9. Dzikir Jama’ah Dengan Dikomandoi dalam Shalat Tarawih dan Shalat Lima Waktu
Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah tatkala menjelaskan mengenai dzikir setelah shalat, “Tidak diperbolehkan para jama’ah membaca dizkir secara berjama’ah. Akan tetapi yang tepat adalah setiap orang membaca dzikir sendiri-sendiri tanpa dikomandai oleh yang lain. Karena dzikir secara berjama’ah (bersama-sama) adalah sesuatu yang tidak ada tuntunannya dalam syari’at Islam yang suci ini.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 11/189)
10. “Ash Sholaatul Jaami’ah…” untuk Menyeru Jama’ah dalam Shalat Tarawih
Ulama-ulama Hambali berpendapat bahwa tidak ada ucapan untuk memanggil jama’ah dengan ucapan “Ash Sholaatul Jaami’ah…” Menurut mereka, ini termasuk perkara yang diada-adakan (baca: bid’ah). (Lihat Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah Al Kuwaitiyyah, 2/9634, Asy Syamilah)
11. Bubar Terlebih Dahulu Sebelum Imam Selesai Shalat Malam
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةً
“Siapa yang shalat bersama imam sampai ia selesai, maka ditulis untuknya pahala qiyam satu malam penuh.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi. Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 447 mengatakan bahwa hadits ini shahih). Jika imam melaksanakan shalat tarawih ditambah shalat witir, makmum pun seharusnya ikut menyelesaikan bersama imam. Itulah yang lebih tepat.
12. Perayaan Nuzulul Qur’an
Perayaan Nuzulul Qur’an sama sekali tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga tidak pernah dicontohkan oleh para sahabat. Para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah mengatakan,
لَوْ كَانَ خَيرْاً لَسَبَقُوْنَا إِلَيْهِ
“Seandainya amalan tersebut baik, tentu mereka (para sahabat) sudah mendahului kita untuk melakukannya.” Inilah perkataan para ulama pada setiap amalan atau perbuatan yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat. Mereka menggolongkan perbuatan semacam ini sebagai bid’ah. Karena para sahabat tidaklah melihat suatu kebaikan kecuali mereka akan segera melakukannya. (Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, pada tafsir surat Al Ahqof ayat 11)
13. Membayar Zakat Fithri dengan Uang
Syaikh Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz mengatakan, “Seandainya mata uang dianggap sah dalam membayar zakat fithri, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menjelaskan hal ini. Alasannya, karena tidak boleh bagi beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengakhirkan penjelasan padahal sedang dibutuhkan. Seandainya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam membayar zakat fithri dengan uang, tentu para sahabat –radhiyallahu ‘anhum- akan menukil berita tersebut. Kami juga tidak mengetahui ada seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membayar zakat fithri dengan uang. Padahal para sahabat adalah manusia yang paling mengetahui sunnah (ajaran) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan orang yang paling bersemangat dalam menjalankan sunnahnya. Seandainya ada di antara mereka yang membayar zakat fithri dengan uang, tentu hal ini akan dinukil sebagaimana perkataan dan perbuatan mereka yang berkaitan dengan syari’at lainnya dinukil (sampai pada kita).” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 14/208-211)
14. Tidak Mau Mengembalikan Keputusan Penetapan Hari Raya kepada Pemerintah
Al Lajnah Ad Da’imah, komisi Fatwa di Saudi Arabia mengatakan, “Jika di negeri tersebut terjadi perselisihan pendapat (tentang penetapan 1 Syawal), maka hendaklah dikembalikan pada keputusan penguasa muslim di negeri tersebut. Jika penguasa tersebut memilih suatu pendapat, hilanglah perselisihan yang ada dan setiap muslim di negeri tersebut wajib mengikuti pendapatnya.” (Fatawa no. 388)
Demikian beberapa kesalahan atau kekeliruan di bulan Ramadhan yang mesti kita tinggalkan dan mesti kita menasehati saudara kita yang lain untuk meninggalkannya. Tentu saja nasehat ini dengan lemah lembut dan penuh hikmah.
Semoga Allah memberi kita petunjuk, ketakwaan, sifat ‘afaf (menjauhkan diri dari hal yang tidak diperbolehkan) dan memberikan kita kecukupan. Semoga Allah memperbaiki keadaan setiap orang yang membaca risalah ini.
Wa shallallahu wa salaamu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’in. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.
***
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal (www.rumaysho.com)
Tanpa cinta Nya Aku tidak dapat berbuat apa-apa Dengan cinta Nya Tidak ada yang tidak dapat aku lakukan.... Without His love I can do nothing With His love there is nothing I cannot do.
Selasa, 03 Agustus 2010
Untuk Apa Saya Melakukan ini
Assalamu’aliakum wr.wb
Shahabatku yang baik. Semoga Cinta dan Kasih Sayang Allah selalu dapat kita rasakan dengan penuh kesyukuran. Yaitu melalui kerja dan aktivitas kita dihiasi cinta. Sehingga setiap detik yang terus meninggalkan kita, menjadi bukti catatan amal bagi kita kelak, saat Allah membagikan kitab amalan kita masing-masing diyaumil qiyamah.
