Senin, 14 April 2014

Muhammad Sebagai Seorang Suami


Di antara tanda kasih sayang Allah swt terhadap manusia adalah diutusnya Rasul ditengah-tengah mereka. Inilah nikmat paling besar yang Allah swt karuniakan kepada manusia. Agar para Rasul menjadi penerang bagi orang-orang yang salah jalan. Menjadi penunjuk bagi orang-orang yang tersesat. Hal paling utama dan berharga yang dipersembahkan para Rasul kepada manusia setelah penunjukan jalan hidayah Allah swt. adalah mereka, para Rasul sebagai contoh teladan bagi yang meniti jalan menuju Allah swt, agar orang beriman mengambil apa yang mereka contohkan dalam segenap urusan dan bidang, fiddunya wal akhirah. Allah swt berfirman tentang pribadi Nabi kita Muhammad saw.: “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” Al Ahzab:21 Berkata Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini: “Inilah ayat mendasar yang berisikan anjuran menjadikan Rasulullah saw sebagai suri teladan, dalam ucapan, perbuatan dan keadannya.” Dan bukti kemurahan Allah swt terhadap umat Islam ini adalah, bahwa sirah atau perjalanan hidup Nabi saw. baik berupa ucapan, perbuatan dan keadaannya direkam dan dijaga oleh para tokoh –ahli hadits- yang mukhlis. Dan mereka menyampaikan apa yang datang dari Rasul kepada orang lain dengan sangat amanah. Contoh sederhana adalah tentang petunjuk Nabi bagaimana beliau makan, cara minum, berpakaian, berhias, bagaimana beliau tidur dan ketika terjaga, ketika beliau mukim atau sedang safar, ketika beliau tertawa atau menangis, dalam kesungguhan atau canda, dalam suasana ibadah atau hubungan sosial, perihal urusan agama atau dunia, ketika kondisi damai atau saat perang, dalam berinteraksi dengan kerabat atau orang yang jauh, menghadapi teman atau lawan, sampai pada sisi-sisi yang menurut orang bilang “intim” dalam hubungan suami-istri. Semuanya terekam, tercatat dan diriwayatkan dengan sahih dalam sirah perjalanan hidup beliau saw. Dalam tulisan sederhana ini kami paparkan petunjuk Nabi saw. tentang bagaimana beliau berinteraksi dengan istri-istrinya. Bagaimana beliau bermu’amalah dan menjaga mereka. serta bagaimana beliau melaksanakan kewajibannya untuk memenuhi hak-hak mereka. Muhammad Bersikap Adil Nabi Muhammad saw. sangat memperhatikan perilaku adil terhadap istri-istrinya dalam segala hal, termasuk sesuatu yang remeh dan sepele. Beliau adil terhadap istri-istrinya dalam pemberian tempat tinggal, nafkah, pembagian bermalam, dan jadwal berkunjung. Beliau ketika bertandang ke salah satu rumah istrinya, setelah itu beliau berkunjung ke rumah istri-istri beliau yang lain. Soal cinta, beliau lebih mencintai Aisyah dibanding istri-istri beliau yang lain, namun beliau tidak pernah membedakan Aisyah dengan yang lain selamanya. Meskipun di sisi lain, beliau beristighfar kepada Allah swt karena tidak bisa berlaku adil di dalam membagi cinta atau perasaan hati kepada istri-istrinya, karena persoalan yang satu ini adalah hak preogratif Allah swt. saja. Rasulullah saw. bersabda: (اللهم إن هذا قسمي فيما أملك، فلا تلمني فيما لا أملك) “Ya Allah, inilah pembagianku yang saya bisa. Maka jangan cela aku atas apa yang aku tidak kuasa.” Ketika beliau dalam kondisi sakit yang menyebabkan maut menjemput, beliau meminta kepada istrinya yang lain agar diperkenankan berada di rumah Aisyah. Bahkan ketika beliau mengadakan perjalanan atau peperangan, beliau mengundi di antara istri-istrinya. Siapa yang