat hokum-hukum-Nya, niscaya Dia akan menyelamatkanmu dari api neraka.” 2. Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu berkata: “Ajarkanlah akhlak dan kebaikan budi pekerti kepada mereka.” 3. Mujahid rahimahullah berkata: “takutlah kepda Allah dan nasihatilah keluargamu supaya bertaqwa kepada-Nya.” (Tafsir Ibnu Katsir, 4/412-413) Ayat di atas mewajibkan seorang suami atau kepala rumah tangga bertanggungjawab dalam rumah tangganya. Seorang bapak atau suami merupakan orang pertama dalam rumah tangga yang harus berusaha agar rumah tangganya damai, tenteram, dan penuh rahmat Allah. Untuk itu, diperlukan perjuangan yang sungguh-sungguh. Terkadang seorang bapak mempunyai cita-cita seperti itu namun salah mengambil jalan sehingga cita-citanya tidak terwujud. Karena itu, tarbiyyah (pendidikan) dan pembinaan rumah tangga harus mendapatkan priorotas utama. Seorang bapak harus berupaya membina isteri, anak, dan keluarga yang terdekat semisal mengingatkan mereka untuk shalat. Jika seorang bapak atau suami bersikap diam dan merasa aman terhadap isteri dan anaknya yang sudah terperangkap dalam adat jahiliyah, atau telah melanggar syari’at Islam, maka suami atau bapak seperti inilah yang dinamakan dayyuts. Sikap suami yang membiarkan isteri dan anaknya berbuat kejelekan dalam rumah tangganya sangat berbahaya. Ia membiarkan anak dan isterinya meninggalkan shalat, membiarkan mereka mengkonsumsi makanan dan minuman yang haram. Ia menganggap baik perbuatan keji, zina beserta sarana yang membawa kepada zina. Ia tidak merasa cemburu pada perbuatan isteri dan anak-anaknya, bahkan ia membiarkan mereka berbuat maksiat. Maka, kelak dia akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah di hari kiamat. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Ketauhilah, kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu sekalian bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya. Penguasa adalah pemimpin atas rakyatnya dan bertanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya. Laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Seorang perempuan juga pemimpin bagi rumah suami dan anak-anaknya dan ia bertanggung jawab atas itu semua, seorang hamba sahaya bertanggung jawab terhadap harta tuannya.” (HR. Bukhari, Muslim, ahmad, Abu Dawud dan Tirmidzi.) (sumber : Ustd. Abu Jibriel, dari majalah Syari’ah)