Dikisahkan adalah seorang murid yang sedang berusaha terus mendekatkan dirinya kepada Allah. Aktivitas nya sehari-hari bekerja sebagai staf perusahaan yang bergerak dibidang jasa. Dia diamanahi pada posisi penanggung jawab, produk development perusahaan tersebut. Dalam perjalanan menggapai Ridho ilahi. Sang murid merenung dan sering melakukan kontemplasi, Apakah yang dia kerjakan sudah diridhoi oleh Allah?
Sementara, dibawah pohon yang rindang itu. Duduklah seorang murid dengan sebuah buku Terapi Ma’rifat bersamanya. Buku itu adalah buku wajib bacaan baginya selama belajar dan berguru dengan gurunya.Halaman demi halaman dia baca. Setiap kata demi kata dia telaah dan cerna maknanya. Kalimat demi kalimat, dia analisa lebih mendalam, bila ada hal yang tidak dia fahami, maka dia tandai untuk disyarah bersama guru nya.
Dalam penelaahannya, sang murid duduk merenung. Karena tanpa dia sadari, saat dia mengunyah susunan kalimat dari Ibnu Athailah itu, fikirannya melayang, terbang dengan imajinasi dan tadabur diri. Tiba-tiba saja dia terfikir dengan aktivitas (kerjaan) yang sedang dia lakukan. Sehingga hadirlah pertanyaan ”Untuk Apa aku melakukan ini?”
Sang murid sadar, Sebaik-baiknya keinginan adalah kemauan dan keinginan bersama dengan kehadirat Allah. Yaitu Sesuai dengan kemauan Allah. Lantas dia berfikir dan bertanya kepada dirinya. Apakah yang aku lakukan ini sesuai dengan keinginan Allah ?
Semakin dia berusaha menjawab, semakin kuat pula pertanyaan itu menyapanya. ”Apakah benar, aku melakukan ini semata-mata untuk Allah (mengharap ridho Allah) sehingga bernilai Ibadah?”. Tergambarkan dengan jelas dalam fikirannya, bentuk tulisan penawaran jasanya kepada orang-orang sekitarnya. Tulisan yang sangat jelas ukiran huruf dan warnanya adalah : ”Mengapa Anda harus membeli jasa yang saya tawarkan?”
Sayup-sayup angin sepoi-sepoi menyentuh tubuhnya. Sang murid bertanya kembali dengan apa yang dia janjikan dalam penawarannya. Mengapa Anda harus membeli jasa saya? Bila disana tertuliskan,”Agar Anda bahagia” . Dia bertanya pada dirinya, sudahkah aku bahagia? Agar hidup Anda bermakna. Sudahkah hidupku ini bermakna? Agar Anda lebih dekat dengan Allah. Sudahkah aku dekat dengan Sang Maha Kasih? Agar Anda punya prinsip hidup. Sudahkah aku berprinsip?
Suara datar masuk kesukma, terdengar kembali oleh nya. Nasehat bijak dari Sang Guru. ”Bagaimana mungkin kamu jadi Muslih, sementara kamu belum shalih. Bagaimana kamu bisa jadi murabbi, sementara kamu belum mutarabbi. Bagaimana mungkin engkau menjadi Mu’allim, sementara kamu belum ’Alim?”
Sambil merebahkan badannya dipokok pohon rindang itu. Sang murid terus mencari dan mencari tau kesungguhan niatnya. Karena kayu yang masih hidup itu, merindangi orang-orang yang berada dibawahnya. Dan angin membelai dengan penuh kelembutan, sang muridpun tenggelam dalam tidur bersama renungannya ”Untuk Apa aku melakukan ini? Apa sungguh karena mengharap ridha Allah, ataukah nafsuku saja?”
Shahabatku yang baik. Semoga Cinta dan Kasih Sayang Allah selalu dapat kita rasakan dengan penuh kesyukuran. Yaitu melalui kerja dan aktivitas kita dihiasi cinta. Sehingga setiap detik yang terus meninggalkan kita, menjadi bukti catatan amal bagi kita kelak, saat Allah membagikan kitab amalan kita masing-masing diyaumil qiyamah.
Dikisahkan adalah seorang murid yang sedang berusaha terus mendekatkan dirinya kepada Allah. Aktivitas nya sehari-hari bekerja sebagai staf perusahaan yang bergerak dibidang jasa. Dia diamanahi pada posisi penanggung jawab, produk development perusahaan tersebut. Dalam perjalanan menggapai Ridho ilahi. Sang murid merenung dan sering melakukan kontemplasi, Apakah yang dia kerjakan sudah diridhoi oleh Allah?
Sementara, dibawah pohon yang rindang itu. Duduklah seorang murid dengan sebuah buku Terapi Ma’rifat bersamanya. Buku itu adalah buku wajib bacaan baginya selama belajar dan berguru dengan gurunya.Halaman demi halaman dia baca. Setiap kata demi kata dia telaah dan cerna maknanya. Kalimat demi kalimat, dia analisa lebih mendalam, bila ada hal yang tidak dia fahami, maka dia tandai untuk disyarah bersama guru nya.
