Senin, 24 Maret 2014

(Calon) Ayah,


dakwatuna.com - Hari ini rasanya adem dan sejuk, bukan hanya udara dan cuaca yang sangat mendukung, tapi hati ini terasa selalu dihinggapi rasa senang dan bahagia, meskipun tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, namun saya tetap mengusahakan diri agar bisa tersenyum walau keadaan serunyam apapun. Ya, dunia hanyalah permainan dan senda gurau belaka, pelabuhan terakhir yang harus dipersiapkan dengan baik adalah di akhirat nanti, sudah sejauh mana bekal kita, sudah siapkah kita kembali ke pangkuan-Nya? Introspeksi diri, perbanyak amal! Lalu apa kaitannya dengan tema di atas? Entahlah, tiba-tiba langsung membuka YouTube sebuah lagu islami yang berjudul Kun Jamilan, yang dibawakan dengan merdu oleh Yahya Hawwa, seorang qari [sebutan pembaca Qur’an) sekaligus pedendang nasyid terkenal asal Suriah. Lirik lagu dan latar settingan video ini sangat menyentuh dan dalam sekali, berceritakan tentang seorang ayah yang senang dengan kehadiran sang buah hati -seorang bayi laki-laki- di dunia, kemudian sang ayah mendidiknya dengan giat dan tekun, dari kecil hingga dewasa ia mengajari segala ilmu kehidupan untuk anak tersayangnya itu. Klimaks kebahagiaannya terjadi ketika sang anak akan menikah dengan seorang pendamping dambaan hati, terlihat sang ayah sangat terharu bahagia melihatnya. Sungguh peristiwa yang sangat indah! Bagi saya –yang masih lajang- dalam kisah lagu Kun Jamilan ini menangkap banyak pesan tersirat, di antaranya sang ayah harus mendidik anak-anak dengan baik sesuai ajaran Islam. Harus diingat, setiap anak mempunyai hak atas ayahnya, sang ayah harus mengarahkan anaknya dengan penuh kasih sayang dan memberikan nasihat yang mengandung hikmah, sebab di dalam Al-Qur’an sudah banyak mengatakan hal demikian. Sangat jelas bahwa dalam agama sudah selayaknya sang ayah memberikan pengajaran terbaik kepada anak-anaknya sesuai dengan kata-kata awal dalam surat An-Nisaa ayat 11. Masih adakah perasaan ragu menyayangi anak-anak? Oh tentu tidak. Sunnah Rasul-Nya pun telah mengakidkan bahwa: “Barang siapa yang tidak mau menyayangi orang-orang yang berada di sekeliling, maka yang di langit pun rasanya enggan untuk menyayanginya”. Ketika mendapatkan kesempatan bertemu anak-anak kecil yang masih balita, seharusnya perasaan kasih sayang harus mengalir begitu saja, seolah mengendus bau harum surga dalam diri mereka. Sebab banyak hadits yang menerangkan tentang keindahan dan kedamaian memberikan kasih sayang kepada anak kecil (bayi) –meski derajat haditsnya masih banyak diperselisihkan ulama hadits-. Sebut saja sebuah hadits fenomenal yang berbunyi: “Bau bayi (anak kecil) berasal dari bau harumnya surga”. Dan hadits lainnya yang mengatakan: “Perbanyaklah mencium –memberikan rasa kasih sayang terhadap- anak-anak kecil (anakmu), karena setiap satu ciuman akan mendapatkan satu derajat di Surga –yang jika dihitung dengan jarak di dunia- berjarak 500 tahun lamanya. Subhanallah, jika dua hadits di atas maknanya ditelaah dengan baik dan seksama maka akan ditemukan makna yang sangat dalam, sangat disayangkan bila kita melewatkannya begitu saja. Mungkin alasan inilah yang menjadikan saya merasa senang bila bertemu anak kecil, meskipun belum ada ikatan tali persaudaraan sebelumnya, atau adakah alasan lain? Tak tahu lah. Yang pasti pertemuan dengan anak-anak kecil (balita) kemarin malam itu saya merasa bahagia, secara bergiliran berkunjung ke rumah tiga orang yang memang sudah direncanakan sebelumnya. Dari mulai bersilaturahim ke rumah Ustadz Nur Rohim -salah satu guru ngaji saya sekaligus Imam Besar Masjid Raya Kota Bekasi-, bercanda dengan Husein anaknya yang masih kecil, karena sudah akrab sebelumnya, saya masih ingat ketika dulu menyetor hafalan ke orang tuanya dengan sergap sang anak –Husein- selalu mengganggu, tak mengapa itulah seni dalam menghafal -ujian konsentrasi-. Kemudian berkunjung ke kediaman salah satu senior almamater yang kebetulan mengkhidmatkan diri di Bank Indonesia sebagai analis bank senior, spesialis review kebijakan dan standar internasional –departemen perbankan syariah, beliau adalah Bang Cecep Maskanul Hakim –biasa dipanggil walid oleh anak-anaknya- dan Ummu Ishmah –sang istri-, mencoba bermain kembali dengan putra bungsunya yang baru berusia satu tahun lebih, si comel Uways Al-Qarny, dan terakhir menghadiri undangan aqiqah Afiqah Reiniza Putri anak dari Imron Rosyadi –aktivis dakwah dan kepanduan, kawan perjuangan sejawat-, Afiqah terlihat “anteng” di pangkuan omnya, bahkan tidak mau dilepas, membuat orang di sekeliling tertawa dan tersenyum, lucu sekali. Jujur, secara pribadi saya sangat gembira bisa bersilaturahim kembali ke rumah orang-orang hebat yang beda profesi tadi, yang paling menyenangkan adalah bisa bermain dan bercanda dengan anak-anaknya, rasanya mempunyai keasyikan tersendiri karena bisa menghilangkan penatnya aktivitas dunia. Semoga Husen, Uways dan Afiqah tumbuh menjadi anak yang saleh, cerdas, dan menjadi pelita bagi kedua orang tuanya serta yang lebih penting lagi adalah mereka bisa lebih sukses dari orang tuanya. Semoga! Pelajaran dan hikmah yang bisa dipetik: Wahai (calon) ayah, sayangilah anak-anak, awasi mereka dan jagalah serta lindungi mereka dari pergaulan yang kurang baik, didik mereka dengan pengajaran yang terbaik dan islami. Sebab kasih sayang dan perhatian seorang (calon) ayah juga sangat mempengaruhi pembentukan karakter anak ke depannya. Catatan penting lainnya adalah sayangilah anak-anak orang lain yang bukan anak atau saudara kita – yang belum ada ikatan persaudaraan secara garis kekeluargaan-, karena siapa yang akan menyangka nantinya dari ketulusan doa mereka segala persoalan hidup kita yang berbelit akan terbuka dengan mudah dan lancar. Keajaiban doa anak yang shalih! Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/12/02/43015/wahai-calon-ayah-sayangilah-anak-anak/#ixzz2wqUTxJPv Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan anda berkomentar, namun tetap jaga kesopanan dengan tidak melakukan komentar spam.