Rabu, 18 Mei 2011

4 Sifat Penghuni Surga

Setiap muslim sangat menginginkan kebahagiaan abadi di surga kelak. Kenikmatannya tiada terkira. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,



قَالَ اللَّهُ أَعْدَدْتُ لِعِبَادِى الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنَ رَأَتْ ، وَلاَ أُذُنَ سَمِعَتْ ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ ، فَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ ( فَلاَ تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِىَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ )



“Allah berfirman: Aku sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang sholeh surga yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terbetik dalam hati manusia.” Bacalah firman Allah Ta’ala, “Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As Sajdah: 17) (HR. Bukhari no. 3244 dan Muslim no. 2824)

Ada pelajaran penting dari surat Qaaf (surat yang biasa dibaca Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat khutbah Jum’at[1]) mengenai sifat-sifat penduduk surga. Ada 4 sifat penduduk surga yang disebutkan dalam surat tersebut sebagai berikut,



وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ غَيْرَ بَعِيدٍ (31) هَذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ (32) مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ (33) ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ ذَلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ (34) لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ (35)



“Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Rabb yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat, masukilah surga itu dengan aman, Itulah hari kekekalan. Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya.” (QS. Qaaf: 31-35)



Ada empat sifat yang disebutkan dalam ayat yang mulia ini, yaitu: (1) awwab (hamba yang kembali pada Allah), (2) hafiizh (selalu memelihara aturan Allah), (3) takut pada Allah, dan (4) datang dengan hati yang muniib (bertaubat).



Sifat Pertama: Awwab



Yang dimaksud dengan awwab adalah kembali pada Allah dari maksiat kepada ketaatan pada-Nya, dari hati yang lalai mengingat-Nya kepada hati yang selalu mengingat-Nya.



‘Ubaid bin ‘Umair rahimahullah mengatakan, “Awwab adalah ia mengingat akan dosa yang ia lakukan kemudian ia memohon ampun pada Allah atas dosa tersebut.”



Sa’id bin Al Musayyib[2] rahimahullah berkata, “Yang dimaksud awwab adalah orang yang berbuat dosa lalu ia bertaubat, kemudian ia terjerumus lagi dalam dosa, lalu ia bertaubat.”



Sifat Kedua: Hafiizh



Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Ia menjaga amanat yang Allah janjikan untuknya dan ia pun menjalankannya.”



Qotadah rahimahullah mengatakan, “Ia menjaga kewajiban dan nikmat yang Allah janjikan untuknya.”



Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Perlu diketahui nafsu itu ada dua kekuatan yaitu kekuatan offensive (menyerang) dan kekuatan defensive (bertahan). Yang dimaksud dengan awwab adalah kuatnya offensive dengan kembali pada Allah, mengharapkan ridho-Nya dan taat pada-Nya. Sedangkan hafiizh adalah kuatnya defensive yaitu menahan diri dari maksiat dan hal yang terlarang. Jadi hafiizh adalah menahan diri dari larangan Allah, sedangkan awwab adalah menghadap pada Allah dengan melakukan ketaatan pada-Nya.”



Sifat Ketiga: Takut pada Allah



Dalam firman Allah (yang artinya), “Orang yang takut kepada Rabb yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya)”, terkandung makna pengakuan akan adanya Allah, akan rububiyah-Nya, akan ketentuan-Nya, akan ilmu dan pengetahuan Allah yang mendetail pada setiap keadaan hamba. Juga di dalamnya terkandung keimanan pada kitab, rasul, perintah dan larangan Allah. Begitu pula di dalamnya terkandung keimanan pada janji baik Allah, ancaman-Nya, dan perjumpaan dengan-Nya. Begitu pula di dalamnya terkandung keimanan pada janji baik Allah, ancaman-Nya, dan perjumpaan dengan-Nya. Seseorang dikatakan takut pada Allah (Ar Rahman) haruslah dengan memenuhi hal-hal yang telah disebutkan tadi.



Sifat Keempat: Datang dengan hati yang muniib



Yang dimaksudkan dengan datang dengan hati yang muniib dijelaskan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “Kembali (dengan bertaubat) dari bermaksiat pada Allah, melakukan ketaatan, mencintai ketataan tersebut dan menerimanya.”



Intinya yang dimaksud dengan sifat penghuni surga yang keempat adalah kembali kepada Allah dengan hati yang selamat, bertaubat pada-Nya, dan tunduk pada-Nya.



Semoga dengan mengetahui empat sifat penghuni surga ini membuat kita semakin dekat pada Allah, bertaubat, menjauhi maksiat dan kembali taat pada-Nya. Sehingga kita dapat berjumpa dengan Allah dengan hati yang selamat. Aamiin Yaa Mujibas Saailin.



-Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat-



References:



Fawaidul Fawaid, Ibnul Qayyim, hal. 142-143, terbitan Dar Ibnul Jauzi.



Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 13/197, terbitan Muassasah Qurthubah.







Panggang-Gunung Kidul, 15 Jumada Al Awwal 1432 H (18/04/2011)



www.rumaysho.com

Kuliah sambil "Ngaji"

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.



Kegiatan kuliah terasa amat menyibukkan. Sibuk dengan berbagai tugas, harus buat presentasi, menyusun laporan praktikum dan lebih sibuk lagi jika sudah menginjak semester-semester akhir. Apakah mungkin kesibukan ini bisa dibarengi dengan menuntut ilmu agama? Jawabannya, mungkin sekali. Segala kemudahan itu datang dari Allah. Maka bisa saja seorang engineer menjadi pakar fiqih. Bisa jadi pula seorang ekonom menjadi pakar hadits. Atau seorang ahli biologi menjadi hafizh Al Qur’an. Semua itu bisa terwujud karena anugerah dan kemudahan dari Allah.







Realitas, Lebih Banyak Menyia-nyiakan Waktu



Mahasiswa sebenarnya punya banyak waktu senggang. Cuma sebagian mahasiswa saja yang benar-benar menyia-nyiakan waktunya. Tidak setiap saat ia mesti mendapatkan tugas. Tidak setiap hari mesti kerjakan laporan praktikum. Mahasiswa yang tidak pintar membagi waktu saja yang selalu “sok sibuk”.



Sebagian mahasiswa masih bisa menyisihkan waktu untuk renang dengan shohib dekatnya. Ia masih sempat juga untuk fitness meskipun di kala laporan praktikum menumpuk. Ia juga masih sempat berpetualang menjelajah berbagai gunung meskipun minggu depan ada ujian mid. Ia masih bisa begadang semalam suntuk untuk menanti pertandingan Liga Champions meskipun katanya ada banyak tugas yang mesti diselesaikan. Sebagiannya pula bisa menyisihkan waktu untuk update status setiap jam di FB (Facebook), twitter dan semacamnya. Mau tidur, mau makan, mau renang, bahkan mau ke WC sekali pun bisa ada statusnya di jejaring sosial tadi. Namun soal ngaji (istilah untuk mendalami ilmu agama) bisa menjadi nomor sekian baginya. Padahal aneh kan, hal-hal tadi bisa ia lakukan. Sedangkan berkaitan dengan urusan akhiratnya di mana ia wajib mempelajari Islam karena ibadah-ibadah tertentu akan ia lewati setiap harinya. Setiap muslim tentu mesti mengetahui bagaimanakah ia harus berwudhu yang benar sehingga shalatnya pun bisa sah. Ia pun harus tahu apa saja yang termasuk pembatal-pembatal shalat, sehingga shalatnya tidak jadi sia-sia. Ia pun harus tahu bagaimana mandi wajib.



Lihatlah mereka bisa menyisihkan waktu untuk hal-hal dunia yang kadang sia-sia. Namun untuk hal yang menyangkut akhirat mereka, di mana tentu ini lebih urgent, mereka tidak bisa membagi waktu dengan baik. Benarlah firman Allah Ta’ala,



يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ



“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar Ruum: 7).



Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairi hafizhohullah menjelaskan, “Mereka mengetahui kehidupan dunia secara lahiriah saja seperti mengetahui bagaimana cara mengais rizki dari pertanian, perindustrian dan perdagangan. Di saat itu, mereka benar-benar lalai dari akhirat. Mereka sungguh lalai terhadap hal yang wajib mereka tunaikan dan harus mereka hindari, di mana penunaian ini akan mengantarkan mereka selamat dari siksa neraka dan akan menetapi surga Ar Rahman.” (Aysarut Tafasir, 4/124-125)







Beberapa Sampel



Beberapa orang bisa membuktikan bahwa mereka di samping kuliah di pagi hari, sore harinya masih bisa “ngaji” (menuntut ilmu agama). Bahkan ada di antara mahasiswa yang bisa menjadi hafizh Al Quran dengan sempurna di masa kuliahnya. Ada pula yang bisa menguasai ilmu aqidah dengan baik padahal ia seorang dokter. Setelah kuliah pun ia bisa menyusun beberapa buku berkaitan dengan masalah aqidah dari hasil ia belajar di saat-saat kuliah dulu (paginya kuliah, sorenya ia duduk di majelis ilmu). Ada pula yang amat pakar dalam bahasa Arab dan menjadi seorang ustadz yang mumpuni dalam hal aqidah serta ilmu lainnya, padahal ia adalah sarjana biologi. Yang lainnya lagi adalah seorang dosen (lulus S3), namun tidak diragukan ia sangat mumpuni dalam ilmu hadits hasil dari belajar dulu bersama beberapa ustadz di saat-saat ia kuliah. Bahkan di Arab Saudi sendiri ada seorang ulama yang dulunya adalah seorang yang belajar ilmu Teknik Kimia. Dan saat ini, beliau menjadi imam dan ulama yang jadi rujukan. Ia pun memiliki situs yang berisi berbagai fatwa yang sering dikunjungi dari berbagai negara. Ada lagi ulama yang dahulunya belajar ilmu teknik mesin. Saat lulus ia mendalami ilmu hadits dan menjadi hafizh al quran. Karya-karya beliau dalam tulisan pun amat banyak. Dua ulama yang kami sebutkan di sini adalah Syaikh Sholeh Al Munajjid dan Syaikh Musthofa Al Adawi hafizhohumallah.



Itu sekedar beberapa contoh riil yang kami ketahui. Kami yakin masih banyak contoh-contoh lainnya yang mungkin para pembaca sendiri mengetahuinya. Ini pertanda bahwa orang yang belajar ilmu umum (ilmu teknik, ekonomi, IT, dll) sebenarnya tidak terhalang untuk belajar agama bahkan bisa menjadi ulama atau pun ustadz karena kerajinannya di luar jam kuliah untuk mengkaji Islam. Itulah karunia Allah untuk mereka-mereka tadi.







Mulai Belajar Islam



Kalau sudah tahu demikian, Anda selaku mahasiswa seharusnya tidak usah ragu lagi untuk menaruh perhatian pada ilmu diin (ilmu agama). Cobalah mulai dengan mempelajari Islam mulai dari dasar. Terutama pelajarilah hal-hal yang wajib yang jika Anda tidak mengetahuinya maka bisa terjerumus dalam dosa atau bisa meninggalkan kewajiban. Inilah ilmu yang wajib dipelajari.



Selaku mahasiswa wajib punya ilmu aqidah dan tauhid yang benar sesuai dengan pemahaman generasi terbaik Islam (salafush sholeh). Cobalah mempelajari beberapa tulisan karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab seperti Qowa’idul Arba’ (empat kaedah memahami syirik), Tsalatsatul Ushul (tiga landasan dalam mengenal Allah, Islam dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), dan Kitab Tauhid (pelajaran tauhid dan syirik secara lebih detail). Kitab-kitab aqidah pun ada yang mudah dipelajari seperti Al ‘Aqidah Al Wasithiyah karya Ibnu Taimiyah dan Al ‘Aqidah Ath Thohawiyah karya Abu Ja’far Ath Thohawiy.



Anda pun wajib mempelajari fiqih secara bertahap terutama pelajaran bagaimana cara wudhu yang benar, bagaimana cara mandi wajib, dan bagaimana shalat yang benar serta berbagai hal yang berkaitan dengan hal-hal tadi. Amat mudah jika Anda menguasai dari fiqh madzhab sebagaimana anjuran para ulama. Karena di negeri ini menganut madzhab Syafi’i, Anda bisa belajar dari berbagai kitab fiqh Syafi’iyah. Pelajari dari matan-matan yang ringkas seperti kitab Al Ghoyah wat Taqrib karya Abu Syuja’ dan Minhajuth Tholibin karya Imam An Nawawi. Inilah kitab dasar yang bisa Anda kuasai. Setelah itu bisa melanjutkan dengan kitab fiqih yang lebih advance dengan mendalami dalil-dalil lebih jauh. Baru setelah itu bisa menelaah berbagai pendapat ulama dan perselisihan mereka dalam hal fiqih sehingga akhirnya kita tidak fanatik pada satu madzhab atau satu imam. Anda pun bisa menguasai fiqih melalui berbagai buku hadits seperti dari kitab ‘Umdatul Ahkam karya ‘Abdul Ghoni Al Maqdisi dan kitab Bulughul Marom karya Ibnu Hajar Al Asqolani. Untuk memahami kitab-kitab fiqih ini, Anda bisa memiliki berbagai kitab syarh (penjelasan) dari masing-masing kitab.



Buku-buku yang kami sebutkan di atas sudah cukup mudah ditemukan saat ini di berbagai toko buku Islam bahkan sudah banyak yang diterjemahkan. Sehingga tidak ada alasan bagi yang belum menguasai bahasa Arab untuk terus belajar. Namun jika Anda sambil menguasai bahasa Arab terutama menguasai grammar-nya dalam ilmu Nahwu dan Sharaf itu lebih baik. Karena menguasai bahasa tersebut bisa membuat Anda meneliti lebih jauh kitab-kitab ulama secara lebih mandiri.



Selain mempelajari hal-hal di atas, tambahkan pula dengan mempelajari berbagai kitab akhlaq dan tazkiyatun nufus (manajemen hati). Juga janganlah sampai tinggalkan hafalan Al Qur’an. Karena orang yang menghafal Al Qur’an sungguh memiliki banyak keutamaan dan faedah di tengah-tengah umat. Lebih-lebih di akhirat hafalan Al Qur’an ini membuat dia lebih ditinggikan derajat di surga. Lalu para ulama pun menganjurkan untuk menghafal berbagai matan atau berbagai kitab ringkas seperti menghafalkan kitab kecil yang berisi 42 hadits yaitu Al Arba’in An Nawawiyah. Menghafal seperti ini memudahkan kita menguasai ilmu Islam dengan lebih mudah.







Sabar dalam Belajar



Kalau dilihat, terasa begitu banyak yang harus dipelajari. Sebenarnya tidak juga karena mempelajari berbagai buku di atas itu bertingkat-tingkat. Ada yang lebih dasar, baru setelah itu beranjak pada yang lebih lanjut. Jadi belajar yang baik adalah secara bertahap. Sehingga di sini butuh kesabaran dalam belajar dan belajar butuh waktu yang lama. Yang terbaik pula adalah belajar di majelis ilmu lewat guru. Lihatlah sya’ir Imam Asy Syafi’i,



أَخِي لَنْ تَنَالَ الْعِلْمَ إلَّا بِسِتَّةٍ سَأُنْبِيكَ عَنْ تَفْصِيلِهَا بِبَيَانِ



ذَكَاءٌ وَحِرْصٌ وَاجْتِهَادٌ وَبُلْغَةٌ وَصُحْبَةُ أُسْتَاذٍ وَطُولُ زَمَانٍ



Saudaraku … ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan enam perkara yang akan saya beritahukan perinciannya : (1) kecerdasan, (2) semangat, (3) sungguh-sungguh, (4) berkecukupan, (5) bersahabat (belajar) dengan ustadz, (6) membutuhkan waktu yang lama.