kebagian undian, dialah yang menyertai Rasulullah saw. Muhammad Bermusyawarah Dengan Para Istrinya Rasulullah saw mengajak istri-istrinya bermusyawarah dalam banyak urusan. Beliau sangat menghargai pendapat-pendapat mereka. Padahal wanita pada masa jahiliyah, sebelum datangnya Islam diperlakukan seperti barang dagangan semata, dijual dan dibeli, tidak dianggap pendapatnya, meskipun itu berkaitan dengan urusan yang langsung dan khusus dengannya. Islam datang mengangkat martabat wanita, bahwa mereka sejajar dengan laki-laki, kecuali hak qawamah atau kepemimpinan keluarga, berada ditangan laki-laki. Allah swt berfirman: “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Al Baqarah:228. Adalah pendapat dari Ummu Salamah ra pada peristiwa Hudaibiyah, membawa berkah dan keselamatan bagi umat Islam. Ummu Salamah memberi masukan kepada Nabi agar keluar menemui para sahabat tanpa berbicara dengan siapa pun, langsung menyembelih hadyu atau seekor domba dan mencukur rambutnya. Ketika beliau melaksanakan hal itu, para sahabat dengan serta-merta menjalankan perintah Nabi saw, padahal sebelumnya mereka tidak mau melaksanakan perintah Rasul, karena mereka merasa pada pihak yang kalah pada peristiwa itu. Mereka melihat bahwa syarat yang diajukan kaum kafir Quraisy tidak menguntungkan kaum muslimin. Muhammad Lapang Dada dan Penyayang Istri-istri Rasulullah saw memberi masukan tentang suatu hal kepada Nabi, beliau menerima dan memberlakukan mereka dengan lembut. Beliau tidak pernah memukul salah seorang dari mereka sekali pun. Belum pernah terjadi demikian sebelum datangnya Islam. Perempuan sebelum Islam tidak punya hak bertanya, mendiskusikan dan memberi masukan apalagi menuntut. Umar ra berkata: “Saya marah terhadap istriku, ketika ia membantah pendapatku, saya tidak terima dia meluruskanku. Maka ia berkata; “Mengapa kamu tidak mau menerima pendapatku, demi Allah, bahwa istri-istri Rasulullah memberi pendapatnya kepada beliau, bahkan salah satu dari mereka ngambek dan tidak menyapanya sehari-semalam. Umar berkata; “Saya langsung bergegas menuju rumah Hafshah dan bertanya: “Apakah kamu memberi masukan kepada Rasulullah saw? ia menjawab: Ya. Umar bertanya lagi, “Apakah salah seorang di antara kalian ada yang ngambek dan tidak menegur Rasul selama sehari-semalam? Ia menjawab: Ya. Umar berkata: “Sungguh akan rugi orang yang melakukan demikian di antara kalian.” Cara Nabi Meluruskan Keluarganya Rasulullah saw tidak pernah menggap sepele kesalahan yang diperbuat oleh salah satu dari istri. Beliau pasti meluruskan dengan cara yang baik. Diriwayatkan dari Aisyah: تقول عائشة رضي الله عنها: ما رأيت صانعة طعام مثل صفية صنعت لرسول الله طعاما وهو في بيتي، فارتعدت من شدة الغيرة فكسرت الإناء ثم ندمت فقلت: يا رسول الله ما كفارة ما صنعت؟ قال: إناء مثل إناء، وطعام مثل طعام. “Saya tidak pernah melihat orang yang lebih baik di dalam membuatkan masakan, selain Shafiyah. Ia membuatkan hidangan untuk Rasulullah saw di rumahku. Seketika saya cemburu dan membanting piring beserta isinya.” Saya menyesal, seraya berkata kepada Rasulullah saw. “Apa kafarat atas perilaku yang saya lakukan?” Rasulullah saw menjawab: “Piring diganti piring, dan makanan diganti makanan.” Rasulullah saw. menjadi pendengar yang baik. Beliau memberi kesempatan kepada istri-istrinya kebebasan untuk berbicara. Namun beliau tidak toleransi terhadap kesalahan sekecil apa pun. Aisyah berkata kepada Nabi setelah wafatnya