Dalam penelaahannya, sang murid duduk merenung. Karena tanpa dia sadari, saat dia mengunyah susunan kalimat dari Ibnu Athailah itu, fikirannya melayang, terbang dengan imajinasi dan tadabur diri. Tiba-tiba saja dia terfikir dengan aktivitas (kerjaan) yang sedang dia lakukan. Sehingga hadirlah pertanyaan ”Untuk Apa aku melakukan ini?”
Sang murid sadar, Sebaik-baiknya keinginan adalah kemauan dan keinginan bersama dengan kehadirat Allah. Yaitu Sesuai dengan kemauan Allah. Lantas dia berfikir dan bertanya kepada dirinya. Apakah yang aku lakukan ini sesuai dengan keinginan Allah ?
Semakin dia berusaha menjawab, semakin kuat pula pertanyaan itu menyapanya. ”Apakah benar, aku melakukan ini semata-mata untuk Allah (mengharap ridho Allah) sehingga bernilai Ibadah?”. Tergambarkan dengan jelas dalam fikirannya, bentuk tulisan penawaran jasanya kepada orang-orang sekitarnya. Tulisan yang sangat jelas ukiran huruf dan warnanya adalah : ”Mengapa Anda harus membeli jasa yang saya tawarkan?”
Sayup-sayup angin sepoi-sepoi menyentuh tubuhnya. Sang murid bertanya kembali dengan apa yang dia janjikan dalam penawarannya. Mengapa Anda harus membeli jasa saya? Bila disana tertuliskan,”Agar Anda bahagia” . Dia bertanya pada dirinya, sudahkah aku bahagia? Agar hidup Anda bermakna. Sudahkah hidupku ini bermakna? Agar Anda lebih dekat dengan Allah. Sudahkah aku dekat dengan Sang Maha Kasih? Agar Anda punya prinsip hidup. Sudahkah aku berprinsip?
Suara datar masuk kesukma, terdengar kembali oleh nya. Nasehat bijak dari Sang Guru. ”Bagaimana mungkin kamu jadi Muslih, sementara kamu belum shalih. Bagaimana kamu bisa jadi murabbi, sementara kamu belum mutarabbi. Bagaimana mungkin engkau menjadi Mu’allim, sementara kamu belum ’Alim?”
Sambil merebahkan badannya dipokok pohon rindang itu. Sang murid terus mencari dan mencari tau kesungguhan niatnya. Karena kayu yang masih hidup itu, merindangi orang-orang yang berada dibawahnya. Dan angin membelai dengan penuh kelembutan, sang muridpun tenggelam dalam tidur bersama renungannya ”Untuk Apa aku melakukan ini? Apa sungguh karena mengharap ridha Allah, ataukah nafsuku saja?”
Rabu, 28 Juli 2010
MARAH
Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokaatuh
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!” [HR al-Bukhâri]
BAGAIMANA MENGOBATI AMARAH JIKA TELAH BERGEJOLAK?
Orang yang marah hendaklah melakukan hal-hal berikut:
1. Berlindung kepada Allah dari godaan setan dengan membaca:
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.
2. Mengucapkan kalimat-kalimat yang baik, berdzikir, dan istighfar.
3. Hendaklah diam, tidak mengumbar amarah.
4. Dianjurkan berwudhu.
5. Merubah posisi, apabila marah dalam keadaan berdiri hendaklah duduk, dan apabila marah dalam keadaan duduk hendaklah berbaring.
6. Jauhkan hal-hal yang membawa kepada kemarahan.
7. Berikan hak badan untuk beristirahat.
8. Ingatlah akibat jelek dari amarah.
9. Ingatlah keutamaan orang-orang yang dapat menahan amarahnya.
Wallâhu a’lam.
Semoga bermanfaat..
Wassalam...
Sumber: Grup Harmoni Islam
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!” [HR al-Bukhâri]
BAGAIMANA MENGOBATI AMARAH JIKA TELAH BERGEJOLAK?
Orang yang marah hendaklah melakukan hal-hal berikut:
1. Berlindung kepada Allah dari godaan setan dengan membaca:
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ
Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.
2. Mengucapkan kalimat-kalimat yang baik, berdzikir, dan istighfar.
3. Hendaklah diam, tidak mengumbar amarah.
4. Dianjurkan berwudhu.
5. Merubah posisi, apabila marah dalam keadaan berdiri hendaklah duduk, dan apabila marah dalam keadaan duduk hendaklah berbaring.
6. Jauhkan hal-hal yang membawa kepada kemarahan.
7. Berikan hak badan untuk beristirahat.
8. Ingatlah akibat jelek dari amarah.
9. Ingatlah keutamaan orang-orang yang dapat menahan amarahnya.
Wallâhu a’lam.
Semoga bermanfaat..
Wassalam...
Sumber: Grup Harmoni Islam
Langganan:
Postingan (Atom)