Pintar Bagi Waktu



Modal yang penting “nyambi” belajar Islam adalah pintar membagi waktu. Cobalah membagi waktu mulai dari Shubuh hari sudah bisa menghafal Al Qur’an. Butuh satu jam untuk menyisihkan waktu kala itu. Setelah itu sediakan waktu untuk persiapan kuliah di pagi hari. Pukul 7 atau 8 sudah bisa berangkat ke kampus. Di waktu-waktu shalat atau waktu senggang saat di kampus bisa digunakan untuk muroja’ah Al Qur’an atau mengerjakan tugas-tugas kampus sehingga tidak menumpuk keesokan harinya. Pulang kampus di siang atau sore hari bisa istirahat sejenak untuk menghilangkan rasa capek. Di sore hari sehabis ‘Ashar bisa digunakan untuk mengikuti berbagai majelis ilmu sampai dengan waktu ‘Isya. Di waktu malam bisa digunakan untuk mengerjakan tugas kuliah. Sebelum tidur bisa digunakan menghafal berbagai matan, mengulang hafalan Al Qur’an atau mengulang pelajaran yang ikuti di kajian.



Jadi cuma kepintaran saja membagi waktu, niscaya kita bisa kuliah sambil “ngaji”. Dan jangan lupakan minta pertolongan Allah agar dimudahkan mempelajari agama di samping kuliah. Doa ini amat menolong. Jika kita memohon kemudahan pada Allah, pasti segala urusan tadi akan begitu mudah. Berbeda halnya jika kita bergantung pada diri sendiri yang begitu lemah.



Semoga Allah mudahkan kita selaku mahasiswa untuk dapat meraih keduanya, bahkan bisa menjadi pakar pula dalam ilmu agama dan bisa turut membantu dakwah agar tersebar seantero negeri kita ini.



Wallahu waliyyut taufiq.







Panggang-Gunung Kidul, 24 Jumadal Ula 1432 H (27/04/2011)



www.rumaysho.com

Kamis, 12 Mei 2011

Kaya Hati, Itulah Kaya Senyatanya

Orang kaya pastikah selalu merasa cukup? Belum tentu. Betapa banyak orang kaya namun masih merasa kekurangan. Hatinya tidak merasa puas dengan apa yang diberi Sang Pemberi Rizki. Ia masih terus mencari-cari apa yang belum ia raih. Hatinya masih terasa hampa karena ada saja yang belum ia raih.

Coba kita perhatikan nasehat suri tauladan kita. Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051)

Dalam riwayat Ibnu Hibban, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasehat berharga kepada sahabat Abu Dzar. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata,

قَالَ لِي رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا أَبَا ذَرّ أَتَرَى كَثْرَة الْمَال هُوَ الْغِنَى ؟ قُلْت : نَعَمْ . قَالَ : وَتَرَى قِلَّة الْمَال هُوَ الْفَقْر ؟ قُلْت : نَعَمْ يَا رَسُول اللَّه . قَالَ : إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْب ، وَالْفَقْر فَقْر الْقَلْب

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya (ghoni)?” “Betul,” jawab Abu Dzar. Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” “Betul,” Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa. Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang namanya kaya (ghoni) adalah kayanya hati (hati yang selalu merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas).” (HR. Ibnu Hibban. Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)

Inilah nasehat dari suri tauladan kita. Nasehat ini sungguh berharga. Dari sini seorang insan bisa menerungkan bahwa banyaknya harta dan kemewahan dunia bukanlah jalan untuk meraih kebahagiaan senyatanya. Orang kaya selalu merasa kurang puas. Jika diberi selembah gunung berupa emas, ia pun masih mencari lembah yang kedua, ketiga dan seterusnya. Oleh karena itu, kekayaan senyatanya adalah hati yang selalu merasa cukup dengan apa yang Allah beri. Itulah yang namanya qona’ah. Itulah yang disebut dengan ghoni (kaya) yang sebenarnya.

Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Hakikat kekayaan sebenarnya bukanlah dengan banyaknya harta. Karena begitu banyak orang yang diluaskan rizki berupa harta oleh Allah, namun ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang diberi. Orang seperti ini selalu berusaha keras untuk menambah dan terus menambah harta. Ia pun tidak peduli dari manakah harta tersebut ia peroleh. Orang semacam inilah yang seakan-akan begitu fakir karena usaha kerasnya untuk terus menerus memuaskan dirinya dengan harta. Perlu dikencamkan baik-baik bawa hakikat kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati (hati yang selalu ghoni, selalu merasa cukup). Orang yang kaya hati inilah yang selalu merasa cukup dengan apa yang diberi, selalu merasa qona’ah (puas) dengan yang diperoleh dan selalu ridho atas ketentuan Allah. Orang semacam ini tidak begitu tamak untuk menambah harta dan ia tidak seperti orang yang tidak pernah letih untuk terus menambahnya. Kondisi orang semacam inilah yang disebut ghoni (yaitu kaya yang sebenarnya).”

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah menerangkan pula, “Orang yang disifati dengan kaya hati adalah orang yang selalu qona’ah (merasa puas) dengan rizki yang Allah beri. Ia tidak begitu tamak untuk menambahnya tanpa ada kebutuhan. Ia pun tidak seperti orang yang tidak pernah letih untuk mencarinya. Ia tidak meminta-minta dengan bersumpah untuk menambah hartanya. Bahkan yang terjadi padanya ialah ia selalu ridho dengan pembagian Allah yang Maha Adil padanya. Orang inilah yang seakan-akan kaya selamanya.

Sedangkan orang yang disifati dengan miskin hati adalah kebalikan dari orang pertama tadi. Orang seperti ini tidak pernah qona’ah (merasa pus) terhadap apa yang diberi. Bahkan ia terus berusaha kerus untuk menambah dan terus menambah dengan cara apa pun (entah cara halal maupun haram). Jika ia tidak menggapai apa yang ia cari, ia pun merasa amat sedih. Dialah seakan-akan orang yang fakir, yang miskin harta karena ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah diberi. Oran inilah orang yang tidak kaya pada hakikatnya.

Intinya, orang yang kaya hati berawal dari sikap selalu ridho dan menerima segala ketentuan Allah Ta’ala. Ia tahu bahwa apa yang Allah beri, itulah yang terbaik dan akan senatiasa terus ada. Sikap inilah yang membuatnya enggan untuk menambah apa yang ia cari.”

Perkataan yang amat bagus diungkapkan oleh para ulama:

غِنَى النَّفْس مَا يَكْفِيك مِنْ سَدّ حَاجَة فَإِنْ زَادَ شَيْئًا عَادَ ذَاكَ الْغِنَى فَقْرًا

“Kaya hati adalah merasa cukup pada segala yang engkau butuh. Jika lebih dari itu dan terus engkau cari, maka itu berarti bukanlah ghina (kaya hati), namun malah fakir (miskinnya hati).”[1]

An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Kaya yang terpuji adalah kaya hati, hati yang selalu merasa puas dan tidak tamak dalam mencari kemewahan dunia. Kaya yang terpuji bukanlah dengan banyaknya harta dan terus menerus ingin menambah dan terus menambah. Karena barangsiapa yang terus mencari dalam rangka untuk menambah, ia tentu tidak pernah merasa puas. Sebenarnya ia bukanlah orang yang kaya hati.”[2]

Namun bukan berarti kita tidak boleh kaya harta. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ

“Tidak apa-apa dengan kaya bagi orang yang bertakwa. Dan sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan bahagia itu bagian dari kenikmatan.” (HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad 4/69. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dari sini bukan berarti kita tercela untuk kaya harta, namun yang tercela adalah tidak pernah merasa cukup dan puas (qona’ah) dengan apa yang Allah beri. Padahal sungguh beruntung orang yang punya sifat qona’ah. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim no. 1054)

Sifat qona’ah dan selalu merasa cukup itulah yang selalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minta pada Allah dalam do’anya. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

أنَّ النبيَّ - صلى الله عليه وسلم - كَانَ يقول : (( اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a: “Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina” (Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina).” (HR. Muslim no. 2721). An Nawawi –rahimahullah- mengatakan, “”Afaf dan ‘iffah bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan. Sedangkan al ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia.”[3]

Saudaraku ... milikilah sifat qona’ah, kaya hati yang selalu merasa cukup dengan apa yang Allah beri. Semoga Allah menganugerahkan kita sekalian sifat yang mulia ini.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.



Panggang-GK, 1 Jumadits Tsani 1431 H (14/05/2010)

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel Majalah Pengusaha Muslim, dipublish ulang oleh www.rumasyho.com

Ketika Justin Bieber Jadi Idola

Siapa tak kenal penyanyi idola asal Kanada, Justin Bieber. Penyanyi ini masih berusia remaja, namun sudah bisa sejajar dengan para penyanyi senior lainnya. Bagi kalangan anak remaja anak baru gede (ABG) khususnya puteri, nama Justin Bieber sudah pasti tidak asing di telinga mereka. Pada tanggal 23 April ini, Justin dikabarkan menghentak Jakarta dengan tembang-tembangnya. Gara-gara kedatangannya di sebagian tempat seperti di salah satu mal di Jakarta terjadi antrean yang mengular demi mendapatkan tiket konser Justin. Padahal harga tiket yang dijual termasuk mahal. Untuk kelas festival, harga tiket dipatok Rp 1 juta. Bahkan dikabarkan untuk ngantri saja, ada yang sudah ngantri sejak shuhuh, padahal loket pembelian tiket baru dibuka pukul 09.00 WIB.

Menyayangkan Kondisi ABG

Yang kami ingin angkat dalam bahasan ini adalah mengenai keadaan remaja saat ini, yang sudah semakin jauh dari agama mereka. Pergaulan kebanyakan mereka sudah semakin rusak. Yang jadi idola pun bukanlah seorang muslim. Mereka lebih mengenal Justin Bieber, mungkin dikenal pula tanggal lahir sampai pada hobinya. Mereka lebih mengenalnya dari Nabi panutan mereka sendiri. Coba tanyakan saja pada para remaja, banyak yang tidak tahu di mana Nabi mereka lahir, di Makkah atau di Madinah. Mungkin bisa jadi ada yang beri jawaban yang ngawur kalau Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam lahir di Palestina karena saking jahilnya. Sungguh prihatin. Ini baru mengenal Nabi mereka saja. Belum lagi mengenal seluk beluk lainnya tentang Islam. Coba tanyakan kembali, “Tahu gak jika di malam hari mimpi basah harus mandi junub?” Barangkali jawaban baliknya, “Bagaimana cara mandi junub? Saya gak tahu”. Subhanallah ... Padahal kondisi seperti ini akan ia temui di saat ia dewasa. Lantas kenapa sampai hal yang wajib diilmui seperti ini tidak diketahui? Dalam masalah lainnya pun kita bisa turut sedih. Banyak remaja yang saat ini yang tidak bisa baca Al Qur’an, atau mungkin baru bisa sampai pelajaran iqro’ jilid 2. Sejak kecil hanya tahu bagaimana bisa pintar ngomong Inggris. Al Qur’an jadi nomor 1000 untuk dikuasai karena mesti les Inggris, bela diri, les piano, les tari, dan lainnya. Wallahul musta’an.

Kondisi para remaja saat ini tidak jauh dari yang Allah sebutkan dalam ayat,

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar Ruum: 7)

Pasti di masa tua remaja-remaja seperti ini akan penuh penyesalan dan menyesali hidupnya di masa muda. Remaja yang selalu menjaga hak Allah dengan mentauhidkan-Nya, rajin menjaga shalat dan kewajiban lainnya, serta selalu memperhatikan agamanya, pasti Allah akan menjaga dirinya (kondisi fisiknya dan rohaniahnya) di masa tuanya. Lihat yang dikisahkan oleh Ibnu Rajab berikut ini.

Ibnu Rajab rahimahullah pernah menceritakan bahwa sebagian ulama ada yang sudah berusia di atas 100 tahun. Namun ketika itu, mereka masih diberi kekuatan dan kecerdasan. Coba bayangkan bagaimana dengan keadaan orang-orang saat ini yang berusia seperti itu? Diceritakan bahwa di antara ulama tersebut pernah melompat dengan lompatan yang amat jauh. Kenapa bisa seperti itu? Ulama tersebut mengatakan, “Anggota badan ini selalu aku jaga agar jangan sampai berbuat maksiat di kala aku muda. Balasannya, Allah menjaga anggota badanku ini di waktu tuaku.”Namun ada orang yang sebaliknya, sudah berusia senja, jompo dan biasa mengemis pada manusia. Para ulama pun mengatakan tentang orang tersebut, “Inilah orang yang selalu melalaikan hak Allah di waktu mudanya, maka Allah pun melalaikan dirinya di waktu tuanya.”[1]

Tunggu saja balasannya di masa tua bagi remaja yang penuh kelalaian, hidup hanya ingin foya-foya, lalai akan kewajiban shalat dan lainnya atau yang punya prinsip “mumpung masih muda, foya-foya sajalah dulu”. Lihat saja nanti ketika kondisinya sudah lemah dan jompo, baru ia sesali masa mudanya.

Ingatlah selalu nasehat nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam. Manfaatkanlah masa muda kita sebelum datang masa tua kita nanti. Dalam hadits riwayat Al Hakim dalam Mustadroknya disebutkan,

اِغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَ صِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَ غِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَ فَرَاغَكَ قَبْلَ شَغْلِكَ وَ حَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

“Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara: (1) Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, (2) Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, (3) Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, (4) Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, (5) Hidupmu sebelum datang kematianmu.”[2]

Ketika Justin Lebih Jadi Idola

Justin benar-benar jadi idola yang luar biasa. Padahal Justin hanyalah seorang remaja. Coba saja lihat sampai mesti ngantri untuk dapat tiketnya meskipun harus menunggu berjam-jam. Padahal jika kita perhatikan Justin sendiri bukanlah muslim. Yang patut kita ingat, kita diperintahkan oleh Allah Ta’ala untuk punya rasa benci pada musuh Allah dari kalangan orang kafir (non muslim). Allah Ta’ala berfirman,

لا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya” (QS. Al Mujadilah: 22).

Tidakkah kita renungkan pula bahwa seseorang akan dikumpulkan dengan orang yang ia cintai dan yang dijadikan idola. Dalam hadits riwayat Ath Thobroni, dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَا يُحِبّ أَحَد قَوْمًا إِلَّا حُشِرَ مَعَهُمْ يَوْم الْقِيَامَة

“Tidaklah seseorang mencintai suatu kaum melainkan dia akan dikumpulkan bersama mereka pada hari kiamat nanti.”[3] Bagaimana jika yang dicintai dan diidolakan adalah seorang penyanyi dan itu non muslim?! Semoga bisa jadi renungan! Seharusnya yang jadi idola dan yang dicintai adalah para Nabi, para sahabat dan orang sholih, maka engkau akan bahagia berkumpul bersama mereka.

Dalam riwayat dalam Shohih Bukhari, Anas mengatakan,

فَمَا فَرِحْنَا بِشَىْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - « أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ » . قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّى إِيَّاهُمْ ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ

“Kami tidaklah pernah merasa gembira sebagaimana rasa gembira kami ketika mendengar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: Anta ma’a man ahbabta (Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai).”