Khadijah ra.: “Kenapa kamu selalu mengenang seorang janda tua, padahal Allah telah memberi ganti kepadamu dengan yang lebih baik.” Maka Rasulullah saw marah, seraya berkata: “Sunggguh, demi Allah, Allah tidak memberi ganti kepadaku yang lebih baik darinya. Ia telah beriman kepadaku ketika manusia mengingkariku. Ia menolongku ketika manusia memusuhiku. Saya dikaruniai anak darinya, yang tidak Allah berikan lewat selainnya.” Muhammad Pelayan Bagi Keluarganya Rasulullah saw tidak pernah meninggalkan khidmah atau pelayanan ketika di dalam rumah. Beliau selalu bermurah hati menolong istri-istrinya jika kondisi menuntut itu. Rasulullah saw bersabda: وكان يقول: (خدمتك زوجتك صدقة) “Pelayanan Anda untuk istri Anda adalah sedekah.” Adalah Rasulullah saw mencuci pakaian, membersihkan sendal dan pekerjaan lainnya yang dibutuhkan oleh anggota keluarganya. Muhammad Berhias Untuk Istrinya Rasulullah saw mengetahu betul kebutuhan sorang wanita untuk berdandan di depan laki-lakinya, begitu juga laki-laki berdandan untuk istrinya. Adalah Rasulullah saw paling tampan, paling rapi di antara manusia lainnya. Beliau menyuruh sahabat-sahabatnya agar berhias untuk istri-istri mereka dan menjaga kebersihan dan kerapihan. Rasulullah saw bersabda: وكان يقول: (اغسلوا ثيابكم وخذوا من شعوركم واستاكوا وتزينوا وتنظفوا فإن بني إسرائيل لم يكونوا يفعلون ذلك فزنت نساؤهم). “Cucilah baju kalian. Sisirlah rambut kalian. Rapilah, berhiaslah, bersihkanlah diri kalian. Karena Bani Isra’il tidak melaksanakan hal demikian, sehingga wanita-wanita mereka berzina.” Muhammad dan Canda-Ria Rasulullah saw tidak tidak lupa bermain, bercanda-ria dengan istri-istri beliau, meskipun tanggungjawab dan beban berat di pundaknya. Karena rehat, canda akan menyegarkan suasan hati, menggemberakan jiwa, memperbaharui semangat dan mengembalikan fitalitas fisik. فعن عائشة – رضي الله عنها- أنها قالت خرجنا مع رسول الله (صلى الله عليه وسلم) في سفر فنزلنا منزل فقال لها : تعالي حتى أُسابقك قالت: فسابقته فسبقته، وخرجت معه بعد ذلك في سفر آخر فنزلنا منزلا فقال: تعالي حتى أسابقك قالت: فسبقني، فضرب بين كتفي وقال : هذه بتلك). Dari Aisyah ra berkata: “Kami keluar bersama Rasulullah saw dalam suatu safar. Kami turun di suatu tempat. Beliau memanggil saya dan berkata: “Ayo adu lari” Aisyah berkata: Kami berdua adu lari dan saya pemenangnya. Pada kesempatan safar yang lain, Rasulullah saw mengajak lomba lari. Aisyah berkata: “Pada kali ini beliau mengalahkanku. Maka Rasulullah saw bersabda: “Kemenangan ini untuk membalas kekalahan sebelumnya.” Allahu A’lam Sumber: http://www.dakwatuna.com/2008/03/28/452/muhammad-sebagai-seorang-suami/#ixzz2yob9ZmRW Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Bukan Hanya Aktivitas, Tidurpun harus Berkualitas


Ikhwah fillah, Allah Subhanahu wa ta’ala telah menciptakan manusia sebagai hamba dalam bentuk sebaik-baiknya dibanding makhluk yang lain. Predikat sebaik-baik hamba ini mengandung konsekuensi logis bahwa manusia harus mengabdikan dirinya kepada Allah dalam bentuk yang paling baik pula. Ketika seorang manusia menginjak baligh dan menjadi mukallaf (dikenai beban hukum), maka saat itu pula ia menyerahkan hidupnya dalam pengabdian kepada Sang pencipta. Hidup ini akan bermakna apabila diisi dengan keimanan yang disertai amal perbuatan berupa amal-amal shalih yang telah Allah dan Rasul-Nya perintahkan. Dan itulah di antara bentuk penghambaan kepada-Nya. Baik dilakukan di siang hari