Rabu, 02 Juni 2010

Hidup Hanya Sekali, Teman!

Berusahalah untuk duniamu seakan-akan kau akan hidup selamanya, dan berusahalah untuk akhiratmu seakan-akan kau akan mati besok (al-hadits)

Hadits di atas kena banget untuk diterapkan bagi kamu, saya dan kita semua yang mengaku dirinya muslim. Berusaha untuk dunia itu artinya kamu harus rajin belajar dan bekerja untuk memakmurkan bumi dan seisinya. Bumi butuh ditanami agar tumbuh padi. Bumi butuh dikelola agar menghasilkan bahan baker yang berasal dari gas alam. Bumi dan dunia seisinya ini butuh dikelola agar menjadi tempat yang nyaman untuk tinggal.

Pada saat yang sama, kamu gak boleh lupa sama akhiratmu. Jangan hanya mengejar dunia tapi malah lupa sama akhirat, kampung abadi tempat kembali setelah capek tinggal di dunia.

Pada saat yang sama, kamu gak boleh lupa sama akhiratmu. Jangan hanya mengejar dunia tapi malah lupa sama akhirat, kampung abadi tempat kembali setelah capek tinggal di dunia. Maksudnya kamu harus juga siap-siap bila setiap saat akan dipanggil kembali oleh-Nya alias meninggal. Dunia dan akhirat disebutkan secara seimbang oleh Rasul tercinta supaya kaum muslimin itu gak salah langkah.

Berapa banyak orang yang cinta dunia tapi takut mati. Itu karena dikiranya harta kekayaan dan kepandaiannya bakal bisa menyelamatkan dia dari incaran si maut. Orang seperti ini lupa kalau ajal bisa setiap saat datang tanpa dia bisa menduganya. Biasanya nih orang punya prinsip, hidup hanya sekali jadi kenapa gak dinikmati. Dinikmati dalam hal ini maksudnya adalah digunakan untuk berhura-hura dan berbuat maksiat. Mereka suka menganggap orang-orang yang sibuk ibadah adalah para pemalas dan kalah bersaing di dunia nyata.

Sebaliknya, ada orang-orang tertentu yang sibuk ibadah terus tanpa melakukan amal untuk dunianya. Kerjaannya Cuma sholat terus tanpa mau bekerja, seolah-olah duit bisa turun dari langit. Mereka ini sinis terhadap orang-orang yang giat bekerja seolah-olah itu semua adalah kerjaan sia-sia karena toh dunia tak dibawa mati. Mereka berpendapat bahwa hidup hanya sekali, ibarat musafir yang mampir untuk minum. Jadi tidak perlu menikmati dunia yang hanya sementara ini. Hmm…dua sikap ekstrem satu sama lain yah.

Seorang muslim yang baik, dia tidak akan memilih satu pun di antara dua opsi di atas. Tak ada muslim yang bakal mau memilih dunia saja dengan melupakan akhirat. Dan tak ada juga yang hanya memilih akhirat dengan menafikkan dunia. Muslim yang baik adalah yang memilih pertengahan di antara kedua pilihan tersebut yaitu berusaha di dunia untuk bekal di akhirat kelak.

Islam bukan hanya agama yang ngurusi ibadah mahdhah saja semisal sholat, zakat dan puasa. Tapi Islam juga mempunyai liputan ibadah secara umum yaitu bekerja akan bernilai ibadah bila diniatkan mencari ridho-Nya dan untuk menafkahi keluarga. Belajar yang rajin juga sama, yaitu bernilai pahala bila ditujukan untuk kejayaan Islam saja. Jadi, berusaha untuk dunia, akhirat pun juga dapat hasilnya. Imbang.

Abu Bakar, Umar bin Khatab, Usman bin Affan, Abdurrahman bin Auf dan masih banyak lagi nama-nama sahabat lainnya yang ternyata sangat kaya raya. Uniknya, ibadah mereka juga oke kok sehingga mereka itu pantas dijadikan orang-orang yang dijamin masuk surga. Wih….keren banget kan? Udah kaya di dunia, di akhirat pun masuk surga pula. Ini nih generasi muslim yang bener, yaitu dunia akhiratnya seimbang, gak berat sebelah kayak contoh di atas.

Rasulullah juga pernah mengindikasikan sifat seorang mukmin itu ibarat singa di siang hari dan seperti rahib di malam hari. Maksudnya bila siang, seorang mukmin itu sibuk mencari risky Allah yang halal dengan giat serta memakmurkan bumi seisinya dengan dakwah dan jihad tapi pada saat yang sama ketika malam tiba, maka mereka berubah menjadi ahli ibadah yang khusyuk. Aktifitas siang dan malam saling menunjang untuk sarana meraih ridho Ilahi. Begini ini gambaran seorang mukmin yang ideal, tidak memisahkan dunia dengan akhirat.

Hidup hanya sekali, teman. Kejarlah dunia untuk akhiratmu. Toh, tak ada larangan bagi seorang muslim untuk menjadi kaya, asalkan dengan cara yang halal. Karena sesungguhnya kefakiran itu dekat dengan kekafiran. Jadi, ayo bekerja giat secara halal dengan tidak melupakan akhirat kita! Ini baru namanya muslim ideal. Sip dah! ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan anda berkomentar, namun tetap jaga kesopanan dengan tidak melakukan komentar spam.