Anas pun mengatakan,

فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّى إِيَّاهُمْ ، وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ

“Kalau begitu aku mencintai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Abu Bakar, dan ‘Umar. Aku berharap bisa bersama dengan mereka karena kecintaanku pada mereka, walaupun aku tidak bisa beramal seperti amalan mereka.”[4]

Orang Tua yang Sudah Tidak Ambil Peduli

Remaja-remaja bisa jadi rusak seperti ini, itu pun karena sikap orang tua mereka yang tidak ambil peduli. Tidak sedikit orang tua yang tidak lagi memperhatikan shalat anaknya. Ketika ada acara TV atau ada acara konser, tidak pernah ortu mengajak anaknya untuk melaksanakan shalat lima waktu. Orang tua tidak lagi peduli anaknya bisa baca Al Qur’an atau tidak. Ortu lebih senang jika anaknya ikut les bahasa Inggris, les piano daripada tiap sore mesti ke masjid untuk ikut TPA mempelajari kitab suci Al Qur’an. Ortu pun tidak punya rasa peduli, terserah saja anaknya ingin digandeng oleh lelaki siapa saja. Nantinya ketika sudah terjadi perzinaan barulah datang penyesalan.

Padahal selaku orang tua diperintahkan untuk menjaga diri dan anak-anak dari jilatan neraka. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At Tahrim: 6). ‘Ali bin Abi Tholib menjelaskan maksud ayat ini, “Ajarkanlah kebaikan untuk dirimu dan keluargamu.” Ibnu ‘Abbas menjelaskan, “Beramallah dengan melakukan ketaatan pada Allah dan jauhilah berbuat maksiat pada-Nya. Perintahkanlah pula keluargamu untuk berdzikir (banyak mengingat Allah) sehingga Allah menyelamatkan kalian dari neraka.”[5]

Kepala rumah tangga (ayah) yang membiarkan perbuatan maksiat pada keluarganya itulah yang disebutkan dalam hadits sebagai ad dayyuts. Dalam hadits riwayat An Nasai, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثَلَاثَةٌ لَا يَنْظُرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَيْهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْعَاقُّ لِوَالِدَيْهِ وَالْمَرْأَةُ الْمُتَرَجِّلَةُ وَالدَّيُّوثُ

“Tiga orang yang tidak akan dilihat oleh Allah ‘azza wa jalla pada hari kiamat yaitu: (1) orang yang durhaka pada orang tua, (2) wanita yang menyerupai laki-laki, (3) ad dayyuts.”[6] Ad dayyuts adalah seorang suami atau bapak yang membiarkan terjadinya perbuatan buruk dalam keluarganya.[7]

Apalagi jika kita menilik tembang-tembang itu sendiri termasuk perbuatan mungkar dan maksiat sebagaimana disepakati oleh para ulama madzhab. Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Tidak ada satu pun dari empat ulama madzhab yang berselisih pendapat mengenai haramnya alat musik.”[8] Ibnu Mas’ud mengatakan, “Nyanyian menumbuhkan kemunafikan dalam hati sebagaimana air menumbuhkan sayuran.”[9] Imam Asy Syafi’i. Beliau berkata, “Nyanyian adalah suatu hal yang sia-sia yang tidak kusukai karena nyanyian itu adalah seperti kebatilan. Siapa saja yang sudah kecanduan mendengarkan nyanyian, maka persaksiannya tertolak.”[10]

Semoga Allah memperbaiki keadaan remaja saat ini untuk kembali taat pada Allah dan juga memberi taufik pada setiap orang tua untuk memperhatikan anak-anak mereka dalam ketaatan.

Wallahu waliyyut taufiq.



My best friend request (Amrullah), finished @ Panggang-Gunung Kidul, 20 Jumadal Ula 1432 H (23/04/2011)

Artikel www.remajaislam.com, dipublish ulang oleh www.rumaysho.com

Kuliah sambil "Ngaji"

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Kegiatan kuliah terasa amat menyibukkan. Sibuk dengan berbagai tugas, harus buat presentasi, menyusun laporan praktikum dan lebih sibuk lagi jika sudah menginjak semester-semester akhir. Apakah mungkin kesibukan ini bisa dibarengi dengan menuntut ilmu agama? Jawabannya, mungkin sekali. Segala kemudahan itu datang dari Allah. Maka bisa saja seorang engineer menjadi pakar fiqih. Bisa jadi pula seorang ekonom menjadi pakar hadits. Atau seorang ahli biologi menjadi hafizh Al Qur’an. Semua itu bisa terwujud karena anugerah dan kemudahan dari Allah.



Realitas, Lebih Banyak Menyia-nyiakan Waktu

Mahasiswa sebenarnya punya banyak waktu senggang. Cuma sebagian mahasiswa saja yang benar-benar menyia-nyiakan waktunya. Tidak setiap saat ia mesti mendapatkan tugas. Tidak setiap hari mesti kerjakan laporan praktikum. Mahasiswa yang tidak pintar membagi waktu saja yang selalu “sok sibuk”.

Sebagian mahasiswa masih bisa menyisihkan waktu untuk renang dengan shohib dekatnya. Ia masih sempat juga untuk fitness meskipun di kala laporan praktikum menumpuk. Ia juga masih sempat berpetualang menjelajah berbagai gunung meskipun minggu depan ada ujian mid. Ia masih bisa begadang semalam suntuk untuk menanti pertandingan Liga Champions meskipun katanya ada banyak tugas yang mesti diselesaikan. Sebagiannya pula bisa menyisihkan waktu untuk update status setiap jam di FB (Facebook), twitter dan semacamnya. Mau tidur, mau makan, mau renang, bahkan mau ke WC sekali pun bisa ada statusnya di jejaring sosial tadi. Namun soal ngaji (istilah untuk mendalami ilmu agama) bisa menjadi nomor sekian baginya. Padahal aneh kan, hal-hal tadi bisa ia lakukan. Sedangkan berkaitan dengan urusan akhiratnya di mana ia wajib mempelajari Islam karena ibadah-ibadah tertentu akan ia lewati setiap harinya. Setiap muslim tentu mesti mengetahui bagaimanakah ia harus berwudhu yang benar sehingga shalatnya pun bisa sah. Ia pun harus tahu apa saja yang termasuk pembatal-pembatal shalat, sehingga shalatnya tidak jadi sia-sia. Ia pun harus tahu bagaimana mandi wajib.

Lihatlah mereka bisa menyisihkan waktu untuk hal-hal dunia yang kadang sia-sia. Namun untuk hal yang menyangkut akhirat mereka, di mana tentu ini lebih urgent, mereka tidak bisa membagi waktu dengan baik. Benarlah firman Allah Ta’ala,

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia; sedang mereka tentang (kehidupan) akhirat adalah lalai.” (QS. Ar Ruum: 7).

Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairi hafizhohullah menjelaskan, “Mereka mengetahui kehidupan dunia secara lahiriah saja seperti mengetahui bagaimana cara mengais rizki dari pertanian, perindustrian dan perdagangan. Di saat itu, mereka benar-benar lalai dari akhirat. Mereka sungguh lalai terhadap hal yang wajib mereka tunaikan dan harus mereka hindari, di mana penunaian ini akan mengantarkan mereka selamat dari siksa neraka dan akan menetapi surga Ar Rahman.” (Aysarut Tafasir, 4/124-125)



Beberapa Sampel

Beberapa orang bisa membuktikan bahwa mereka di samping kuliah di pagi hari, sore harinya masih bisa “ngaji” (menuntut ilmu agama). Bahkan ada di antara mahasiswa yang bisa menjadi hafizh Al Quran dengan sempurna di masa kuliahnya. Ada pula yang bisa menguasai ilmu aqidah dengan baik padahal ia seorang dokter. Setelah kuliah pun ia bisa menyusun beberapa buku berkaitan dengan masalah aqidah dari hasil ia belajar di saat-saat kuliah dulu (paginya kuliah, sorenya ia duduk di majelis ilmu). Ada pula yang amat pakar dalam bahasa Arab dan menjadi seorang ustadz yang mumpuni dalam hal aqidah serta ilmu lainnya, padahal ia adalah sarjana biologi. Yang lainnya lagi adalah seorang dosen (lulus S3), namun tidak diragukan ia sangat mumpuni dalam ilmu hadits hasil dari belajar dulu bersama beberapa ustadz di saat-saat ia kuliah. Bahkan di Arab Saudi sendiri ada seorang ulama yang dulunya adalah seorang yang belajar ilmu Teknik Kimia. Dan saat ini, beliau menjadi imam dan ulama yang jadi rujukan. Ia pun memiliki situs yang berisi berbagai fatwa yang sering dikunjungi dari berbagai negara. Ada lagi ulama yang dahulunya belajar ilmu teknik mesin. Saat lulus ia mendalami ilmu hadits dan menjadi hafizh al quran. Karya-karya beliau dalam tulisan pun amat banyak. Dua ulama yang kami sebutkan di sini adalah Syaikh Sholeh Al Munajjid dan Syaikh Musthofa Al Adawi hafizhohumallah.

Itu sekedar beberapa contoh riil yang kami ketahui. Kami yakin masih banyak contoh-contoh lainnya yang mungkin para pembaca sendiri mengetahuinya. Ini pertanda bahwa orang yang belajar ilmu umum (ilmu teknik, ekonomi, IT, dll) sebenarnya tidak terhalang untuk belajar agama bahkan bisa menjadi ulama atau pun ustadz karena kerajinannya di luar jam kuliah untuk mengkaji Islam. Itulah karunia Allah untuk mereka-mereka tadi.



Mulai Belajar Islam

Kalau sudah tahu demikian, Anda selaku mahasiswa seharusnya tidak usah ragu lagi untuk menaruh perhatian pada ilmu diin (ilmu agama). Cobalah mulai dengan mempelajari Islam mulai dari dasar. Terutama pelajarilah hal-hal yang wajib yang jika Anda tidak mengetahuinya maka bisa terjerumus dalam dosa atau bisa meninggalkan kewajiban. Inilah ilmu yang wajib dipelajari.

Selaku mahasiswa wajib punya ilmu aqidah dan tauhid yang benar sesuai dengan pemahaman generasi terbaik Islam (salafush sholeh). Cobalah mempelajari beberapa tulisan karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab seperti Qowa’idul Arba’ (empat kaedah memahami syirik), Tsalatsatul Ushul (tiga landasan dalam mengenal Allah, Islam dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), dan Kitab Tauhid (pelajaran tauhid dan syirik secara lebih detail). Kitab-kitab aqidah pun ada yang mudah dipelajari seperti Al ‘Aqidah Al Wasithiyah karya Ibnu Taimiyah dan Al ‘Aqidah Ath Thohawiyah karya Abu Ja’far Ath Thohawiy.

Anda pun wajib mempelajari fiqih secara bertahap terutama pelajaran bagaimana cara wudhu yang benar, bagaimana cara mandi wajib, dan bagaimana shalat yang benar serta berbagai hal yang berkaitan dengan hal-hal tadi. Amat mudah jika Anda menguasai dari fiqh madzhab sebagaimana anjuran para ulama. Karena di negeri ini menganut madzhab Syafi’i, Anda bisa belajar dari berbagai kitab fiqh Syafi’iyah. Pelajari dari matan-matan yang ringkas seperti kitab Al Ghoyah wat Taqrib karya Abu Syuja’ dan Minhajuth Tholibin karya Imam An Nawawi. Inilah kitab dasar yang bisa Anda kuasai. Setelah itu bisa melanjutkan dengan kitab fiqih yang lebih advance dengan mendalami dalil-dalil lebih jauh. Baru setelah itu bisa menelaah berbagai pendapat ulama dan perselisihan mereka dalam hal fiqih sehingga akhirnya kita tidak fanatik pada satu madzhab atau satu imam. Anda pun bisa menguasai fiqih melalui berbagai buku hadits seperti dari kitab ‘Umdatul Ahkam karya ‘Abdul Ghoni Al Maqdisi dan kitab Bulughul Marom karya Ibnu Hajar Al Asqolani. Untuk memahami kitab-kitab fiqih ini, Anda bisa memiliki berbagai kitab syarh (penjelasan) dari masing-masing kitab.

Buku-buku yang kami sebutkan di atas sudah cukup mudah ditemukan saat ini di berbagai toko buku Islam bahkan sudah banyak yang diterjemahkan. Sehingga tidak ada alasan bagi yang belum menguasai bahasa Arab untuk terus belajar. Namun jika Anda sambil menguasai bahasa Arab terutama menguasai grammar-nya dalam ilmu Nahwu dan Sharaf itu lebih baik. Karena menguasai bahasa tersebut bisa membuat Anda meneliti lebih jauh kitab-kitab ulama secara lebih mandiri.

Selain mempelajari hal-hal di atas, tambahkan pula dengan mempelajari berbagai kitab akhlaq dan tazkiyatun nufus (manajemen hati). Juga janganlah sampai tinggalkan hafalan Al Qur’an. Karena orang yang menghafal Al Qur’an sungguh memiliki banyak keutamaan dan faedah di tengah-tengah umat. Lebih-lebih di akhirat hafalan Al Qur’an ini membuat dia lebih ditinggikan derajat di surga. Lalu para ulama pun menganjurkan untuk menghafal berbagai matan atau berbagai kitab ringkas seperti menghafalkan kitab kecil yang berisi 42 hadits yaitu Al Arba’in An Nawawiyah. Menghafal seperti ini memudahkan kita menguasai ilmu Islam dengan lebih mudah.



Sabar dalam Belajar

Kalau dilihat, terasa begitu banyak yang harus dipelajari. Sebenarnya tidak juga karena mempelajari berbagai buku di atas itu bertingkat-tingkat. Ada yang lebih dasar, baru setelah itu beranjak pada yang lebih lanjut. Jadi belajar yang baik adalah secara bertahap. Sehingga di sini butuh kesabaran dalam belajar dan belajar butuh waktu yang lama. Yang terbaik pula adalah belajar di majelis ilmu lewat guru. Lihatlah sya’ir Imam Asy Syafi’i,

أَخِي لَنْ تَنَالَ الْعِلْمَ إلَّا بِسِتَّةٍ سَأُنْبِيكَ عَنْ تَفْصِيلِهَا بِبَيَانِ

ذَكَاءٌ وَحِرْصٌ وَاجْتِهَادٌ وَبُلْغَةٌ وَصُحْبَةُ أُسْتَاذٍ وَطُولُ زَمَانٍ

Saudaraku … ilmu tidak akan diperoleh kecuali dengan enam perkara yang akan saya beritahukan perinciannya : (1) kecerdasan, (2) semangat, (3) sungguh-sungguh, (4) berkecukupan, (5) bersahabat (belajar) dengan ustadz, (6) membutuhkan waktu yang lama.



Pintar Bagi Waktu

Modal yang penting “nyambi” belajar Islam adalah pintar membagi waktu. Cobalah membagi waktu mulai dari Shubuh hari sudah bisa menghafal Al Qur’an. Butuh satu jam untuk menyisihkan waktu kala itu. Setelah itu sediakan waktu untuk persiapan kuliah di pagi hari. Pukul 7 atau 8 sudah bisa berangkat ke kampus. Di waktu-waktu shalat atau waktu senggang saat di kampus bisa digunakan untuk muroja’ah Al Qur’an atau mengerjakan tugas-tugas kampus sehingga tidak menumpuk keesokan harinya. Pulang kampus di siang atau sore hari bisa istirahat sejenak untuk menghilangkan rasa capek. Di sore hari sehabis ‘Ashar bisa digunakan untuk mengikuti berbagai majelis ilmu sampai dengan waktu ‘Isya. Di waktu malam bisa digunakan untuk mengerjakan tugas kuliah. Sebelum tidur bisa digunakan menghafal berbagai matan, mengulang hafalan Al Qur’an atau mengulang pelajaran yang ikuti di kajian.

Jadi cuma kepintaran saja membagi waktu, niscaya kita bisa kuliah sambil “ngaji”. Dan jangan lupakan minta pertolongan Allah agar dimudahkan mempelajari agama di samping kuliah. Doa ini amat menolong. Jika kita memohon kemudahan pada Allah, pasti segala urusan tadi akan begitu mudah. Berbeda halnya jika kita bergantung pada diri sendiri yang begitu lemah.