maupun di malamnya. Disela-sela pengabdian diri itu, manusia pasti membutuhkan istirahat sejenak berupa tidur untuk melepas penat dan lelah yang dia rasakan akibat kesibukan aktivitasnya. Bukankah siang hari telah Allah berikan sebagai waktu untuk ia mencari penghidupan, sehingga kecukupan dalam hidup mampu mengantarkannya kepada ketaatan yang tinggi. Begitupun malam yang telah Allah jadikan sebagai waktu mengumpulkan tenaga dan kekuatan lagi agar kuat menghadapi hari berikutnya. Siklus ini telah Allah gambarkan dalam Surat An-Naba’ ayat 9-11, Yaitu : “(9) Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat, (10) Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian, (11) Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.” Tidur merupakan aktivitas rutin yang selalu dilakukan setiap manusia dalam setiap harinya. Kebutuhan ini tidak bisa diganti. Tiada manusia yang bisa hidup tanpa membutuhkan tidur, Yang selalu terjaga dan tidak pernah terlelap. Orang yang tidurnya tidak teratur bahkan kurang, maka akan sangat mempengaruhi kondisi tubuhnya. Misalkan capek, loyo, lunglai, lesu, lemah, sakit dan lain-lain merupakan akibat dari kurangnya tidur. Pada ayat di atas, Malam disebut sebagai pakaian karena malam itu gelap menutupi jagat raya sebagaimana pakaian menutupi tubuh manusia. Kebutuhan akan pakaian tidak bisa dibantah lagi begitupun kebutuhan akan malam hari sebagai waktu melepas penat yang muncul setelah bekerja dan beribadah di siang hari. Pada kondisi ini, seyogyanya tidak berlalu begitu saja. Sia-sia tanpa mampu meraup kebaikan yang bisa didapat. Kebaikan tidur sering kali dianggap sepele bahkan terlupakan oleh sebagian orang. Anggapan remeh dan acuh tak acuh ini, boleh jadi karena belum tahu bagaimana seharusnya tidur yang baik dan bermutu. Banyak di antara kita tidak peduli pada indahnya tidur dalam lindungan Allah Subhanahu wa ta’ala, Padahal kita tidak bisa memastikan keesokan harinya masih dapat menikmati anugerah kehidupan ini atau tidak. Bisa saja Allah tidak mengembalikan ruh yang dicabut ketika tidur. Sehingga persiapan untuk menyerahkan diri kembali dalam sebaik-baik keadaan belum sempat dilakukan. Untuk itu dianjurkan berdoa sebelum kita memejamkan mata di tempat pembaringan. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam sebagai suri tauladan kita telah mencontohkan bagaimana tidur yang baik dan berkualitas. Sehingga tidak hanya ibadah mahdhah (murni) seperti shalat, puasa, zakat, dan lain-lain saja yang harus berkualitas, tidur pun perlu berkualitas. Berikut ini adalah di antara doa dan hal-hal yang perlu kita lakukan untuk memperoleh istirahat dan tidur yang berkualitas tersebut sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Dari Hudzaifah Radhiallahu ‘anhu ia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam apabila akan tidur malam beliau meletakkan tangan di bawah pipi kemudian mengucapkan : “اللهم باسمك أموت وأحيا” “Ya Allah, dengan nama-Mu aku mati dan aku hidup” Dan apabila bangun dari tidur beliau mengucapkan : “الحمد لله الذي أحيانا بعد ما أماتنا واليه النشور” {رواه البخاري} “Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami dan kepada-Nya kami kembali” (HR Al-Bukhari). Hadits yang sama juga diriwayatkan oleh imam Al-Bukhari melalui jalur Abi Dzar Radhiallahu ‘anhu. Sedangkan imam Muslim meriwayatkan dari Al-Barra bin ‘Azib Radhiallahu ‘anhu, sama seperti hadits riwayat Hudzaifah