Semoga Allah mudahkan kita selaku mahasiswa untuk dapat meraih keduanya, bahkan bisa menjadi pakar pula dalam ilmu agama dan bisa turut membantu dakwah agar tersebar seantero negeri kita ini.

Wallahu waliyyut taufiq.



Panggang-Gunung Kidul, 24 Jumadal Ula 1432 H (27/04/2011)

www.rumaysho.com

4 Sifat Penghuni Surga

Setiap muslim sangat menginginkan kebahagiaan abadi di surga kelak. Kenikmatannya tiada terkira. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللَّهُ أَعْدَدْتُ لِعِبَادِى الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنَ رَأَتْ ، وَلاَ أُذُنَ سَمِعَتْ ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ ، فَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ ( فَلاَ تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِىَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ )

“Allah berfirman: Aku sediakan bagi hamba-hamba-Ku yang sholeh surga yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pernah terbetik dalam hati manusia.” Bacalah firman Allah Ta’ala, “Tak seorang pun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.” (QS. As Sajdah: 17) (HR. Bukhari no. 3244 dan Muslim no. 2824)
Ada pelajaran penting dari surat Qaaf (surat yang biasa dibaca Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat khutbah Jum’at[1]) mengenai sifat-sifat penduduk surga. Ada 4 sifat penduduk surga yang disebutkan dalam surat tersebut sebagai berikut,

وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ غَيْرَ بَعِيدٍ (31) هَذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ (32) مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ (33) ادْخُلُوهَا بِسَلَامٍ ذَلِكَ يَوْمُ الْخُلُودِ (34) لَهُمْ مَا يَشَاءُونَ فِيهَا وَلَدَيْنَا مَزِيدٌ (35)

“Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Rabb yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat, masukilah surga itu dengan aman, Itulah hari kekekalan. Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya.” (QS. Qaaf: 31-35)

Ada empat sifat yang disebutkan dalam ayat yang mulia ini, yaitu: (1) awwab (hamba yang kembali pada Allah), (2) hafiizh (selalu memelihara aturan Allah), (3) takut pada Allah, dan (4) datang dengan hati yang muniib (bertaubat).

Sifat Pertama: Awwab

Yang dimaksud dengan awwab adalah kembali pada Allah dari maksiat kepada ketaatan pada-Nya, dari hati yang lalai mengingat-Nya kepada hati yang selalu mengingat-Nya.

‘Ubaid bin ‘Umair rahimahullah mengatakan, “Awwab adalah ia mengingat akan dosa yang ia lakukan kemudian ia memohon ampun pada Allah atas dosa tersebut.”

Sa’id bin Al Musayyib[2] rahimahullah berkata, “Yang dimaksud awwab adalah orang yang berbuat dosa lalu ia bertaubat, kemudian ia terjerumus lagi dalam dosa, lalu ia bertaubat.”

Sifat Kedua: Hafiizh

Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Ia menjaga amanat yang Allah janjikan untuknya dan ia pun menjalankannya.”

Qotadah rahimahullah mengatakan, “Ia menjaga kewajiban dan nikmat yang Allah janjikan untuknya.”

Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan, “Perlu diketahui nafsu itu ada dua kekuatan yaitu kekuatan offensive (menyerang) dan kekuatan defensive (bertahan). Yang dimaksud dengan awwab adalah kuatnya offensive dengan kembali pada Allah, mengharapkan ridho-Nya dan taat pada-Nya. Sedangkan hafiizh adalah kuatnya defensive yaitu menahan diri dari maksiat dan hal yang terlarang. Jadi hafiizh adalah menahan diri dari larangan Allah, sedangkan awwab adalah menghadap pada Allah dengan melakukan ketaatan pada-Nya.”

Sifat Ketiga: Takut pada Allah

Dalam firman Allah (yang artinya), “Orang yang takut kepada Rabb yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya)”, terkandung makna pengakuan akan adanya Allah, akan rububiyah-Nya, akan ketentuan-Nya, akan ilmu dan pengetahuan Allah yang mendetail pada setiap keadaan hamba. Juga di dalamnya terkandung keimanan pada kitab, rasul, perintah dan larangan Allah. Begitu pula di dalamnya terkandung keimanan pada janji baik Allah, ancaman-Nya, dan perjumpaan dengan-Nya. Begitu pula di dalamnya terkandung keimanan pada janji baik Allah, ancaman-Nya, dan perjumpaan dengan-Nya. Seseorang dikatakan takut pada Allah (Ar Rahman) haruslah dengan memenuhi hal-hal yang telah disebutkan tadi.

Sifat Keempat: Datang dengan hati yang muniib

Yang dimaksudkan dengan datang dengan hati yang muniib dijelaskan oleh Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, “Kembali (dengan bertaubat) dari bermaksiat pada Allah, melakukan ketaatan, mencintai ketataan tersebut dan menerimanya.”

Intinya yang dimaksud dengan sifat penghuni surga yang keempat adalah kembali kepada Allah dengan hati yang selamat, bertaubat pada-Nya, dan tunduk pada-Nya.

Semoga dengan mengetahui empat sifat penghuni surga ini membuat kita semakin dekat pada Allah, bertaubat, menjauhi maksiat dan kembali taat pada-Nya. Sehingga kita dapat berjumpa dengan Allah dengan hati yang selamat. Aamiin Yaa Mujibas Saailin.

-Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat-

References:

Fawaidul Fawaid, Ibnul Qayyim, hal. 142-143, terbitan Dar Ibnul Jauzi.

Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, Ibnu Katsir, 13/197, terbitan Muassasah Qurthubah.



Panggang-Gunung Kidul, 15 Jumada Al Awwal 1432 H (18/04/2011)

www.rumaysho.com

Doa Meminta Panjang Umur dan Banyak Harta

Alhamdulillah, wa shalaatu wa salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in.

Meminta panjang umur dan banyak harta adalah suatu hal yang dibolehkan bahkan termasuk do’a Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada beberapa sahabatnya dan juga banyak didukung oleh dalil lainnya. Namun do’a yang diminta di sini ditambahkan dengan do’a keberkahan di dalamnya. Karena panjang umur dan banyak harta semata tidaklah mendatangkan kebaikan kecuali jika diisi dengan kebaikan.



Diriwayatkan dari Imam Al Bukhari, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mendatangi Ummu Sulaim (ibunya Anas). Ketika itu Ummu Sulaim mengatakan bahwa Anas (anaknya) siap menjadi pelayan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau mendoakan Anas dalam urusan akhirat dan dunianya. Di antara do’a beliau pada Anas adalah,

اللَّهُمَّ ارْزُقْهُ مَالًا، وَوَلَدًا، وَبَارِكْ لَهُ

“Ya Allah, tambahkanlah rizki padanya berupa harta dan anak serta berkahilah dia dengan nikmat tersebut.” (HR. Bukhari no. 1982 dan Muslim no. 660)

Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan Anas dengan do’a,

اللَّهُمَّ أَكْثِرْ مَالَهُ وَوَلَدَهُ ، وَبَارِكْ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتَهُ

“Ya Allah, perbanyaklah harta dan anaknya, serta berkahilah apa yang engkau karuniakan padanya.” (HR. Bukhari no. 6334 dan Muslim no. 2480)

Dalam do’a di atas terdapat dalil bolehnya meminta pada Allah banyak harta dan banyak anak serta keberkahan dalam harta dan anak. Dan di sini terdapat anjuran untuk mendoakan hal dunia namun disertai dengan mendoakan keberkahan di dalamnya. Yang namanya berkah adalah bertambahnya kebaikan dan kebaikan tersebut tetap terus ada. Harta dan anak bisa jadi berfaedah jika dimanfaatkan dalam kebaikan.

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hadits tersebut menunjukkan bolehnya berdo’a meminta banyak harta dan banyak anak pada Allah. Dan hal ini sama sekali tidak menafikan kebaikan ukhrowi (akhirat).” (Fathul Bari, 4/229)

Sedangkan dalil bolehnya meminta panjang umur (asalkan dimanfaatkan dalam kebaikan) adalah hadits dari ‘Abdurrahman bin Abi Bakroh, dari ayahnya Abu Bakroh bahwa ada seseorang yang bertanya pada Rasulullah,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ خَيْرٌ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ ». قَالَ فَأَىُّ النَّاسِ شَرٌّ قَالَ « مَنْ طَالَ عُمُرُهُ وَسَاءَ عَمَلُهُ »

“Wahai Rasulullah, manusia mana yang dikatakan baik?” Beliau menjawab, “Yang panjang umurnya namun baik amalnya.” “Lalu manusia mana yang dikatakan jelek?”, tanya laki-laki tadi. Beliau menjawab, “Yang panjang umurnya namun jelek amalnya.” (HR. Tirmidzi no. 2330, beliau katakan bahwa hadits ini hasan shahih. Syaikh Al Albani berkata bahwa hadits ini shahih lighoirihi). Yang dimaksud dengan “baik amalnya” adalah apabila amalan tersebut ikhlas dan ittiba’ (mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Dari hadits di atas terdapat faedah mengenai bolehnya meminta pada Allah panjang umur namun panjang umur di sini dikaitkan dengan ketaatan pada Allah atau baiknya amalan. Jika panjang umur diisi dengan maksiat, maka sungguh sia-sia dan tidak berfaedah sama sekali nikmat yang diberi. Jadi yang bermanfaat adalah meminta panjang umur namun dengan disertai meminta bisa terus beramal sholeh. Berdo’a pada Allah dengan meminta panjang umur sama sekali tidak bertentangan dengan ketentuan Allah dalam Lauhul Mahfuzh karena do’a itu sendiri adalah bagian dari takdir Allah yang telah dicatat.

Namun amat bagus sekali jika do’a tersebut diakhiri dengan meminta maghfirah (ampunan) dari Allah setelah meminta urusan duniawi. Karena tentu saja maghfirah lebih penting dari hal-hal dunia tadi. Dengan maghfirah dari Allah, seseorang akan mendapatkan keselamatan dan keberuntungan di akhirat. Seharusnya seseorang menjadikan akhirat sebagai maksud utamanya. Dicontohkan dalam do’a Nabi Sulaiman ‘alaihis salam berikut ini,

رَبِّ اغْفِرْ لِي وَهَبْ لِي مُلْكًا لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ مِنْ بَعْدِي إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

“Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pemberi.” (QS. Shad: 38). Lihatlah do’a Nabi yang mulia ini, selain meminta anugerah kerajaan, sebelumnya beliau panjatkan doa meminta maghfirah (ampunan) dari Allah. Jika Nabi seperti Sulaiman saja masih memohon maghfiroh dari Allah, maka kita yang penuh kekurangan dan seringkali melampaui batas tentu lebih pantas untuk banyak memohon maghfiroh dari Allah.

Dari penjelasan di atas dalam buku Ad Du’a minal Kitab was Sunnah, Syaikh Sa’id bin Wahf Al Qohthoni hafizhohullah menyusun doa yang amat bagus sebagai berikut,

اللَّهُمَّ أكْثِرْ مَالِي، وَوَلَدِي، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أعْطَيْتَنِي وَأطِلْ حَيَاتِي عَلَى طَاعَتِكَ، وَأحْسِنْ عَمَلِي وَاغْفِرْ لِي

“Allahumma ak-tsir maalii wa waladii, wa baarik lii fiimaa a’thoitanii wa athil hayaatii ‘ala tho’atik wa ahsin ‘amalii wagh-fir lii (Ya Allah perbanyaklah harta dan anakku serta berkahilah karunia yang Engkau beri. Panjangkanlah umurku dalam ketaatan pada-Mu dan baguskanlah amalku serta ampunilah dosa-dosaku).” Doa ini adalah intisari dari dalil-dalil yang telah disebutkan di atas.[1]

Moga doa sederhana bisa kita amalkan. Semoga Allah menganugerahkan kita harta yang berkah, umur yang diberkahi dalam beramal sholeh dan senantiasa mendapatkan ampunan-Nya.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

sumber : http://rumaysho.com/belajar-islam/amalan/3429-doa-meminta-panjang-umur-dan-banyak-harta.html

Rabu, 11 Mei 2011

Sepuluh Kaidah Menuju Istiqamah

At Tauhid edisi VII/18

Oleh: Yhouga Ariesta

Istiqamah, sebuah perkara yang sangat didambakan setiap muslim. Karena hanya dengan istiqamah di atas iman dan islam hingga akhir hayat, seorang hamba akan menuai kebahagiaan hakiki di dunia dan di akherat.

Berikut ini sepuluh kaidah menuju istiqomah, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua…

Pertama

Saudaraku seiman, perlu diketahui bahwasanya istiqamah semata-mata merupakan karunia dari Allah. Dia memberi petunjuk kepada jalan yang lurus, bagi siapa saja yang dia kehendaki. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Allah mengajak (manusia) ke Darussalam (surga) dan memberikan petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus” (QS. Yunus: 25).

Bahkan tidak kurang dari 17 kali dalam sehari semalam, kita memohon istiqamah melalui ayat dalam Al Fatihah, “Ihdinash shirathal mustaqim”. Jika seorang hamba meyakini hal ini, maka ia akan mengikatkan hatinya kepada Allah Ta’ala, dengan senantiasa berdoa agar diberikan istiqamah dalam menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Kedua

Ketahuilah bahwasanya hakikat istiqamah yaitu berkomitmen di atas jalan Allah Ta’ala. Dia berfirman (yang artinya), “Dan bahwa (yang kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am: 153)

Ketiga

Ketahuilah bahwasanya istiqamah yang paling pokok ialah istiqamahnya hati. Jika hati seorang hamba istiqamah maka anggota badan yang lain pun akan istiqamah. Diriwayatkan dari shahabat Anas radhiyallaahu ‘anhu secara marfu’, “Tidak akan istiqamah (dengan sempurna, pent) keimanan seorang hamba sampai hatinya istiqamah, dan hati seorang hamba tidak akan istiqamah sampai lisannya bisa istiqamah.” (HR. Ahmad). Terdapat ungkapan pula dalam bahasa Arab, Al mar’u bi asghoroihi, seseorang itu tergantung dengan dua anggota tubuh kecilnya, yaitu hati dan lisan.

Keempat

Ketahuilah bahwasanya istiqamah yang dituntut yaitu as saddad, yaitu berusaha semaksimal mungkin untuk menjalankan sunnah Nabi shallallaahu ‘alahi wa sallam dengan sebaik-baiknya. Apabila kita tidak mampu, maka berusahalah untuk mendekati sunnah tersebut. Sebagaimana Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Wa qaaribu wa saddidu” (HR. Muslim). Yaitu maknanya berusahalah semaksimal mungkin dalam menetapi suatu amalan, namun jika tidak mampu maka minimal berusahalah untuk mendekati hal tersebut (yaitu mengerjakannya dengan sedikit namun kontinyu –pen).

Kelima

Istiqamah itu berkaitan dengan perkataan, perbuatan, dan juga niat. Artinya seluruh anggota tubuh kita dituntut agar selalu istiqamah. Lantas bagaimana upaya kita untuk mencapainya? Jawabannya terdapat dalam sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh manusia itu, terdapat sekerat daging yang apabila baik, maka baik pula seluruh tubuhnya, dan jika rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah, sekerat daging itu ialah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Diriwayatkan dari shahabat Abu Sa’id Al Khudry, Rasulullah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika anak Adam memasuki waktu pagi, maka seluruh anggota tubuhnya berpesan kepada lisan seraya berkata, ‘Bertaqwalah kepada Allah karena kami bergantung padamu. Jika engkau lurus, kamipun ikut lurus dan jika engkau bengkok, maka kamipun ikut bengkok” (HR. Tirmidzi). Sesungguhnya seluruh amal perbuatan kita hanyalah mengikuti hati dan lisan kita, jika hati dan lisan baik, maka seluruh anggota tubuh akan baik pula. Maka perhatikanlah hal ini, saudaraku.