tersebut. Sedangkan dari Aisyah Radhiallahu ‘anha sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam apabila akan mulai tidur setiap malam, beliau sambil membaca : Qul huwallahu ahad, Qul a’udzubirabbil falaq, Qul a’udzubirabbin naas, kemudian mengusap dengan kedua tangan ke seluruh badannya, mulai dari atas kepala dan muka melalui bagian depan dari tubuhnya, sebanyak tiga kali. Ibnu Mas’ud Al-Anshari Radhiallahu ‘anhu meriwayatkan dari Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda : “من قرأ الآيتين من آخر سورة البقرة في ليلة كفتاه {رواه مسلم} “Siapa saja yang membaca dua ayat terakhir dari surat Al-Baqarah maka telah cukup baginya” (HR Muslim) Begitupun riwayat lain dari Al-Barra bin ‘Adzib Radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Apabila kamu mendatangi tempat tidurmu maka berwudhulah sebagaimana wudhu’mu untuk shalat kemudian rebahkan tubuhmu dengan posisi miring ke kanan dan bacalah : اللّهم أسلمت نفسي اليك ووجّهت وجهي اليك وفوّضت أمري اليك وألجأت ظهري اليك رغبة ورهبة اليك لا ملجأ ولا منجا منك الاّ اليك. اللهم آمنت بكتابك الذي أنزلت ونبيّك الذي أرسلت, فان متّ في ليلتك متّ على الفطرة “Ya Allah, aku serahkan diriku kepada-Mu, aku hadapkan wajahku kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu, dan aku sandarkan punggungku karena Engkau dengan rasa cinta dan takut kepada-Mu, tiada tempat mengadu dan tiada tempat memohon melainkan kepada-Mu. Ya Allah, aku beriman kepada kitab-Mu yang telah Engkau turunkan dan kepada Nabi-Mu yang telah Engkau utus. Apabila kamu mati pada malam itu, maka kamu mati dalam keadaan fitrah (suci).” Jadikanlah bacaan-bacaan ini sebagai akhir apa yang kamu ucapkan (HR Al-Bukhari dan Muslim). Dan dalam riwayat Muslim dengan lafazh; dan jadikanlah bacaan-bacaan itu akhir ucapanmu”. Dari Ali Radhiallahu ‘anhu bahwa Fatimah datang kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam untuk meminta pembantu tetapi yang ia dapati hanya Aisyah Radhiallahu ‘anha, maka Fatimah memberitahukan kepadanya. Ali Berkata: “kemudian Nabi datang, sedangkan kami telah mulai berbaring. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Maukah aku tunjukkan kepada kamu berdua tentang sesuatu yang lebih baik bagi kamu berdua daripada seorang pembantu? Apabila kamu hendak memulai tidurmu, maka bertasbihlah 33 kali, bertahmid 33 kali, dan bertakbir 34 kali. Maka sesungguhnya hal itu lebih baik bagi kamu berdua daripada seorang pembantu”. Ali berkata: “tidak pernah aku tinggalkan hal tersebut semenjak aku mendengarnya dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam” (HR Bukhari dan Muslim). Demikianlah di antara tuntunan dan Doa yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam apabila beliau hendak tidur di pembaringannya. Jika kita mengamalkan, dan mendawamkan doa-doa tersebut di setiap hendak tidur niscaya tidur kita akan berkualitas dan menjadi berkah, baik berupa penjagaan dan lindungan Allah Subhanahu wa ta’ala maupun kebaikan yang lainnya. Wallahu a’lam bish-shawab. Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/03/25/48404/bukan-hanya-aktivitas-tidurpun-harus-berkualitas/#ixzz2yoXvi8JZ Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Bekal Menjadi Ibu Profesional


Peradaban berawal dari seorang wanita. Karena ia adalah sekolah pertama bagi manusia yang dilahirkannya. Darinya seorang anak belajar tentang nilai-nilai dasar kehidupan. Maka tak heran jika Allah meletakkan surga-Nya dibawah telapak kaki seorang ibu. Itulah sebuah penghormatan besar dari Allah untuk seorang ibu yang dengan ikhlas dan cerdas mendidik anak-anaknya. Tapi saat ini, banyak wanita yang cenderung mengesampingkan pekerjaan utamanya sebagai ibu. Padahal pekerjaan sebagai ibu adalah pekerjaan mulia yang jika dijalani secara professional akan memperoleh hasil yang sangat besar. Tidak hanya anak-anak hebat dan keluarga bahagia, tapi juga bisa memberi efek lain seperti yang dialami oleh Ibu Septi Peni Wulandari, pemilik komunitas Ibu Profesional yang berpusat di Salatiga, Jawa Tengah. Ibu Septi Peni Wulandari adalah salah satu wanita yang dengan bangga menyatakan bahwa dirinya berprofesi sebagai Ibu Rumah Tangga Profesional. Berawal dari pesan suaminya, ”Bersungguh-sungguhlah kamu di dalam, maka Allah akan menguatkanmu di luar”. Maksud dari pesan suaminya adalah ketika seorang istri/ibu bersungguh-sungguh dalam menjalankan kewajibannya sebagai istri dan ibu maka ia tidak hanya akan mendapatkan keluarga yang bahagia dan anak yang hebat, tapi Allah juga akan menguatkan posisinya di masyarakat. Kesungguhan dalam mendidik anak, dan menjadi manajer keluarga mengantarkan beliau pada kesuksesan ditengah masyarakat, beliau berhasil mendirikan sebuah komunitas Ibu Profesional, bimbingan belajar Jarimatika, Jari Quran, Abacabaca dan mendirikan School of life Lebah Putih. Bu Septi telah mematahkan ketakutan kaum wanita yang sering berpikiran bahwa menjadikan Ibu Rumah Tangga sebagai profesi bukan pilihan yang tepat. Ibu Rumah Tangga Profesional berbeda dengan ibu rumah tangga biasa. Ibu Rumah Tangga Profesional menjadikan rumahnya sebagai tempat bekerja, dan keluarga adalah ranah kerjanya. Membersihkan rumah, mengajari anak belajar, berkumpul bersama keluarga, semua ada jadwalnya. Manajemen keuangan, manajemen gizi dan kesehatan keluarga beliau atur dengan seksama. Namun, tentu saja beliau tidak sendiri. Pak Dodi sebagai suami selalu menguatkan beliau. Pak Dodi dan Bu Septi yang mantan aktivis kampus berusaha menjalankan tugas dalam keluarga secara professional sebagaimana menjalankan organisasi di kampus. Status sebagai istri/ibu bukanlah status sepele. Tanggungjawabnya besar dan perlu kecerdasan dalam menjalaninya. Maka persiapannya pun perlu dilakukan jauh-jauh sebelum meninggalkan masa lajang. “Wanita yang baik pasti akan mendapat lelaki yang baik”, itulah sebuah konsep perjodohan yang tidak boleh dilupakan. Kita sama sekali tidak tahu siapa yang akan menjadi jodoh kita kelak. Harapan kita tentu saja mendapat jodoh yang baik supaya bisa menjadi supporting system ketika kita menjalankan tugas sebagai Ibu Rumah Tangga profesional. Dengan konsep di atas, maka ikhtiar utama kita untuk mendapat jodoh yang baik adalah dengan membuat diri kita baik terlebih dahulu. Menyimpulkan dari kisah ibu Septi, persiapan menjadi ibu professional mencakup beberapa hal. Yaitu mimpi, mental dan keyakinan, ilmu dan finansial. Mimpi Mimpi adalah kekuatan untuk mempertahankan konsistensi. Mimpi harus dibuat dengan baik dan kuat sebelum kita melangkah. Jika tidak memiliki mimpi, maka hidup kita justru akan disibukkan untuk menyukseskan mimpi orang lain. Baik itu orang tua atau orang-orang terdekat kita. “Untuk apa kita menjadi Ibu Rumah Tangga Profesional?” Itulah pertanyaan mendasar yang perlu kita jawab. Kita harus menyadari bahwa anak sangatlah membutuhkan sosok ibu yang cerdas, ia memerlukan