Keenam

Istiqamah harus dilakukan lillah, billah, wa ‘ala amrillah. Lillah yaitu dilakukan ikhlas karena Allah, semata-mata mengharap wajah Allah Ta’ala (yang artinya). “Maka istiqamahlah kalian kepada-Nya” (QS. Fushilat : 6). Allah memerintahkan kita untuk istiqamah, yang artinya bahwa istiqamah termasuk bagian dari ibadah. Ibadah tidak akan diterima melainkan dengan ikhlas. Billah, bahwasanya istiqamah hanya dapat dilakukan dengan mengharap pertolongan dari Allah Ta’ala.

Oleh karena itu sebelum kita meminta istiqamah, terlebih dahulu kita meminta pertolongan Allah, “Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in” Hanya kepadaMu-lah kami beribadah dan hanya kepadaMu-lah kami memohon pertolongan. Allah Ta’ala juga berfirman, “Maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya” (QS. Hud : 123). Perintah untuk bertawakkal menunjukkan perintah untuk senantiasa memohon pertolongan kepada Allah. Terakhir, ‘ala ‘amrillah, harus sesuai dengan syariat Allah. “Maka istiqamahlah kamu, sebagaimana apa yang telah diperintahkan kepadamu” (QS. Hud : 112).

Ketujuh

Seseorang yang telah mampu mencapai derajat istiqamah, tidak boleh merasa hebat dengan amalannya, tertipu dengan amalannya, dan ujub (bangga). Namun hendaknya ia senantiasa bersandar kepada Allah, bersungguh-sungguh, dan berharap kepada Allah agar amalan-amalannya diterima. “Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Mu’minun : 60). Dalam ayat ini Allah katakan bahwa setelah orang-orang mukmin tersebut beramal shalih, justru hati mereka merasa takut, yaitu takut jika amalan mereka tidak diterima oleh Allah Ta’ala.

Kedelapan

Barangsiapa yang Allah beri petunjuk untuk istiqamah selama di dunia, maka Allah akan memberinya istiqamah pula ketika melewati ash shirath, yaitu jembatan yang dibentangkan di atas permukaan api neraka. Sesuai dengan kadar istiqamahnya selama di dunia, seperti itulah kadar istiqamahnya ketika melewati jembatan tersebut. Maka kemampuan setiap orang berbeda-beda tatkala melewati ash shirath, ada yang melesat seperti petir, ada yang seperti angin, kuda, unta, dalam keadaan berlari, berjalan, bahkan ada yang terlempar ke dalam api neraka.

Oleh karena itu saudaraku, ingatlah bahwa hasil jerih payah kita selama di dunia untuk istiqamah akan terganjar di akhirat kelak. Semakin kita mampu untuk istiqamah selama di dunia, semakin kita mampu untuk istiqamah dalam melewati ash shirath kelak.

Kesembilan

Bahwasanya hal-hal yang dapat menghalangi seseorang dari istiqamah ada dua, yaitu syubhat dan syahwat. Syubhat berkaitan dengan aqidah dan pemikiran yang menyimpang, dan syahwat berkaitan dengan hawa nafsu. Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan “Rasulullah membuat garis dengan tangannya lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah yang lurus.’ Lalu beliau membuat garis-garis di kanan kirinya, kemudian bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan yang sesat tak satu pun dari jalan-jalan ini kecuali di dalamnya terdapat syaithan yang menyeru kepadanya.” (HR. Ahmad dan Nasa’i, shahih). Garis-garis di kanan kiri itulah syubhat dan syahwat yang selalu menghalangi seseorang dari istiqamah. Oleh karena itulah kita harus waspada terhadap kedua hal ini. Semoga Allah senantiasa memberi kita kemampuan untuk menjauhi penyakit syubhat dan syahwat.

Kesepuluh

Diantara bentuk keluar dari istiqamah ialah tasyabbuh (meniru-niru) kaum Yahudi dan Nasrani. Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dia berkata, ”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk darinya”. (HR. Abu Daud, shahih). Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Niscaya kamu akan mengikuti tradisi orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai sekiranya mereka masuk kedalam lubang Dhob (sejenis biawak) tentu kamu akan mengikuti mereka” (HR. Bukhari dan Muslim).

Hal ini menunjukkan betapa “bersemangatnya” kaum muslimin dalam mengikuti tradisi kaum Yahudi dan Nasrani. Oleh karena itu ketika kita membaca surat Al Fatihah, “Tunjukilah Kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al Fatihah : 6-7), ketahuilah bahwasanya orang-orang yang dimurkai ialah kaum Yahudi, dan orang-orang yang sesat ialah kaum Nasrani.

Kaum Yahudi dimurkai karena mereka memiliki kitab, memiliki ilmu, namun tidak diamalkan. Sedangkan kaum Nasrani dimurkai karena mereka ahli ibadah, namun tanpa diiringi dengan ilmu hingga terjerumus dalam berbagai bentuk tata cara ibadah yang tidak disyariatkan oleh Allah Ta’ala (lihat Tafsir Ibnu Katsir). Oleh karena itu diantara bentuk menghindari tasyabbuh dengan kedua golongan tersebut, ialah berilmu dan mengamalkan ilmu tersebut.

(diringkas dari ceramah Syaikh Abdurrazzaq bin Abdil Muhsin Al Badr, yang diterjemahkan oleh Ustadz Firanda Andirja, Lc., MA hafizhahumallahu ta’ala, dengan penambahan dari makalah Ustadz Muhammad Nur Ihsan, MA “Sepuluh Kaidah Menuju Istiqamah”) [Yhouga Ariesta*]

* Penulis adalah alumni Ma’had Al-‘Ilmi Yogyakarta, menjadi koordinator website muslim.or.id, dan sekarang sedang menyelesaikan studi S-1 di jurusan Teknik Sipil UGM.

Infiltrasi Teologi Kabbalah Dalam Psikologi

"Mengapa kita harus terkejut ketika diberi fakta bahwa inti pelajaran-pelajaran di sekolah kita 95% adalah ajaran setanisme? Toh kita telah membuang Tuhan Yang Maha Esa dari sekolah-sekolah umum kita sudah sejak awal tahun 1960-an. Jadi, sekarang sekolah milik kita telah dibersihkan dari Tuhan selama tiga dekade, sekarang saatnya untuk memperkenalkan agama Anti-Kristus, murni Setanisme. Namun, pengenalan ini, setidaknya pada tahap awal, harus disamarkan, sehingga sebagian besar guru dan pengelola sekolah akan tertipu untuk sifat sejati ajaran ini. Jadi, Setanisme ajaran ini telah diperkenalkan ke sekolah-sekolah kita dengan kedok psikologi"

Kata-kata ini penulis ambil dari ucapan David Bay, seorang praktisi pendidikan di Amerika yang berang bukan kepalang. Ia bicara lantang dihadapan para guru untuk menyadarkan bahwa selama ini mereka telah tertipu. Tertipu oleh apa? Tertipu oleh psikologi.

Psikologi di Barat memang menjadi musuh Tuhan. Ia tidak mengenal lagi batasan teologis dimana manusia harus menghamba kepadaNya. Namun dibalik kekecewaan Bay, orang tidak menyadari darimanakah istilah psikologi ini muncul.

Pergulatan Psyche

Suatu ketika Almarhum Sukanto MM, salah seorang akademisi yang begitu konsen terhadap Psikologi, sekaligus pencetus Nafsiologi, merasa keheranan yang luar biasa. Ia begitu bingung kenapa nama psikologi harus diambil dari istilah psyche, gubahan Plato, filosof Yunani Kuno klasik dari 25 abad yang lalu itu. Padahal Plato hanya memberikan sinyal psyche dari hasil lamunan semata, bersifat insitingtif dan pastinya spekulatif. Jika ditelusuri lebih jauh Plato dalam hipotesanya membagi manusia menjadi tiga bagian, yakni, akal (kepala), afeksi (dada), dan nafsu (perut).

Almarhum Sukanto menangkap jelas bahwa struktur psyche Plato mengalami invaliditas kebenaran ilmiah. Alhasil psyche Plato telah kadung dicap gagal untuk menyerap aspirasi publik modern yang haus atas nafas keshahihan sebuah ilmu.

Selanjutnya, pengajar di Universitas Islam Batik Solo tersebut mengatakan gagasan Aristoteles dengan Entelechi-nya sedikit lebih baik, ketimbang mengacu kepada trilogi Plato itu. Sebab spekulasi yang sifatnya elementer seperti yang Plato cetuskan amat sukar dibuktikan.

Fakta menarik ditemukan bahwa sedari dulu Aristoteles sebagai murid Plato sendiri memang menyangkal adanya psyche yang diurai gurunya tersebut. Menurut Aristoteles, entelechi dengan badan membentuk kesatuan total sebagai susunan monodualis, bukan susunan dikotomi seperti dugaan Plato. Namun yang lebih penting bahwa buku-buku psikologi sendiri tidak menjelaskan bagaimana sejarah Plato dan siapa Plato sebenarnya.

Plato, Seorang Kabbalah

Adalah David Livingstone yang menjawab itu. Ia menulis dalam artikelnya “Plato The Kabbalist”. Jika anda belum mengenal studi tentang Yahudi, singkatnya Kaballah adalah "satanic ideology" yang dari zaman Mesir Kuno dan hingga saat ini telah mewarnai pemikiran keilmuan dunia demi kelanggengan gegemoni ajaran Yahudi.

Seperti kepercayaan Mesir purba, Kabbalah menolak keras bahwa hakikat material terjadi dari yang sebelumnya tidak ada menjadi ada. Kabbalah juga menitiktekankan pada esoterisme dan memvonis penciptaan manusia ala Islam menjadi sebuah isu semata.

Bagi Kaballah, manusia adalah reinkarnasi, persis seperti teori evolusi Darwin. Individu juga tidak boleh diatur dalam sekat-sekat agama, karena manusia haruslah bebas membuat apa saja yang mereka kehendaki. Manusia yang seharusnya hanya hamba, dalam kabbalah menjadi pusat materi. Dari titik tolak inilah banyak para psikolog kemudian menerjemahkannya dengan nama psikologi humanistik dan psikologi transpersonal.

Untuk lebih jeli memperhatikan pergerakan mereka, David Livingstone harus sampai menulis bahwa, “harus menjadi keprihatinan kita bahwa gurita filsuf Kabbalis seperti Plato ini telah menjadi pilar banyak doktrin yang telah melanda abad kedua puluh. Dan konyolnya, satu-satunya alasan dia telah mencapai reputasi besar adalah bahwa dalam rimba sejarah Barat dan Timur, tradisi okultisme Plato telah dianggap sebagai ‘godfather’ dari berbagai doktrin, dan sebagai wakil besar dari orang-orang yang berhubungan dengan tradisi kuno Kabbalah.”

Dalam bukunya Republik, Plato sudah merancang konsep dasar negara totaliter masa depan, yang diperintah oleh elit, atau "filsuf raja", atau "wali", dalam Kabbalah. Pada dasarnya, Republik memberikan dasar untuk semua proyek Illuminati masa depan, termasuk komunisme, penghapusan perkawinan dan keluarga, pendidikan wajib, penggunaan eugenika oleh negara, dan kerja-kerja dengan metode propaganda penipuan.

Pada sisi lain, ajaran Kaballah tanpa terendus mata kemudian berkembang biak dengan baik dalam alam konspirasi keilmuan yang dilakukan Freemasonry (perkumpulan rahasia Yahudi). Padahal tradisi tersebut bertentangan dengan semangat ilmu, sebab tradisi Kabballah berasal dari peradaban jahiliah Mesir Purba, Yunani Purba, dan Rom yang telah membangun pra konsepsi akan sebuah atheisme sains.

Penolakan Terhadap Psyche Dari Kristen

Yang menarik adalah bahwa termin psyche Plato sebelumnya sudah menjadi perdebatan sengit dalam teologi Kristen. Teolog Kristen menolak tegas penggunaan psyche. Karena mereka tahu betul bahwa menerima psyche sebagai sebuah pemahaman akan berimplikasi pada ketuhanan Yesus.

Filosof Yunani sendiri memang menganut paham dimana manusia terdiri atas dua bagian saja atau biasa disebut teori manusia dua unsur, yakni tubuh dan jiwa. Sedangkan Kristen mengenal bahwa manusia memiliki tiga unsur. Manusia terdiri dari tiga bagian karena dia diciptakan dalam gambar dan rupa Tuhan.

“Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita” (Genesis 1:26)

"Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita". (Ibrani 4: 12)

Namun pada dasarnya, dari fakta penjajahan Yunani ini serta fakta bahwa Perjanjian Baru awalnya di tuliskan di dalam bahasa Yunani, terjadilah perembesan paham. Menurut teologi Kristen inilah rupanya yang mengakibatkan masuknya istilah ‘psyche’ (Indonesia: ‘jiwa’) ke dalam Perjanjian Baru. Di dalam Perjanjian Baru, istilah ‘jiwa’ ditemukan dalam 34 ayat, tetapi yang paling tersohor adalah yang dianggap menopang Teori Manusia yang terdiri dari 3 unsur.

Dari sini kita menjadi paham pula bahwa dari pemikiran filsafat Plato (dua orang filosof Yunani) berkembanglah apa yang kita kenal selama ini, yakni Psikologi. Sejatinya psikologi bukanlah sebuah ilmu obyektif yang mempelajari perilaku dengan metode ilmiah.

Namun sejatinya psikologi tak bisa berkelit ketika tertangkap tangan tengah menyisipkan ideologi melenyapkan Tuhan di dalam seluruh pengajarannya dan menjalankan nilai-nilai kepribadian kabbalis yang bebas Tuhan (baca: atheistik). Baik itu mengeyampingkan konteks Tuhan seperti psikologi behaviorisme dan psikoanalsis atau menjadikan manusia untuk menggantikan peran tuhan seperti psikologi humanistik maupun transpersonal.

Psikologi transpersonal ini pula yang berkembang menjadi pluralisme psikologi dimana pada dasarnya tiap manusia mampu menyingkap ‘esoterisme’ apapun agamanya. Bahkan tidak hanya itu, manusia bisa mengklaim diri sebagai Tuhan apapun ‘tuhannya’. Itu memang menjadi keniscayaan hingga kini. Bayangkan Calvin Hall dan Gardner Lindzey saja dalam tiga jilid bukunya (yang menjadikan rujukan fakultas psikologi) tak satupun merumuskan tiga aliran Psikologi yang menyertakan Tuhan dalam tampilan yang sebetulnya. Setali tiga uang, John Nevid dalam Psikologi Abnormal-nya pun demikian. (pz)

Siapa Radikal, Siapa Teroris?: Rancunya Istilah Islam Radikal (1)

“Bangsa Indonesia saat ini menghadapi ancaman serius terkait dengan terorisme, kekerasan horizontal, dan radikalisasi yang terus terjadi di sejumlah tempat. Jika tak ditanggulangi secara serius, kondisi ini bisa berdampak pada harmoni kehidupan bangsa ke depan.” [1]

Ucapan ini penulis ambil ketika SBY berhadapan dengan seluruh Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, para Gubernur, dan walikota seluruh Indonesia saat Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional di Jakarta, hari kamis kemarin. Ucapan ini tentu tidak lain adalah respon dari pemerintah terkait isu terorisme yang kini marak. Oleh karenanya dalam kesempatan itu pula, Presiden SBY juga berharap kepada pemuka agama untuk berperan aktif dalam mencegah gerakan yang menodai dan merusak ajaran agama.

Namun sayangnya, dalam kesempatan itu, SBY tidak merinci lebih jauh definisi sebenarnya dari radikalisme. Sebab, kita sekarang berada pada suatu masa, dimana kebenaran dan kekeliruan menjadi kabur. Istilah radikal dikonstruk sedemikian negatif dan kemudian dilekatkan kepada seluruh gerakan Islam yang memiliki visi pemurnian akidah, penegakkan syariat dan negara Islam, serta tidak lagi tersekat hanya pada organisasi sesat seperti NII KW IX saja. [2]

Walhasil, klaim-klaim radikal dan Islam seakan menjadi dua kutub yang tidak terpisahkan. Stigmatisasi Barat terhadap Timur menjadi genderang yang wajib didengarkan ketimbang umat Islam itu sendiri. Implikasinya, ajaran Islam menjadi redusi.
Maka itu ucapan radikal dari SBY disini perlu kirannya diluruskan dan menjadi tanda kutip bagi kita semua bahwa betulkah radikalisme identik dengan Islam?

Islam Radikal: Kerancuan Istilah

Setelah Samuel Huntington mengeluarkan tesis bahwa Islam akan menjadi musuh baru Barat setelah komunisme runtuh [3], semangat Perang Salib jilid II bagai kembali berkobar. Penelitian-penlitian tentang Islam berlangsung begitu pesat. Istilah Radikalisme menjadi hal lumrah untuk menyudutkan Islam.[4]

Tak tanggung-tanggung Al Zastrouw sampai menyatakan bahwa radikalisme adalah (pasti) gerakan yang menyatakan Islam adalah satu-satunya sumber penyelesaian atas berbagai problem kemanusiaan, dan hanya dengan gerakan itulah mereka bisa mempertahankan eksistensi dan martabat Islam. [5]

Prolematikanya adalah kata radikalisme disini pasti merujuk ke Islam dan cenderung meresahkan. Padahal dalam sejarahnya kata Radikalisme sama sekali tidak terkait akan misi Islam dan memang tidak lahir dari rahim Islam.

Paul Krassner dalam tulisannya "An impolite intervire with Mort Sahl", di majalah The Realist tahun 1963 menyatakan asal muasal istilah Radical digunakan pada abad ke-18 bagi para pendukung Gerakan Radikal. Istilah radikal kemudian menjadi istilah yang sangat umum semata-mata untuk merendahkan kelompok yang mendukung atau mencari reformasi politik, termasuk perubahan dramatis terhadap tatanan sosial.

Dalam sejarahnya, tujuan awal dari gerakan radikal adalah untuk meraih kebebasan dan melakukan reformasi besar-besaran dalam pemilu Inggris. Gejala ini kemudian bergeser ke Amerika dan Perancis yang kemudian diterjemahkan mereka lewat dengan nama revolusi (Baca: Revolusi Perancis dan Amerika).

Pada awalnya, kelompok radikal mengidentifikasikan dirinya sebagai pihak yang paling kiri dalam menentang basis politik kanan, baik itu kaum Orleanis dan Bonapartis di Perancis pada abad kesembilan belas. [6]

Dalam perkembangannya, radikalisme kemudian terserap dalam pengembangan liberalisme politik, pada abad ke-19 baik di Inggris dan benua Eropa. Dan kemudian istilah Radikal ini justru datang untuk menunjukkan ideologi liberal yang progresif.

Oleh karenanya, di beberapa negara Istilah radikalisme adalah bagian dari liberalisme seperti terjadi di Swiss, Jerman, Bulgaria, Denmark, Italia, Spanyol dan Belanda, termasuk juga Argentina, Chile dan Paraguay. Pada Negara-negara tersebutlah kaum liberal sayap kiri justru mengusung ideologi radikal dengan berbagai nama.

Menariknya baik di benua Eropa maupun Amerika latin, radikalisme dikembangkan sebagai sebuah ideologi radikal sangat anti agama. Mereka mendukung liberalisme, bahkan sekularisme. Di Inggris, misalnya, para radikal bersatu dengan para liberal daripada Whig Party di dalam Liberal Party.

Di negara lain termasuk Bulgaria, Denmark, Spanyol, Belanda, Argentina dan Chile, para liberal bersayap kiri mengasas parti politik radikal mereka yang mempunyai pelbagai nama; di Switzerland dan di Jerman, parti itu diberi nama Freisinn.

Oleh karenanya menjadi aneh dan rancu, jika istilah radikal justru dikaitkan kepada Islam dan gerakan Islam. Karena Islam mengharuskan hambanya untuk taat kepada Allahuta’la. Sedangkan dalam sejarahnya, kaum radikal justru memisahkan antara Negara dan agama (baca: sekularisme) sebagai pilar kehidupan.

Islam menjadikan nilai dan tatanan kehidupan sebagai sumber yang tetap, yakni ajaraNya. Sedangkan radikalisme menjadikan relativitas sebagai prinsip dan tujuan.

Lalu kalau sudah begini: apakah tidak salah ketika mengatakan radikalisme bersumber dari ajaran Islam dan Islam itu radikal? (pz/bersambung)

Foto: Ilustrasi

Catatan Kaki

[1] Harian Kompas, Jangan Biarkan Radikalisme, Jum’at 29 April 2011.

[2] Setara Institute dalam penelitian yang berjudul “Radikalisme Agama di Jadebotabek & Jawa Barat: Implikasinya terhadap Jaminan Kebebasan Beragama/Berkeyakinan,” mencatat bahwa Indonesia saat ini dalam kondisi memprihatinkan.

Tahun 2007, Setara mencatat terdapat 185 jenis tindakan dalam peristiwa 135 kebebasan beragama dan berkeyakinan. Penelitian yang diselenggarakan dari tahun 2007-2010 inipun menimbulkan polemik di kalngan umat Islam.

Tahun 2008, terdapat 367 tindakan di 265 peristiwa. Tahun 2009, masih dalam survey Setara, terdapat 291 tindakan untuk 200 peristiwa. Tahun 2010, tidak kurang 175 peristiwa. Dan uniknya, menurut data penelitian itu, nyaris semua pelanggaran, selalu berhubungan dengan organisasi-organisasi Islam radikal.

[3] Melalui bukunya, The Clash of Civilization and the Remaking of World Order (1996), Huntington mengarahkan Barat untuk memberikan perhatian khusus kepada Islam. Menurutnya, di antara berbagai peradaban besar yang masih eksis hingga kini hanyalah Islam yang berpotensi besar menggoncang peradaban Barat, sebagaimana dibuktikan dalam sejarah.

[4] Selain istilah radikalisme, Barat juga menyebut dengan fundamentalisme. Lihat William Montgmery Watt, Islamic Fundamentalism And Nodernity, T.J. Press (Padstow)
Ltd, London, 1998, hlm.2.

Fundamentalisme juga berarti anti-pembaratan (westernisme). Lihat juga Fazlur rahman, Islam And Modernity, The University of Chicago Press, Chicago, 1982, hlm.136.

[5] Lihat Al-Zastrouw Ng, Gerakan Islam simbolik: Politik Kepentingan FPI, (Yogyakarta: LKiS, 2009) hlm. 4.

[6] Rezim Bonapartis adalah rezim yang sungguh otoriter. Mereka menjadikan rakyatnya sebagai konsumen. Pemerintah terkesan cuci tangan dalam mengurus warganya, sehingga tak jarang rakyat dalam rezim bonapartis menjadi korban ulah negara (state neglect) yang tak terurus.

Bagi rezim ini, kebijakan sosial hanya digunakan oleh kelompok elite untuk menjaga status quo. Kebijakan Bonapartis cenderung digunakan untuk terus mempertahankan dominasi negara terhadap rakyatnya.

Konsekuensinya, keadaan rakyat tak banyak berubah. Bahkan, cenderung kian memburuk, sengsara, dan menderita. Berbagai kebijakan yang dihasilkan rezim Bonapartis pun tidak memihak rakyatnya karena tidak didasarkan fakta dan realita, tetapi bagaimana tetap berkuasa.

Siapa Radikal, Siapa Teroris?: Rancunya Istilah Islam Fundamentalis (2)

Gerakan Islam sering kali dikait-katikan dengan istilah fundamentalisme. Organisasi-orgnisasi yang mengusung ide kembali kepada syariat Islam mendapatkan sebuah stigma negatif berupa Islam Fundamentalis. [1]

Media-media di Indonesia pun pasca pemberitaan (yang masih simpang siur) akan syahidnya Usamah Bin Laden, langsung mengusung kembali jargon-jargon Islam Fundamentalis lenngkap dengan distorsinya kepada gerakan-gerakan yang terkait Al Qaida.

Di Barat kasusnya hampir ironi. Karen Amstrong yang digadang-gadang sebagai penengah antara Islam dan Barat, masih melekatkan stigma fundamentalis kepada orang seperti Sayyid Quthb hanya karena gagasan Sayyid Quthb yang menolak Demokrasi. [2]

Pun Amerika mereka gemar menyudutkan nama-nama mujahid sebagai gembong yang mengusung Ideologi Islam yang kuat seperti Abul Al Al Maududi, Abdullah Azzam, Syekh Ahmad Yassin hingga Abu Bakar Ba’asyir sebagai gembong Islam fundamentalis.

Padahal, dalam sejarahnya, istilah fundamentalisme sama sekali tidak berkaitan dengan Islam. Sejarah fundamentalisme berawal pada ajaran agama Kristen yang mengembangkan kepercayaan mutlak terhadap wahyu, ketuhanan Al-Masih, mukjizat Maryam yang melahirkan ketika masih perawan, serta kepercayaan lain yang masih diyakini oleh golongan fundamentalis Kristen sampai sekarang. [3]

Lalu dengan begini apakah pas fundamentalisme kemudian dikaitkan kepada Islam? Apakah tepat istilah fundamentalisme menjadi kata tersendiri setelah menyebut nama Islam, sama persis dengan pertanyaan: Apakah pas pula jika dikatakan George Bush adalah seorang Kristen Salafi atau Obama adalah bagian dari kelompok Kristen sekte Tauhid Hakimiyyah? Menjadi rancu.

Fundamentalisme: Pertikaian Kristen, Bukan Islam

Pada konteks aslinya, istilah "fundamentalisme" adalah respon dari gerakan pemurnian teologi Kristen sebagai perlawanan terhadap modernisme. Ia berusaha memurnikan ajaran Kristen yang disusupi oleh sekularisme. Artinya fundamentalisme adalah gerakan kontra terhadap “pembaharuan” yang secara spesifik hanya terjadi pada lingkup Kristen.

Namun, pada penelusuran lebih dalam, James Barr dalam bukunya “Fundamentalism” [4] mengatakan bahwa istilah fundamentalisme bermula dari sebuah esai berjudul "Fundamentals" yang muncul di Amerika sekitar tahun 1910-1915.

Dengan mengambil ciri gerakan kembali ke asal, esai itu mewakili pandangan kaum tradisionil Kristen yang khawatir kehancuran ajarannya oleh serangan inflitrasi modernisme dalam pemikiran Kristen. Jadi, simpul Barr, fundamentalisme adalah studi yang berfokus pada gerakan fundamentalisme di dalam kekristenan (dan bukan dari agama Islam).

Sebagai sebuah organisasi yang terorganisir, fundamentalisme mulai terjadi pada Gereja-gereja Protestan, khususnya pada Gereja Baptis dan Gereja Presbyterian, di Amerika Serikat pada awal abad 20. Gereja Presbiterian sendiri adalah salah satu denominasi di lingkungan Gereja-gereja Protestan, yang berakar pada gerakan Reformasi pada abad ke-16 di Eropa Barat.

Dari segi doktrin dan ajaran, Gereja Presbiterian mengikuti ajaran-ajaran Yohanes Calvin, Reformator dari Perancis Namun secara kelembagaan, Gereja Presbiterian sendiri muncul dari Skotlandia, sebagai buah pekerjaan John Knox, salah seorang murid dari Calvin.

Karena latar belakang ini, Gereja Presbiterian pada umumnya ditemukan di negara-negara bekas koloni Inggris, seperti Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, India, dan lain sebagainya.

Gereja Presbiterian pun dapat ditemukan di beberapa negara yang kuat dipengaruhi oleh Amerika Serikat, seperti Korea Selatan dan Filipina. Di Indonesia sendiri, Gereja Presbyterian terletak di Jalan Baru Ancol, Jakarta dengan nama Gereja Presbyterian injil Indonesia

Istilah fundamentalisme juga kemudian digunakan untuk para penjaga Injil (evangelikal) dalam golongan Protestan dan juga golongan Karzemy yang tumbuh pesat sebagai satu sekte dalam agama Kristen. Menariknya, awal mengapa penamaan fundamentalisme juga menyeret kaum Evangelis, karena di kalangan Kristen sendiri menolak penamaan fundamentalis. Sebagian kelompok Kristen akhirnya lebih senang ketika mereka disebut dengan Evangelisme Konservatif ketimbang Kristen Fundamentalis itu sendiri.

Menurut sebagian kalangan Kristen, fundamentalisme tidak mewakili dari akidah yang mereka anut, namun hanya untuk golongan dan sekte tertentu. Mereka kadang lebih suka menyebut dirinya dengan "Kristen sejati" atau Kristen saja. Karena setiap kritikan yang ditujukan kapadanya berarti hujatan atas agama itu sendiri. [5]

Oleh karenanya, fundamentalis Kristen akhirnya didefinisikan oleh sejarawan George M. Marsden [6] sebagai Evangelisme Protestan yang militan dan anti-modernis. Marsden kemudian menjelaskan bahwa fundamentalis adalah orang Kristen Evangelis yang pada abad ke-20 melakukan penentangan modernisme baik dalam sisi teologis maupun perubahan budaya modern.

Selain itu, menurut James Barr, fundamentalisme memang digerakkan oleh doktrin Bible untuk hidup secara militan. Barr mengatakan kendatipun posisi Evangelikal umumnya mengakui bahwa keselamatan diperoleh melalui Iman Kristus, namun bagi kaum fundamentalisme, bahwa Iman kepada Krsitus tidak saja cukup. [7]

Jadi, penamaan menjadi fundamentalis adalah hasil dari pertentangan antar golongan moderat Kristen dengan mereka yang keras dalam menafsirkan beberapa ayat Bible. Hal ini menjadi wajar karena dalam Kristen telah terjadi problem teks bible, baik dalam orisinalitas dan metode penafsiran. [8]

Karena faktor inilah kaum Protestan lalu membentuk sejumlah organisasi pada 1902 yang dikenal dengan nama The Society of The Holy Scripture. Organisasi ini menerbitkan 12 penerbitan dengan nama Fundamentals semata-mata cara kelompok protestan untuk melindungi kitab suci mereka dari proses desakralisasi oleh para penafsir liberal.

Selain The Society of The Holy Scripture, mereka juga mendirikan Lembaga Kristen Fundamentalis Internasional dan Perhimpunan Fundamentalis Nasional pada tahun 1919. Inilah akar fundamentalisme, sebuah pandangan hidup yang lahir sebagai reaksi atas kemajuan ilmu pengetahuan dan penafsiran injil yang menafikan makna literal injil. [9]

Kerancuan Istilah dalam Islam.

Jadi pada dasarnya konteks fundamentalisme tidak pernah memiliki kaitan langsung dengan Islam. Istilah fundamentalisme murni lahir akibat pertentangan diantara teologi Barat itu sendiri.

Lalu bagaimana mungkin ketika Barat saling bertikai, Islam kemudian disuruh ikut campur menyelesaikannya dan terkena getahnya? Inilah yang pernah disinggung Sayyid Quthb dalam kitab Dirosah Islamiyah bahwa adalah mustahil jika Islam disuruh menyelesaikan masalah dunia, sedang Islam sendiri belum dijalankan sepenuhnya.

Bagaimana caranya ketika kerusakan sudah terjadi, Islam menjadi tertuduh dan nertanggung jawab atas semuanya sedangkan Islam belum ditegakkan. Bagi Sayyid Quthb, Islam baru akan menjadi Sistem yang efektif ketika dijaankan sepenuhnya dan tidak setengah-setengah. Sayyid Quthb menulis,

“Pertama-tama jadikan Islam memerintah seluruh kehidupan. Kemudian setelah itu baru diminta pendapat Islam tentang persoalan-persoalan yang ditimbulkan Islam itu sendiri, bukan yang ditimbulkan suatu sistem lain yang bertentangan dengan Islam…. Jadi yang perlu diupayakan adalah laksanakanlah Islam itu sebagai suatu keseluruhan, dalam sistem hukuman pemerintahan, dalam dasar perundang-undangan dan dalam prinsip pendidikan. Baru setelah itu kita dapat melihat apakah masalah-masalah yang ditanyakan itu masih ada dalam masyarakat atau hilangan dengan sendirinya” [10]

Selain itu, konsekuensi logis lainnya akan berimplikasi pada pemaknaan bahasa fundamentalis dalam Islam. Islam tidak mengenal kosakata fundamentalisme, Islam hanya mengenal kata Kaffah, syariat Islam, tauhid, dan lain sebagainya yang memliki jurang pemisah panjang dengan dimensi fundamentalisme dalam Kristen.

Dalam Islam, hambanya hanya mengakui bahwa Allah adalah Tuhan Yang Satu, sedangkan fundamentalisme Kristen, menolak hal itu dimana mereka mengaku bahwa Tuhan adalah Tiga dan Tiga adalah Tuhan. Dalam Islam, Tuhan tidak beranak dan diperanakkan, sedangkan dalam fundamentalisme Kristen justru hal itu harus ditolak, karena bagi mereka Tuhan lahir dari proses persalilnan dan kepercayaan itu harus dijaga seutuhnya. Ketika dia memperharui, maka ia menjadi kafir.

Akhirnya, Islam tidak bisa disebut dengan istilah Islam fundamentalis, sebagaimana Kristen juga tidak bisa disebut dengan Kristen salafi. Islam juga tidak bisa dipanggil dengan nama Fundamentalisme Islam sebagaimana Kristen juga tidak bisa dipanggil dengan Salafi Jihadi Kristen. Islam pun tidak mengalami problem teks Qur’an sebagaimana Kristen mengalami problem terhadap kitab sucinya.

Catatan Kaki

[1] Islam Fundamentalis juga kadang disebut dengan sebutan lain seperti Islam Politik. Dalam sejumlah literatur, berbagai istilah baik itu Islam Politik, “fundamentalisme”, Neo fundamentalisme atau revivalisme Islam memiliki substansi yang sama. John Esposito misalnya menyamakan istilah Islam Politik dengan “fundamentalisme Islam” atau gerakan-gerakan Islam lainnya. Lihat Riza Sihbudi, Menyandera Timur Tengah, (Jakarta: Mizan, 2007) h. 24

[2] Lebih lengkap baca, Nuim Hidayat, Imperialisme Baru, (Jakarta: GIP, 2010)

Selain itu menurut Karen Armstrong, fundamentalisme tidak hanya terdapat pada agama seperti Islam, Kristen, Yahudi melainkan juga terdapat dalam agama Hindu, Buddha dan bahkan agama Kong Hu Chu, yang sama‑sama menolak butir‑butir budaya liberal, melakukan kekerasan atas nama agama‑maupun membawa sakralitas agama ke dalam wilayah politik dan negara. Lihat, Karen Armstrong, Berperang Demi Tuhan; Fundamentalisme Dalam Islam, Kristen Dan Yahudi, Terj. Satrio Wahono, dkk. (Bandung & Jakarta: Mizan & Serambi Ilmu Semesta, 2000), hlm. x.

[3] DR. Haidar Ibrahim Ali. Al Ushûliyyah; Al Târîkh Wa Al Ma’na.

[4] James Barr. Fundamentalisme, (Jakarta: BPK Gunung Mulia.) Hal. 1-2. James Barr adalah Guru Besar Bahasa Ibrani di Universitas Oxford. Ia disebut-sebut peletak dasar kajian tentang fundamentalisme.

[5] Haidar Ibrahim Ali, op.cit

[6] George Marsden adalah seorang sejarawan yang telah banyak menulis tentang interaksi antara Kristen dan budaya Amerika, terutama pada Kristen Evangelikalisme.

[7] James Barr, op.cit, h. 378.

[8] I.J. Satyabudi, alumnus Universitas Kristen Satya Wacana, menulis dalam bukunya, Kontroversi Nama Allah, bahwa penemuan arkeologi biblika sejak tahun 1890 M, sampai 1976 M, telah menghasilkan 5366 temuan naskah-naskah purba kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani yang berasal dari tahun 135 M sampai tahun 1700 M yang terdiri dari 3157 manuskrip yang bervariasi ukurannya.

Dari 5366 salinan naskah itu, jika diperbandingkan, beberapa sarjana Perjanjian Baru menyebutkan adanya 50.000 perbedaan kata-kata. Bahkan ada beberapa sarjana yang menyebutkan angka 200.000-300.000 perbedaan kata-kata. Lihat Adian Husaini, Problem Teks Bible.

[9] Fadhli Ayas, Menguak Fundamentalisme.

[10] Sayyid Quthb, Beberapa Studi Tentang Islam, (Jakarta: Media Dakwah, 2001) h. 101

Siapa Radikal, Siapa Teroris?: Pembantaian Muslim ASEAN Yang Tak Kunjung Usai (4)

Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN yang berakhir hari Minggu menghasilkan beberapa kesepakatan penting. Salah satu butir kesepakatan itu adalah tantangan bersama ASEAN untuk ikut andil menghadapi isu terorisme demi menciptakan perdamaian. Hal ini sebelumnya juga sempat ditegaskan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa yang menilai selepas kematian Usamah bin Ladin, isu kejahatan lintas negara termasuk terorisme bakal menjadi salah satu fokus Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN.

Alangkah naifnya hasil KTT ASEAN itu jika menyatakan ingin memberantas terorisme. Sebab sampai detik ini beberapa Negara pembesar lah yang memiliki rekam jejak menindas umat Islam di negaranya sendiri. Kisah umat muslim sebagai minoritas sangatlah menyedihkan di benua kecil Asia ini. Mereka hidup bagai anak kehilangan induknya yang dipermainkan musuh. Mereka tumbuh dalam bayang-bayang teror dan kematian. Masjid mereka dibakar, Al Qur’an mereka dirampas, bahkan istri mereka diperkosa di depan suami mereka sendiri. Sedangkan para pembesar-pembesar di negaranya berkumpul di Jakarta demi menciptakan perdamaian di ASEAN.

Sungguh amat ironis. Sekalipun menindas, mereka pun juga tidak disebut teroris. Tidak ada pengadilan yang jelas untuk mengusut pembantaian terhadap Umat Muslim di Tenggara Asia ini. Sekalipun berjalan, kasus ini pun akan larut ditiup angin, karena hukum dapat dibeli. Seharusnya mereka dapat berkaca terhadap apa yang dilakukan bangsa mereka terhadap muslim di negara mereka sendiri.

Sebab kita jangan lupa, ditengah peluru yang menyasar bumi Palestina, tidak jauh dari kita: Muslim Thailand, Muslim Myanmar, dan Muslim Filipina masih hidup bergelimang pembantaian. Yang ditindas disebut teroris, tapi sang penindas dianggap mampu mencitapkan perdamaian. Inilah kisah saudaraku yang dibantai "tetanggaku".

Nestapa Muslim Thailand Selatan: Pesantren Dibakar, Ustadz Dibunuh

Luka ini kita mulai ketika menyaksikan kekerasan di wilayah Thailand Selatan. Angka yang dicatat oleh National Reconciliation Council menyatakan, sepanjang tahun 2005 saja, tercatat 607 muslim yang meninggal dunia. Kekerasan di Thailand meningkat tajam saat pemerintahan di bawah Komando Thaksin Sinawatra mulai berkuasa. Beberapa tahun sebelumnya, wilayah selatan relatif aman dan tenang. Tapi hanya dalam dua sampai tiga tahun belakangan, jumlah kekerasana dan tragedi berdarah terjadi beruntun dan meminta kroban dalam skala esar. Peristiwa mesjid grisek pada april 2004 dan tragedi Tak Bai pada 25 oktober 2004 menelan puluhan Korban jiwa.

Ini belum lagi kebijakan tembak di tempat yang dikeluarkan oleh Thaksin untuk para pengedar dadah atau narkoba. Ribuan orang telah menjadi korban pembunuhan ala petrus atau penembak misterius seperti terjadi di Indonesia periode 1970-an.

Sebetulnya tuntutan masyarakat muslim di wilayah selatan ini cukup sederhana, mereka menuntut Thailand yang dulu bernama Siam untuk membebaskan lima provinsi di wilayah Selatan untuk menentukan nasibnya sendiri. Tapi ada daya tuntutan itu berbuah nyawa, ratusan orang meninggal karena terbunuh secara keji oleh pemerintah Thailand. Tidak hanya itu, sejak 4 Januari 2004 sampai dengan 30 April 2007, dalam hanya waktu tiga tahun, sebanyak 166 sekolah sudah musnah dibakar. Ini belum dihitung 40 sekolah di wilayah Yala, 56 sekolah di wilayah patani, 8 sekolah di Narathiwhat dan dua lainnya di Songkhla.

Sementara itu, kasus ini belum ditambah dengan sejumlah guru yang tewas karena pembunuhan. Menjadi guru bukan pekerjaan ringan di Thailand Selatan, karena sepanjang tahun di atas, 71 guru telah meninggal dunia akibat kekerasan dan penculikan yang berakhir dengan kematian. [1]

Seorang guru muslim berumur 30 tahun juga telah dibunuh dengan tembakan di daerah Yarang, Provinsi Pattani pada Kamis 24/7/2009. Guru tersebut ditempak saat dirinya sedang mengendarai sepeda motor dalam perjalanan pulang. Bisa dikatakan guru tersebut adalah guru keseratus yang dibunuh sejak pecah kerusuhan di daerah mayoritas muslim tersebut.

Tidak hanya membunuh umat muslim dan menutup sekolah, tapi pemerintahan Thailand juga memberangus pondok pesantren yang ada di Pattani. Bagi pondok, pondok yang mau menuruti tittah pemerintah mereka akan mendapatkan kucuran dana, subsidi dan bantuan pendidikan. Pemerintah juga akan mengirim guru-guru beragama Budha untuk mengajarkan Bahasa Siam dan Ilmu-ilmu lainnya di Pondok Tersebut. Maka terjadilah asimilasi besar-besaran pada bangsa dan budaya Melayu menjadi bangsa Thai.

Tekanan demi tekanan untuk menghapuskan sistem pendidikan pondok ini tak pernah surut sampai hari ini. Pondok sering dijadikan sebagai sasaran militer Thailand. Mereka menggeledah dan memeriksa dengan paksa pondok-pondok yang dituduh menyembunyikan para pejuang Patani atau melindungi mereka. Masyarakat Patani merasa aksi kekerasan dan tuduhan yang dilakukan oleh Pemerintah Thailand ini sebagai usaha menindas hak pendidikan yang harus didapat oleh Masyarakat Patani.

Selain institusi yang menjadi serangan para pengajar di pondok, para ustadz dan juga dimasukkan sebagai daftar hitam oleh pemerintah Thailand. Mereka dituduh sebagai pejuang pembebasan Patani. Banyak Ustadz yang dikejar-kejar oleh alasan ini. Sejak 2004, banyak pula pondok yang akhirnya ditutup oleh pemerintah Thailand oleh alasan serupa. Kisah pemberangusan pondok di Patani ini bisa ditelusuri dari penutupan paksa Pondok Tuan Guru Haji Sulong al Fatani yang bernama Madrasah Al Ma’arif al Wataniyah tahun 1926. Kemudian secara massal militer Thailand memburu para guru dan Ustadz pasca unjuk rasa besar-besaran tahunn 1975.

Sejak bulan juli 2004, Undang-undang Darurat ditetapkan di Thailand Selatan. Korban akibat dari undang-undang itu dari tahun 2004-2006 sudah melebihi angka 1300 orang. Korban-koran berjatuhan mulai dari pihak Organisasi Pembebasan Patani (PULO), Mujahidin Islam Patani (MIP), Barisan Revolusi Nasional (BRN), Barisan Nasional Pembebasan Patani (BNPP), dan Front Persatuan Pembebasan Pattani (FPPP).

Selain data kekerasan tentang guru, rezim Thaksin adalah masa-masa terberat bagi umat Islam. Data yang berhasil dihimpun, sejak januari 2004 sampai dengan November 2006, kasus kekerasan yang terjadi di seluruh provinsi di Thailand Selatan sebanyak 5.769 kasus dan korban tewas sebanyak 1.098. Jumlah yang cedera sebanyak 2920. Pada tahun 2005, tercatat jumlah lonjakan paling tinggi kasus kekerasan dilakukan oleh aparat keamanan Tahuialnd, sebanyak 2.297 kasus dibukukan dan belum terselesaikan secara hukum sampai sekarang.

Selain itu, ribuan kaum Muslimin cedera dan selama periode Januari-Juni 2008. Tercatat 301 orang tewas dan 517 cedera. Kekerasan kali ini tercatat terbesar dan paling berdarah pasca-Kerajaan Siam (Thailand) yang menganut Budha ini menganeksasi kaum Muslimin Pattani di 1902. Mayat-mayat kaum Muslimin ditumpuk hingga mencapai 6 tumpukan.

Di Masjid Al Furqan, yang terletak di Desa Air Tempayan, terjadi pembantaian pada tahun 2009 yang mengakibatkan tewasnya 10 orang kaum Muslimin, dan belasan lainnya luka-luka. Kejadian keji ini dilakukan di dalam Masjid, tepatnya setelah kaum Muslimin melaksanakan sholat Isya berjamaah. Kini, di depan masjid saat ini selalu dijaga oleh penduduk setempat yang dikawal pemerintah Thailand.

Sampai saat ini ratusan bahkan ribuan umat Patani masih dipenjara. Mereka di penjara akibat keikhlasan hati mereka untuk menyatakan hak dan juga kesanggupan mereka untuk perjuangkan sesuatu yang sangat berarti bagi mereka yaitu sebuah Kemerdekaan Islam bagi tegaknya dienullah di Selatan Thailand.

Muslim Myanmar: Kalian Bukan Saudara Kami Orang Rohingya!

Selain itu kisah memilukan –bahkan lebih pilu dari Patani- terjadi di Myanamr. Kaum muslim di Myanmar berjumlah 15 % dari total penduduk yaitu sekitar 7 Juta orang. Kira-kira seperduanya berasal dari Muslim Arakan. Arakan sendiri adalah sebuah provinsi Myamnar bagian barat laut yang memiliki tapal batas dengan Bangladesh.

Kaum Arakan selalu mendapat penindasan yang kejam dari pihak pemeluk agama Budha. Di tengah siskaan itu mereka tetap bertahan, kendati banyak pula umat muslim Myanmar yang tidak kuat atas tekanan itu dan memilih untuk memeluk Budha. Kaum Arakan itulah yang kini bernama Rohingnya. [2]

Muslim Myanmar telah diberi label sebagai salah satu kelompok yang paling teraniaya di dunia. Ditengah hidup dirasa sulit, Pemerintah Myanmar pun menolak untuk mengakui mereka. Mereka mengatakan etnis Rohingya bukanlah penduduk asli Myanmar dan mengklasifikasikan mereka sebagai migran ilegal, padahal mereka telah tinggal di Myanmar selama beberapa generasi. [3]

Pemerintahan Islam pun sempat berlangsung beberapa abad di Arakan dan meluas sampai ke selatan maoulmein yang pada saat itu yang menjabat pada era kegemilanganya adalah sultan Salim Shah Razagri (1593-1612 M). [4]

Selama 49 tahun kemerdekaan Burma (Myanmar), jumlah Etnis Muslim Rohingya terus dikurangi, mulai dari pengusiran hingga pembunuhan. Sampai saat ini hanya tersisa sedikit umat Islam Rohingya di selatan Arakan sedangkan di bagian utara, Muslim Rohingya masih menjadi mayoritas.

Untuk membatasi jumlah populasi umat muslim dan ghirah ketakawaan Umat, Penghancuran Mesjid menjadi hal biasa. Ratusan Masjid dan Madrasah telah dihancurkan oleh pihak junta, bahkan Al Qur’an dalam banyak kasus dibakar dan diinjak-injak oleh tentara sedangkan kitab-kitab tentang Islam disita dan dijadikan sebagai bahan pembungkus. Pihak junta juga melarang kaum Muslim untuk melakukan berbagai ibadah.

Tindak pemerkosaan terhadap Kaum muslimah pun menjadi kenyataan pahit yang harus dihadapi sehari-sehari muslim Rohingnya. Tak jarang, tentara tiba-tiba masuk ke dalam rumah etnis Rohingya pada tengah malam dan memperkosa kaum wanita di depan suami dan anak-anak mereka. Pengaduan terhadap perlakuan ini hanya akan berujung pada penahanan oleh polisi terhadap pelapor bahkan dalam banyak kasus sang pelapor malah disiksa dan dibunuh.

Di sisi lain pihak junta juga mempersulit gadis-gadis Rohingya untuk menikah. Kita jadi ingat bagaimana program depopulasi yang sering menjadi bagian dari proyek zionisme internasional untuk menahan laju umat muslim. Bisa jadi apa yang terjadi di Myanmar juga terkait misi ini.

Masyarakat juga dipekerjakan sebagai porter militer. Mereka mendapat perlakuan kasar lagi pahit hingga sakit dan kematian menjadi hal yang melekat dakam kehidupan sehari-hari muslim Rohingya. Pemerintah juga sering mengumumkan adanya relokasi penduduk minoritas dengan alasan keamanan. Mereka disuruh pergi sedangkan tanah milik kaum muslim diambil oleh pemerintah. Data berikut akan memperpanjang daftar perlakuan diskriminatif pemerintah yang berkuasa terhadap muslim Myanmar. [5]

1. Pada tahun 1998 ada laporan bahwa penduduk di Wuntho berkewajiban membayar uang untuk merenovasi pagoda. Bila tidak membayar dikenakan denda 5 hari kerja membangun Pagoda

2. Di Twantay, Yangoon, umat muslim dibwajibkan untuk menjaga Pagoda Kuno Danoke. Penduduk boleh tidak menjaga, asal membayar uang pengganti

3. Di Bogalay, daerah Irawadi, pemerintah memerintahkan pembangunan jalan sepanjang 32 mil di desa Pechaung dan Kadone, atau mencari penggantinya dengan menyewa orang dengan bayaran $10-$20. Padahal jalan itu tidak ada kaitannya dengan kepentingan umat muslim, karena diperuntukkan bagi peziarah Budha atas perintah rahib mereka di Pe-chaung.

4. Kelompok Islam di daerah Mangundaum di sekitar Arakan diperintahkan membangun pagoda di Dail Fara. Seorang penduduk berkomentar bahwa mereka diharuskan memerlukan 10 orang pekerja tiap minggunya.

5. Pemerintah melarang kaum muslimin untuk masuk militer atau naik jabatan ke level perwira menengah. Pemerintah yang berkuasa akan mengajak mereka untuk pindah agama ke agama Budha.

Rentetan peristiwa inilah yang menyebabkan ratusan ribu muslim Rohingnya migrasi ke Negara lain di tahun 1991. Naas di tempat mereka mengungsi pun, kehidupan mereka tak lebih baik memilukan dengan di kampung halaman. Seperti pepatah keluar dari mulut buaya masuk ke kandang macan. Di Thailand, misalnya, mereka justru ”dibuang” ke laut oleh otoritas Thailand.

Kelompok hak asasi manusia menyebutkan, Angkatan Laut Thailand telah dua kali mencegat perahu yang ditumpangi ratusan orang Rohingya kemudian meninggalkan mereka begitu saja di laut lepas dalam perahu tanpa mesin dan perbekalan berupa beberapa kantong beras. Akhirnya sejumlah kapal tenggelam dan sedikitnya 500 orang dilaporkan hilang.

Teror Muslim Filipina: Tanah Diambil, Rumah Dibakar

Kisah pembantaian terhadap muslim sampai sekarang juga masih terjadi di wilayah Filipina Selatan. Bahkan aumni-alumni jihad Moro yang pulang ke Indonesia, masih dikejar dengan tuduhan terkait misi terorisme. Padahal dalam saejarah justru Pemerintah Filipina yang disetir Amerika Serikat yang berperan sebagai pelaku terorisme sejati.

Amerika membantu militer Filipina untuk menyerang dan melakukan pengejaran kepada kelompok pejuang-pejuang Muslim, terutama di wilayah selatan. Tak hanya dengan pelatihan dan instruktur, tapi juga dengan persenjataan dan juga data intelijen. Salah satu buktinya, kelompok pejuang MILF pernah menembak jatuh pesawat pengintai tanpa awal milik Amerika yang sedang melakukan aktivitas mata-mata di wilayah selatan Filipina. Pejuang MILF menembak sebuah pesawat mata-mata milik Amerika di wilayah Talayan, Maguindanao pada Desember 2008 silam.

Februari 2008 silam, sebuah tim pencari fakta dibentuk untuk menyelidiki keberadaan militer Amerika di markas-markas militer Filipina. Tim yang bernama The Citizens Peace Watch ini menemukan fakta bahwa ada kehadiran militer Amerika di dalam markas besar militer Filipina di Zamboanga, Mindanao. Ini adalah bentuk operasi bersama antara militer AS dan Filipina untuk menyerang pejuang-pejuang MILF. Pasukan AS yang ada di markas ini menggunakan tanda pengenal DynCorp, sebuah badan semacam kontraktor militer AS yang sangat kontroversial keberadaannya.

Ini adalah secuil bukti betapa Amerika memang telah memberikan bantuan yang substansial pada militer Filipina untuk menindas kaum Muslim yang berada di wilayah selatan. Bukti lainnya yang bisa disatukan sebagai pecahan puzzle adalah proses migrasi penduduk non-Muslim dari wilayah utara ke selatan yang mayoritas Muslim.

Perkampungan-perkampungan penduduk Katolik dibangun di tengah-tengah wilayah perkampungan Muslim. Terjadi perampasan-perampasan tanah komunitas Muslim yang ada di Mindanao khususnya. Ironisnya, perkampungan yang merampas tanah penduduk Muslim ini justru dijaga oleh militer Filipina, bahkan beberapa kampung dipersenjatai. Tanah yang dirampas dan hak atas tanah itulah yang diperjuangkan oleh kaum Muslimin di wilayah selatan Filipina. Tapi tragisnya, justru mereka yang dituduh sebagai pemberontak, kekuatan separatis, bahkan diberikan julukan terorisme.

Perampasan tanah kaum Muslimin di Mindanao memang terjadi secara sistematis dan dilakukan oleh pemerintah Filipina. Pada tahun 1902 dibuat sebuah undang-undang dengan nama Land Registration Act No 496 yang mewajibkan pendaftaran tanah dalam bentuk tertulis dan di bawah sumpah. Tentu saja hal ini akan merugikan kaum Muslimin di selatan Filipina yang mewarisi tanah turun temurun dari Kesultanan Islam Sulu di masa lalu.

Lalu muncul lagi peraturan baru, Philippine Commission Act No 718 yang menegaskan bahwa hibah tanah dari para Sultan, Datuk, atau kepala suku non-Kristen dianggap tidak berlaku dan tidak sah jika dilakukan tanpa ada wewenang dan persetujuan dari pihak pemerintah. Dengan lahirnya undang-undang ini, semakin sulit posisi kaum Muslimin di Mindanao.

Ada undang-undang lain, Public Land Act No 296 yang disahkan pada Oktober 1903 yang menyatakan bahwa semua tanah yang tidak didaftarkan sesuai dengan Land Registration Act No 496 adalah tanah negara. Sementara The Mining Law of 1905 adalah peraturan yang menyatakan semua tanah negara di Filipina adalah bebas dieksplorasi, dibeli dan dimiliki oleh warga negara Filipina dan AS. Ditambah lagi dengan Cadastral Act of 1907 yang memberikan kewenangan penuh kepada orang-orang yang lebih berpendidikan dan mengerti tentang masalah pertahanan untuk melakukan klaim-klaim secara legal.

Daftar masih panjang. Quino-Recto Colonialization Act No 4197 adalah pintu gerbang yang dibuat untuk penguasaan tanah kaum Muslimin di wilayah Mindanao. Pada awalnya, pemerintah akan membuka jalan dan akses transportasi, selanjutnya mengadakan survei pertanahan, dan tahap berikutnya adalah membangun koloni-koloni baru yang didatangkan dari Utara agar kaum Muslimin tak menjadi mayoritas di wilayah Mindanao. Di bawah program National Land Settlement Administration, gelombang migrasi warga Kristen dari wilayah Utara masuk dan melakukan klaim tanah di Mindanao. Nyaris seperti yang terjadi di Palestina, Muslim Mindanao di Filipina Selatan mengalami pengusiran dan penindasan. Bedanya, pemerintah Filipina melakukannya seolah-olah dengan tindakan legal dan undang-undang.

Pengembalian hak itu pula yang dituntut dan diperjuangkan oleh rakyat Mindanao, termasuk para pejuang MILF. Selain dengan cara mengumpulkan kekuatan umat Islam dalam perlawanan bersenjata, jalur diplomatik pun ditempuh dengan mengajukan perundingan yang melahirkan Memorandum of Agreement Ancestral Domain (MOA-AD). Tapi ironisnya, setelah melalui perundingan panjang yang rumit dan melelahkan, yang difasilitasi beberapa negara OKI, di hari penandatanganan, tiba-tiba saja Pengadilan Tinggi Filipina membatalkan kesepakatan. Semestinya, peninjauan ulang terhadap hasil keputusan perlu waktu sekurang-kurangnya tiga bulan.

Tapi dalam kasus ini, entah karena tekanan apa tiba-tiba saja Malacanang menarik kesepakatan pada 5 Agustus 2008. Nota keberatan yang diajukan oleh Muslim Legal Assistance Foundation (MUSLAF), Consortium of Bangsamoro Civil Society (CBCS) dan juga Bangsamoro Women Solidarity Forum (BWSF) tidak digubris sama sekali. Bahkan mereka tak diberikan kesempatan untuk bertanya langsung pada Pengadilan Tinggi.

MOA-AD adalah sebuah perjanjian yang mengatur pengakuan atas tanah leluhur di wilayah Mindanao pada penduduk Muslim. Perjanjian ini dijalin antara dua komponen, pemerintah Filipina dan MILF. Di dalam MOA-AD dirancang pengaturan tentang hal-hal prinsip yang mengenai, teritorial, sumber daya alam, dan pengelolaannya merujuk pada tanah warisan Bangsamoro.

Kesepakatan yang dirancang di Libya ini diberi nama Tripoli Agreement on Peace pada 22 Juni 2001. Di dalamnya diatur tentang hak rakyat Mindanao mengurus dan mengelola tanah dan seluruh hasilnya secara independen. Termasuk memberikan hak kepada Bangsamoro memiliki identitas sebagai bangsa Muslim tersendiri. Hal ini sangat beralasan, sebab Mindanao merujuk pada era Kesultanan Sulu tak pernah ditaklukkan dan tak pernah dijajah oleh Spanyol. Tapi ketika Spanyol dikalahkan oleh Amerika, wilayah Mindanao dimasukan sebagai wilayah yang diserahkan pada Amerika.

Pada tanggal 27 Juli 2008, terjadi pertemuan yang sangat serius dan final di Kuala Lumpur. Semua telah setuju dengan seluruh klausul yang ada dalam MOA-AD. Tapi ketika akan ditandatangani secara resmi pada 5 Agustus 2008, semua kesepakatan dibatalkan sepihak oleh pihak Filipina. Padahal di hari itu sudah berkumpul Duta Besar Mesir yang menjadi penasihat dalam proses, dan juga Sekjen Organisasi Konferensi Islam (OKI) Eklemeddin Ihsanoglu. Datang juga Duta Besar AS untuk Filipina, Kristie Kenny, Duta Besar Australia, Jepang dan Brunei Darussalam. Diduga, ada tekanan-tekanan yang lebih besar berada di belakang pembatalan kesepakatan.

Gagalnya penandatanganan ini memicu kekerasan yang terjadi di wilayah selatan, terutama Mindanao. Pejuang-pejuang MILF yang merasa dikhianati oleh pemerintahan Filipina secara sporadis melakukan serangan pada fasilitas-fasilitas militer Filipina. Serangan balasan pun dilakukan, dan masyarakat sipil jatuh sebagai korban. Sebagian besar sipil yang menjadi korban dituding oleh militer Filipina sebagai pelindung dan menyembunyikan pemberontak.

Serangan yang terus terjadi, meluas pada sasaran sipil yang dilakukan oleh militer Filipina. Rumah-rumah dibakar, kekerasan serta pembunuhan terjadi pada masyarakat Muslim. Kurang lebih, sampai hari ini ada 600.000 kaum Muslimin di selatan Filipina yang terusir dari tanah dan rumahnya, dan kini mereka menjadi pengungsi. Di Maguindanao saja, data resmi yang berhasil dikumpulkan tentara Filipina telah membakar 1.700 rumah penduduk yang dituduh simpatisan MILF.[6] (pz/bersambung)

Catatan Kaki

[1] Herry Nurdi, Perjuangan Muslim Pattani, (Jakarta: Sabili Publishing, 2010) h. 14

[2] Awalnya mereka dinakakan Rohang, dan merupakan sebuah bangsa yang berdiri sendiri. Lebih lengkap baca, Seri penelitian PPW-LIPI, Problematika minoritas Muslim di Asia Tenggara : Kasus Moro, Pattani, dan Rohingya. (Jakarta : Puslitbang Politik dan Kewilayahan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 2000) h. 48

[3] Etnis Rohingya sudah tinggal di Arakan sejak abad ke-7 Masehi. Hal ini merupakan bantahan bagi junta militer yang menyatakan, bahwa etnis Rohingya merupakan pendatang yang di tempatkan oleh penjajah Inggris dari Bangladesh. Memang secara fisik etnis Rohingya memiliki kesamaan fisik dengan orang Bangladesh. Merupakan keturunan dari campuran orang bengali, Persia, Mongol, Turki, Melayu dan Arab menyebabkan kebudayaan Rohingya sedikit berbeda dari kebanyakan orang Myanmar. Termasuk dari segi bahasa yang banyak dipengaruhi oleh bahasa Arab, Parsi, Urdu dan Bengali.

[4] M. Ali Ketani, Minoritas Muslim Di Dunia Dewasa ini, (Jakarta: Raja GrafindoPersada, 2005) hlm. 204

[5] Sri Nuryanti, Minoritas Muslim di Filipina, Thailand, dan Myanmar : Masalah Diskriminasi Sosial-Budaya, dalam Seri penelitian PPW-LIPI, Problematika minoritas Muslim di Asia Tenggara : kasus Moro, Pattani, dan Rohingya. (Jakarta : Puslitbang Politik dan Kewilayahan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, 2000) h. 64

[6] Herry Nurdi, Gold, Glory and Gospel di Tanah Muslim, www.penerang.com, 12 Oktober 2010.

Sumber
http://www.eramuslim.com