pendidikan eksklusif dari ibu sampai umurnya 12 tahun atau sampai ia benar-benar mengerti nilai-nilai dasar kehidupan. Sehingga ketika kelak dewasa, ia bisa menjalani hidupnya dengan baik. Jika dalam usia belasan anak sudah “dewasa”, maka kita justru akan bisa menikmati “pensiun dini”. Menikmati honeymoon dengan suami atau melanjutkan usaha penaklukan mimpi-mimpi lain tanpa perlu mengkhawatirkan nasib anak. Namun bukan berarti kita lepas sepenuhnya. Masih perlu adanya kontrol dan penjagaan. Sehingga sangat perlu ditanamkan keterbukaan dalam keluarga. Mental dan keyakinan Persiapan mental dan keyakinan adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Menjadi ibu profesional bukanlah sesuatu yang mudah. Perlu konsistensi dan keyakinan yang kuat. Mengingat profesi sebagai ibu rumah tangga adalah sesuatu yang sering dilihat sebelah mata. Akan banyak pihak yang menentang. Mungkin keluarga kita atau orang-orang di sekitar kita yang belum paham . Jika tidak kuat mental, kita akan dengan mudah termakan omongan orang lain sehingga akan melemahkan mimpi kita. Keyakinan adalah kekuatan jiwa, dan kekuatan jiwa hanya diperoleh jika kita dekat dengan Allah Yang Mahakuat. Ilmu Ilmu yang perlu dipersiapkan adalah berbagai hal teoritis dan praktis yang menunjang profesi sebagai ibu rumah tangga. Mulai dari memasak, merawat kebersihan rumah, manajeman keuangan, manajemen gizi dan kesehatan, psikologi anak, dsb. Kadang ketika memilih untuk menjadi ibu rumah tangga, kita merasa tidak perlu sekolah tinggi. Padahal hal itu adalah anggapan yang salah. Justru, kita harus sekolah setinggi-tingginya. Karena ilmu kita, apapun itu akan sangat bermanfaat untuk anak-anak kita kelak. Salah satu indikator seseorang dikatakan bijak adalah kemampuan memahami sesuatu tanpa mengalami. Bagi kita yang masih lajang, tentu tidak pernah mengalami yang namanya menjadi istri/ibu. Oleh karena itu, kita perlu banyak belajar dari orang-orang yang pernah mengalaminya. Finansial Dalam hal finansial, alangkah lebih baik jika kita bisa merintis usaha jauh sebelum pernikahan. Sehingga ketika menikah, kita sudah tidak mengkhawatirkan tentang ekonomi. Jika sudah siap ilmu, mental dan dilengkapi dengan finansial, maka kita sudah benar-benar siap menjalankan tugas sebagai Ibu Rumah Tangga professional. Hasil dari kerja kita sebagai Ibu Profesional dapat dilihat ketika anak sudah dewasa. Menjadi orang tua yang sukses adalah dambaan kita. Jangan sampai kelak kita menjadi orang tua yang menyesal karena tidak mendidik anak dengan baik. Jangan sampai kita menjadi orang tua yang menjadikan anak sebagai mesin penyukses mimpi kita. Jangan sampai kelak kita menjadi orang tua yang dilema antara harus ikut campur urusan rumah tangga anak atau membiarkanya karena ia merasa belum memberi bekal yang cukup pada anaknya. Begitu strategisnya peran sebagai ibu. Masa depan anak dan keluarga ada di tangannya. Maka bagi calon ibu, belajar sejak dini adalah kunci agar ketika menjadi ibu nanti dapat mendidik anak dengan baik dan mengurus rumah tangga secara profesional. Jika semua calon ibu saat ini memiliki mimpi menjadi Ibu Profesional, maka dapat dipastikan pada 20-30 tahun ke depan Indonesia akan dipenuhi dengan SDM yang matang dan kuat. Wallahu a’lam bis shawab Sumber: http://www.dakwatuna.com/2014/04/11/49428/bekal-menjadi-ibu-profesional/#ixzz2yoRojkuf Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook